
Agnia keluar dari ruangan tersebut, begitupun dengan Adam dan juga Regi. Sementara ke 3 teman Regi yang lain, masih berada di dalam.
"Oke Gi ... sampai jumpa pas perlombaan nanti!" Adam mengulurkan tangannya pada Regi, namun Regi fokus melihat Agnia yang terus berjalan.
"Nia Awas!"
Regi berlari ke arahnya dan menarik tangannya, hingga mereka berdua terhuyung dan jatuh.
"Aw...."
"Aghhkk...."
"Gi, lo gak apa-apa kan?"
"Enggak, lo gak apa-apa Nia?" Ucap Regi balik bertanya.
"Sorry Gi, gue gak lihat lubang galian ini!"
Adam menghampiri mereka berdua dan membantu Agnia berdiri, "Lo gak apa-apa Nia? Lo ngelamunin apa sih? Dari tadi lho gue perhatiin lo."
"Gue gak apa-apa!" ujarnya mengibas-ngibaskan roknya yang kotor.
"Thanxs ya Gi, lo udah nolongin cakon pacar gue!" gumam Adam pada Regi yang masih menekuk lengannya.
Calon pacar? Apa mereka sedang pendekatan.
Regi tidak menjawabnya dia menatap Agnia yang mengusap sikutnya. "Nia, sikut lo gak apa-apa kan?"
"Euh ... enggak Gi, cuma memar dikit gak apa-apa! Lo sendiri?"
"Aman ... gue gak apa-apa!" sahut Regi dengan jari telunjuk dan ibu jari yang dibentuk huruf O.
"Baguslah, ayo Nia kita pulang!" ujar Adam yang memperlihatkan wajah tidak senang pada Regi.
Akhirnya mereka pun meninggalkan SMA Nusantara, Adam memberikan helm pada Nia, namun Regi berlari menghampirinya.
"Agnia, bisa kita bicara sebentar?"
Adam berdecak, "Apalagi Gi? Semua udah jelas kan?"
"Adam apaan sih lo?" ketus Agnia.
"Bicara masalah apa ya Gi?"
"Nanti aja lah, nomor lo masih yang lama kan? Entar gue hubungi lo, kalo ngomong sekarang, gue takut ada yang marah!" ucap Regi dengan mendelik pada Adam.
Agnia mengangguk, namun juga mengernyit, "Ya udah, lo hubungi gue nanti ya, gue sama Adam cabut dulu!"
"Oke Nia Bye."
.
.
Adam membawa motornya membelah jalanan, hatinya kini merasa gusar sendiri, dia sudah punya Serly yang dia cintai, namun juga menyukai Agnia dari sejak Agnia mengungkapkan perasaan padanya, dan hari ini dia begitu senang bisa pergi berdua dengannya.
Hingga membuat dirinya tak melepaskan senyuman dari sejak Agnia duduk di belakangnya.
"Dam ... stop!"
__ADS_1
Adam menginjak pedal rem, dan menoleh ke arah belakang, Agnia turun dan melepas helm di kepalanya dan memberikan pada Adam.
"Lo duluan aja, gue ada urusan dulu!"
Adam menerima helm, namun dengan kedua alis mengkerut, "Lo mau kemana? Biar gue anter,"
"Gak usah, lo balik duluan aja!"
Agnia berjalan saat motor yang dikemudikan Adam tidak lagi terlihat, dia sengaja turun beberapa meter dari hotel tempat dia melihat Dita masuk ke dalam.
"Bodoh ... untuk apa aku melakukan ini?" gumamnya.
Namun rasa ingin tahu nya teramat besar, kenapa Dita bisa masuk ke dalam hotel bersama seorang pria yang bukan pacarnya yang bucin itu.
Agnia lalu masuk ke dalam, tanpa tahu harus mencarinya kemana. Hingga dia memutuskan untuk bertanya pada resepsionis hotel.
"Maaf bu, apa ibu bisa menolong saya?"
"Menolong apa ya?"
"Maaf bu, apa di sini sedang ada acara fashion show?" tanyanya.
Wanita dibalik resepsionis itu mengernyit, "Tidak ada dek!"
"Kalau jumpa Fans atau semacam meet n great bersama seorang model?"
"Tidak ada juga Dek, memangnya mau cari siapa?"
Celaka kan kalau aku bilang cari Anindita langsung.
"Eeuhh ... itu bu, aku siswi menengah kejuruan bidng perhotelan, dan guruku memberikan tugas mengenai siapa saja tamu yang kerap datang, khususnya hari ini."
"Mungkin ibu bisa bantu aku dengan memberi tahu siapa saja yang datang hari ini, maksudnya dari kalangan apa saja yang datang hari ini."
"Wah kalau data seperti itu, tentu tidak bisa Dek! Itu sudah menjadi rahasia, kami dilarsng memberikan data pengunjung.
"Dikit aja bu, tolong ... bisa-bisa aku dapat nilai E untuk tugas ini, ibuku yang punya riwayat jantung akan kaget. Gimana kalau terkena serangan jantung!"
"Maaf tetap tidak bisa!"
"Begini saja, saya sebutkan pekerjaan, ibu hanya mengangguk atau menggeleng ya, itu sudah cukup mewakili dari kalangan apa saja yang datang hari ini? Iya bu ... tolong bantu?"
"Apa ada artis yang datang?"
Wanita itu menggeleng.
"Pejabat?"
Wanita itu mengangguk.
"Pekerja buruh harian?"
Wanita itu menggeleng lagi.
"Pemadam kebakaran?"
"Polisi?"
Agnia bertanya dengan cepat, dan wanita itu menjawab dengan cepat.
__ADS_1
"Model terkenal?
Wanita itu mengangguk, "Anindita...."ucapnya terkecoh.
Binggo, benarkan aku tidak salah lihat. Wanita itu memang tante Dita.
"Anindita yang terkenal itu ya, tinggi, ramping, brand amasador produk welly yang mendunia?"
"Betul...."
"Ih ... aku nge-fans lho bu sama dia! Aku mau minta tanda tangan ah!"ucap Agnia dengan sumringah.
"Lebih baik kamu tunggu diluar saja, nanti saya kena masalah jika kamu menunggunya disini!" ucap wanita resepsionis itu
Celaka, aku malah terkecoh dengan pertanyaannya yang cepat itu.
Agnia mengangguk, "Terima kasih atas bantuannya! Aku akan menunggunya di luar, dan aku akan pura-pura tidak tahu." ucapnya terkekeh.
Wanita itu mengangguk lalu duduk kembali,
"Bu kira-kira lama gak ya?"
"Saya tidak tahu, lebih baik kamu pergi!" ucapnya mulai kesal. Membuat Agnia mundur beberapa langkah, namun mengurungkan niatnya untuk keluar. Dia bersandar pada pilar besar di depan resepsionis.
'Sudah aku bilang, laki kau itu bodoh princes. Mau aja dikibulin,'
Agnia menoleh ke arah samping, pria berpakaian bunga-bunga yang tampak menelepon itu menyerahkan kunci pada resepsionis itu.
Membuat Agnia menajamkan pendengarannya.
'Oke oke, aku ada di kamar 234, sebelahmu! Kalau kau sudah selesai dengan si tua itu kau tunggu di kamarku! Aku segera kembali.'
Sesaat mereka beradu pandang, lalu pria itu berjalan keluar dengan gemulai, membuat Agnia merasa ingin muntah saat melihatnya.
Seorang wanita datang dan menyapa wanita yang tengah duduk di resepsionis itu, membuat Agnia semakin yakin.
"Nih nanti ada yang ambil, katanya dia manager model terkenal!" menyerahkan sebuah buku.
"Mungkin mereka tengah bertukar shift." gumam Agnia.
"Aku akan mencoba ke atas, siapa tahu aku bisa menemukannya."
Agnia berjalan masuk, dan melihat seorang office boy yang tengah mengepel lantai, "Maaf kak, kamar 234 lantai berapa yah?"
Agnia mengangguk setelah orang yang dia tanyai itu memberikan informasi, dia pun segera masuk ke dalam lift, dan menekan tombol dengan angka 9.
Ting
Tak lama dia keluar, dan pandabgabnya tepat berada di pintu bernomor 234, "Ini dia!"
Agnia melangkah melewati nomor 235 dan berjongkok, berpura-pura membetulkan tali sepatu miliknya.
"Aku harus gimana setelah ini?" gumamnya kebingungan sendiri.
Tidak ada suara apapun yang terdengar dari sana, membuat Agnia hanya berdiri dan mengamati kedua kamar itu.
Ceklek
Pintu kamar 236 terbuka, seseorang keluar dari sana, namun belum sempat Agnia melihat wajahnya, tangannya merasa di tarik ke belakang,
__ADS_1
"Sedang apa kamu disini?"