Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 58


__ADS_3

"Itulah sebab nya, kau tidak akan pernah pergi dariku sayang, ada atau tanpa Zian!" ujarnya dengan mengangkat sebelah kaki Dita dan menghujamkan senjata miliknya masuk.


"Kau memang bajingan!!!"


Tok


Tok


Suara pintu kamar mandi terdengar di ketuk dari luar, namun tidak serta merta menghentikan kegiatan terlarang mereka, hingga mereka mengabaikannya dan baru keluar dari sana saat semua tuntas.


Pria berpakaian layaknya perempuan itu berdiri dengan melipat tangan didada, wajah ditekuk hingga kebawah serta bibir yang mengerucut.


"Hey ... kau ini memang brengsekk, membuat aku menunggu di depan pintu begini!"


Dita terkekeh, "I'm sorry, Becky!!"


"Kau tahu kan, hari ini ada klien yang menunggumu? Kau malah bermain-main dengan pria tidak bermodal ini!"


Pria yang dia sindir itu mendaratkan bokongnya di sofa, dengan satu kaki yang diangkat menindih kaki satunya lagi. "Diantara pria yang menidurinya, aku lah yang menerima apa adanya, jadi jangan macam-macam, aku bisa membuatmu bangkrut saat ini juga."


Dita mendekati pria yang memegang rahasianya selama ini, dan melingkarkan lengannya, "Sayang, biarkan dia mengoceh! Aku melakukannya untuk masa depan kita bukan!Hem ...."


"Dan kamu harus ingat, aku yang selama ini menutupinya dari Zian, berkali-kali dia meminta laporan keberadaanmu padaku, beruntung kehadiran gadis kecil itu mempermudah jalanku."


"Tapi kau yakin kan Zian tidak sampai menyukainya? Aku takut membayangkan hal itu dan menghancurkan rencana ku! Dari awal aku sudah curiga kalau gadis itu memang bukan keponakanku!"


"Kau tenang saja! Bos Zian tidak menyukai gadis itu, dia hanya menolongnya saja! Aku sudah memberikan foto-foto gadis itu padanya, membuat berfikir dua kali jika akan menyukainya, secara dia tidak suka perempuan jaalaang semacam itu." terangnya lagi.


"Jujurly ... gue gak suka cara lo berkhianat pada bosmu itu! Tapi selama my princes senang, aku akan mendukungmu!" ketus Becky lalu menarik tangan Dita dan membawanya ke kamar.


"Waktunya siap-siap! Kau kembalilah bekerja, kalau bosmu tahu kau itu menghianatinya, dia pasti akan marah!" tunjuknya pada pria yang kini terkekeh penuh kemenangan.

__ADS_1


.


Zian baru saja keluar dari kamar, dan menatap pintu kamar yang biasa Agnia tempati, perlahan dia membukanya lalu masuk.


Kedua manik hitamnya menyapu seluruh ruangan, sepi, tidak ada lagi teriakan dan cacian, padahal baru beberapa jam saja mereka masih terlibat perdebatan, dan kali ini mungkin perdebatan paling besar diantara mereka.


Tiba-tiba Zian merindukannya, dia ingat wajah terakhir yang Agnia perlihatkan sebelum akhirnya pergi, bahkan wangi khas Agnia masih bisa masuk di indera penciumannya.


Zian mengambil botol sabun yang sering dia pakai, lalu menghirupnya dalam-dalam,


Wangi ini rahasiaku, tidak ada yang tahu soal ini kecuali Om, ini campuran sabun hotel dengan esen aroma terapi, dan ini memudahkan aku saat pergi dari rumah, agar terlihat cantik dan wangi.


Dan akhirnya Agnia benar-benar pergi, dari rumahnya, dari hidupnya.


"Aaahhkk!" Teriaknya dengan melemparkan botol itu ke arah cermin kaca, hingga membuatnya retak.


"Untuk apa aku mengingat gadis liar itu!"


Zian kemudian keluar dari kamar dan menuju ke bawah, pandangannya tertuju pada. sekretaris Kim yang tengah melihat foto-foto Agnia yang berserakan di sofa ruang tamu.


"Ada apa? Aku tidak menyuruhmu kemari Kim?"


Kim mengerdikkan bahu, "Aku hanya melihat keadaanmu! Iyan bilang dia sudah memberikan informasi penting padamu, aku kira dia memberikan informasi tentang Dita, ternyata tentang Agnia."


Zian mendaratkan bokongnya di sofa, "Iya ... seperti yang kau lihat! Dia gadis liar yang sudah punya bibit jaa lang sejak dini!"


Kim mendengus, "Bagaimana kalau kau salah?"


"Iyan tidak pernah salah memberiku informasi, begitupun dengan hal ini! Jadi mulai sekarang kau tidak perlu repot-repot membelanya, aku sudah menyuruhnya pergi dari sini."


"Kenapa Iyan cerdik sekali mencari informasi tentang Agnia, tapi begitu bodoh saat menggali informasi tentang Dita?"

__ADS_1


Zian menyandarkan punggungnya, "Sudahlah, kau tidak perlu berlagak so detektif, kita bukan anak kecil lagi Kim!"


"Tapi kau selalu tidak percaya kalau belum melihatnya sendiri bukan? Kenapa kau tiba-tiba percaya pada sebuah foto?"


Zian kembali menegakkan tubuhnya dan menghadap sekretaris pribadinya itu, "Karena aku sudah memastikan ke aslian foto-foto ini!" ujarnya dengan melemparkan foto itu ke udara.


"Kenapa kau semarah ini padanya? Apa kau juga akan mengusir Dita jika dia melakukan hal yang sama seperti ini?"


"Kenapa kau mengusik Dita, kau selalu begitu Kim! Ada masalah apa kau dengan kekasihku? Kau mulai menyukaiku dan merasa cemburu sekarang?"


Sekretaris Kim berdecih, "Aku mengenal mu sejak kecil Zian, aku tahu kau seperti apa! Dan kau juga tahu aku seperti apa, aku hanya bertanya apa kau akan melakukan hal yang sama jika kekasihmu itu melakukannya?"


Zian mendengus, "Anindita itu wanita sempurna, hatinya baik, hingga kariernya melambung tinggi, kau hanya iri padanya kan Ayana Kim?"


"Seperti Agnia yang menuduh Dita yang bukan-bukan! Mengatakan omong kosong kalau Dita sebenarnya tidak berada di New York, melainkan di kota ini! Dia juga iri sama sepertimu."


"Aku tanya apa kau akan melakukan hal yang sma jika Dita seperti Agnia? Jawab saja pertanyaanku yang itu Ziandra?" ujar Kim dengan penuh penekanan.


"Sampai kapan kau akan menutup telinga mu, berapa kali temanmu memperingatimu masalah ini Zian? Kau hanya perlu menyelidikinya sendiri." Kim menghela nafasnya panjang, "Aku pun akan memberikan bukti foto jika kau ingin melihatnya dan percaya padaku!"


Zian tak bergeming, bibirnya kelu dengan apa yang sekretarisnya katakan mengenai kekasihnya itu, memang benar, selama ini dia menutup telinga jika seseorang mengatakan hal tentang Dita. Bahkan Dokter Irsan pun yang berkali-kali memberitahunya.


Zian bangkit dari duduknya, "Jika kau sudah selesai, kembali lah ke kantor! Aku tidak ke kantor hari ini!" ujarnya dengan berlalu bergitu saja.


Dia kembali naik dan masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu dengan keras. Sementara Kim menghela nafasnya berat, kemudian melangkah keluar dengan mengambil beberapa foto Agnia.


Sekretaris Kim masuk ke dalam mobilnya, dia lantas merogoh ponsel dan mendial nomor Agnia, namun tidak diangkatnya juga.


Sementara Agnia duduk termenung di sebuah taman kota, dengan tas besar disampingnya, ponselnya terus saja berdering, namun tak sedikitpun dia melihatnya.


"Agnia ...!!"

__ADS_1


Gadis itu menoleh, dan melihat Regi berdiri dengan nafas tersengal, "Lo ini gimana! gue nyuruh lo nunggu di sana! Gue khawatir nyariin lo ternyata mobil disini! Dasar bandel! lo mau bikin gue jantungan apa?"


Agnia menggelengkan kepala, "Gue cape kali kabur-kaburan mulu!!"


__ADS_2