Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 144


__ADS_3

Satu porsi spaghetti bolognese, satu porsi kentang goreng saus keju, dan matcha Panna cotta menjadi menu makan siang pilihan Agnia, tidak ketinggalan minuman Boba ukuran besar untuk dia minum.


Zian menggelengkan kepalanya, melihat gadis yang tengah menikmati setiap kunyahan didepannya itu, mulutnya tidak mau berhenti, terlihat jelas sosok gadis yang memang masih seperti anak anak itu.


"Pelan-pelan saja! Tidak akan ada yang merebut makananmu." seru Zian yang hanya menikmati secangkir kopi dan satu buah croissant isi coklat.


Agnia tersipu, namun tidak menghentikan kunyahannya, kedua tangan nya pun ikut sibuk.


"Padahal hanya berciuman, tapi energimu habis terkuras dan kamu makan seperti orang kerasukan, bagaimana jika lebih dari itu...!"


Uhuk


Ucapan Zian sangatlah jelas, membuat Agnia tersedak, dia menepuk nepuk dadanya pelan, Zian menyodorkan air mineral kemasan yang sengaja dia pesan hanya untuk berjaga-jaga jika gadisnya itu akan kesulitan atau tersedak, melihat menu makanan yang menurutnya bahkan tidak sehat itu. Ditambah karena Agnia justru memesan minuman kekinian.


"Nah ... baru aku bilang pesan makanan yang sehat! Makannya pelan pelan Nia!" ujarnya dengan menepuk-nepuk pelan punggungnya.


"Udah jelas-jelas aku tersedak karena ucapan Om ... pake nyalahin makanan lagi!" gumamnya dengan kembali menenggak air putih kemasan botol itu.


"Gara-gara ucapan aku? Yang mana ...?"


"Udah deh ... gak usah norak, kalau Nia laper itu karena dari pagi belum makan, bukan karena melakukan itu ... pake habisin energi, apaan!" kilahnya dengan tersungut.


Zian hanya terkekeh, entah kenapa dia suka sekali melihat Agnia kesal, wajah kesal yang ditekuk itu benar-benar menggemaskan, ditambah lagi bibir kecil merah delima yang kerap menggerutu itu semakin membuatnya lucu.


"Seneng banget lihat aku kesel! Aku kabur lagi tahu rasa Lo!" gumamnya pelan.


Namun gumaman pelan itu masih bisa didengar oleh Zian dengan jelas, seketika wajahnya berubah datar, dengan kedua mata yang menajam.


"Mau coba coba kabur lagi? Hem...?"


Agnia mengerdik, lalu kembali menyendok spaghetti, "Enggak sekarang,"


Zian memanggil waiters dengan lambaian tangannya, walaupun Agnia belum selesai dengan makanannya, dia pun tersentak saat melihat Zian langsung beranjak setelah melakukan transaksi pembayaran.


Gadis itu mengelap bibirnya lalu ikut bangkit dan menyusul Zian yang sudah berjalan keluar.


"Kenapa sih? Marah...?" Agnia menyamai langkah Zian yang keluar lebih dulu


"Tidak ...!" ucapnya dengan menarik pergelangan tangannya. "Aku akan bicara dengan ibumu sekarang saja, daripada kamu nanti kabur kaburan lagi!"


Deg


"Hei ... itu kan bukan ... maksudnya juga gak ...!!"


Zian membuka pintu mobil, "Masuk mobil!"


Wajah Agnia seketika kembali panik, ancamannya kali ini tidak mempan justru malah menyerangnya kembali.

__ADS_1


.


.


Mobil terhenti tepat didepan rumah Agnia, Zian melepaskan seat belt, "Ayo ...turun!"


"Gak mau! Nia gak mau turun!" jawabnya dengan memegang erat seat belt yang melingkari pinggangnya.


Nyalinya menciut seakan Zian akan mengajaknya menikah saat itu juga, dia merasa takut padahal sebelum nya sudah bertekad akan membuat sang Daddy murka dengan melihatnya menikah dengan Zian.


"Ayo Nia!"


Gadis itu menggeleng dengan mengerdikkan bahu, "Kalau gitu jangan pernah mencoba kabur lagi dariku atau aku akan menyeretmu ke kantor catatan sipil saat itu juga!"


Agnia menganggukkan kepalanya, "Nia gak bakal kabur lagi! Kenapa harus kabur?" gumamnya.


Zian tergelak dengan kedua tangan yang berkacak pinggang, "Apa yang kamu takutkan Nia?"


"Sudahlah jangan dibahas lagi! Nia mau masuk ... Bye!" ujarnya dengan berlari begitu saja, masuk kedalam rumah.


Zian hanya berdecak dengan gelengan kepala nya, lalu mengayunkan langkahnya menyusul Agnia.


Laras baru saja turun, dan melihat Agnia berlari masuk kedalam kamarnya, dan melihat Zian yang menyusulnya.


"Tuan Zian? Masuklah ada yang ingin aku bicarakan denganmu!" seru Laras tiba-tiba saat Zian berada diambang pintu.


"Duduklah." tegasnya.


Zianpun duduk, mereka saling berhadapan. Zian tidak tahu apa yang hendak Laras katakan padanya.


"Apa saya boleh bertanya sesuatu?"


"Silahkan Nyonya!"


"Apa kau sejak awal benar-benar tidak tahu jika Agnia itu putri Dave?"


"Tidak ... aku tidak tahu! Kalaupun aku tahu, aku tidak akan mundur, kita tidak bisa mengontrol perasaan kita, entah pada siapa bukan?" jawabnya tanpa basa basi.


Laras menghela nafas, "Tapi dia masih terlalu kecil ... apa kau akan berubah fikiran nanti! Kenapa tidak mencari seorang wanita yang sepantar denganmu saja! Pasti banyak yang menarik perhatianmu bukan?"


Zian menyunggingkan senyuman, "Kenyataannya putrimulah yang menarik perhatianku nyonya!"


"Panggil aku Laras, aku tidak lebih tua dari mu!"


Zian mengangguk dengan pelan, "Baiklah Laras kalau kau tidak keberatan."


Sementara Agnia yang diam-diam menyembulkan kepalanya dari balik pintu, dan terkaget melihat Zian dan ibunya yang tengah mengobrol diruang tamu. Mereka terlihat serius, dan semakin membuatnya penasaran.

__ADS_1


"Gue harus tahu apa yang mereka bicarakan! Apa Om Zian benar-benar bicara sama mommy tentang pernikahan, kenapa gue gak diajak!" gumamnya dengan perlahan keluar dari kamar.


Gadis cantik itu menuruni tangga, mengendap-ngendap mendekati ruangan tamu, dan bersembunyi dibalik pintu yang sengaja dibiarkan terbuka.


"Kau memang selektif Zian, aku saja sempat kau tolak!"


"Benarkah? Aku tidak ingat." kata Zian dengan dahi yang berkerut.


"Mereka ngomong apaan sih? Gak mungkin kan mommy pernah nyatain cinta dan Om Zian menolaknya?" gumam Agnia yang bersembunyi di balik pintu, mencuri dengar obrolan mereka.


Merasa semakin penasaran Agnia pun mencari alasan untuk bisa masuk, dia pun berlari ke dapur.


"Bi Yum ... bi Yum, buatin minum buat mommy dan Om Zian ya!"


"Non ... oh beres Non."


Dengan cekatan Bi Yum membuatkan dua cangkir kopi untuk tamu dan juga majikannya,


"Bibi bawa ke depan dulu yaa non,"


"Eeh ... jangan bi, biar Nia aja yang bawa! Bibi bisa istirahat atau apa gitu ya!"


Bi Yum mengulum senyuman, dengan menyerahkan nampan berisi cangkir kopi kepadanya. "Baiklah ... tapi non hati-hati bawanya, jangan sampai kena tangan, itu masih panas lho Non."


"Beres Bi ... Nia bisa kok!" ujarnya dengan keluar dari dapur.


Agnia masuk kedalam ruang tamu, namun dirinya harus kecewa karena ternyata Zian sudah tidak ada,


"Sayang, Zian baru saja keluar!" kata Laras yang masih terduduk disofa dengan mengotak ngatik ponsel miliknya.


Agnia pun menyimpan nampan diatas meja, "Dia bicara apa sama mommy tadi?"


"Tidak ada! Hanya urusan pekerjaan,"


Ih kok malah pekerjaan sih, katanya bahas masalah pernikahan. Agnia membatin.


"Cuma pekerjaan aja Mom?" tanyanya kembali.


Laras mengangguk, "Iya hanya itu,"


"Mommy gak pernah suka kan sama dia?"


Laras mengernyit, "Menyukai sebagai apa?"


Agnia akhirnya mendaratkan bokongnya di sofa, tepat disamping sang ibu, "Nia tadi gak sengaja denger kalau dia nolak mommy dulu!"


"Ya ampun sayang, dia aja bahkan tidak ingat hal itu!"

__ADS_1


"Jadi bener? Mommy sempet suka sama dia? Kenapa mommy gak cerita sama Nia?"


__ADS_2