
Author sebelumnya mau minta maaf, bab sebelumnya kena review mulu dari kemarin, sehari semalam beuh bikin kesel kan...hehehe ...maaf juga hanya bisa up 1 atau 2, semoga bulan depan bisa kreji up. Lope lope semua.
.
.
Agnia menghela nafas, "Tapi bener yah cuma nemenin doang makan dan tempatnya gak di hotel?"
Cecilia mengangguk, "Iya gue janji, ini cuma makan dan ngobrol doang."
"Ya udah, tapi kali ini aja, itu juga karena Lo sakit, lain kali gue gak mau!" ujarnya tegas.
Cecilia memeluknya dari belakang, "Makasih Nia, lo emang baik banget, kita ke apartemen aja langsung Nit, biar Agnia siap-siap dari apartemen kita."
Nita pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mengarah pulang ke apartemen milik mereka berdua, Cecilia merasa tenang, karena Agnia mau menggantikannya hari ini. Dia pun menyandarkan punggungnya dengan menahan rasa sakit di perutnya.
Tak lama kemudian mereka sampai, Agnia keluar dari mobil begitu juga Nita yang membantu Cecilia berjalan.
"Lo mending ke rumah sakit deh, biar tahu Lo sakit apa Cecil."
"Gak usah lebay deh, gue cuma kram perut bulanan doang!"
Nita mengentakkan tubuh Cecilia begitu saja, "Elah ... gue kira kenapa, jadi bukan kita yang lebay, tapi lo Ce!" Mereka bertiga pun tergelak.
Cecilia yang dipapah Nita masuk kedalam lobby apartemen, sedangkan Agnia mengekor dari belakang dengan terus mengotak-ngatik ponsel.
"Aku bilang apa, lebih baik kita pergi jauh, aku masih mampu menghidupimu Dit."
"Iyan ... harus aku bilang berapa kali? Aku membutuhkan Zian, bukan hanya hartanya, dia yang membuat aku berada di dunia modeling dan melesat tinggi, aku harus baik-baikin lagi, aku gak mau kalau dia sampai bikin karierku hancur. Kamu faham bukan?"
Agnia terpaku ditempatnya setelah melihat keduanya yang masuk ke dalam lift, "Itu kan Dita dan asisten pribadinya Zian?"
Cecilia menghentikan langkahnya lalu mengernyit melihat Agnia yang hanya diam, "Lo kenal mereka? Model terkenal, dan juga pacarnya?"
"Pacarnya?"
"Huum ... mereka udah tinggal bareng dari lama! Lo kenal?" timpal Nita.
Agnia melanjutkan langkahnya, "Gak kok gak kenal, cuma pernah lihat aja!"
Berarti selama ini Dita ada main sama asisten pribadinya, mereka gak punya hati apa ya, ngeri gue ... tapi emang bodoh si Zian, gak jauh beda nasibnya sama gue, di khianati sahabat sendiri, tapi bedanya dia itu bodoh.
"Ya udah ayo, Lo mau ikut mereka atau ikut kita?" Ajak Cecilia dengan meringis.
.
.
Setelah cukup lama beristirahat, akhirnya Agnia bersiap-siap, dengan memakai dress selutut dan riasan wajah yang tampak lebih dewasa dari usianya, sedangkan Nita tengah memoles lipstik di bibirnya.
Dreet
__ADS_1
Drett
Ponsel Agnia menjerit-jerit diatas meja, "Angkat dulu Nia, ponsel lo!" ujar Nita menghentikan kegiatannya, Agnia yang tengah duduk pun menyambarnya, dan mengangkat telepon dari Regi.
'Kenapa Gi?'
'Astaga ... Lo dimana Nia? Kenapa belum balik ke apartemen?'
'Heh ... gue lupa ngabarin lo apa ya, gue ada urusan dulu Gi! Palingan malem gue balik.'
'Lo bikin gue khawatir tahu gak!'
'Iya sorry Gi ... !'
'Ya udah, kabarin gue kalau mau balik, gue jemput Lo oke!'
Tut
"'Halo Gi ... halo? Lah maen matiin aja! Gue belum selesai ngomong."
Agnia kembali menyimpan ponselnya, Nita yang tengah membantunya mengernyit, "Siapa Gi? Cowok lo Nia?"
"Bukan ... temen gue! Lo pada juga kayaknya udah pada kenal," ujarnya dengan merapihkan dress nya.
"Sempurna, lo cantik banget Nia! Pangling gue."
"Gue mah udah tahu Agnia itu cantik banget, apalagi kalau nerima job kek gini, laku pasti,"
Cecilia terkekeh namun kembali meringis dengan tangan yang memegangi perutnya.
"Ya udah gih buruan, entar lo telat lagi." seru Cecilia, "Gue udah kirim alamat sama foto orangnya ke ponsel Lo."
.
.
Agnia turun dari taksi yang membawanya ke sebuah alamat, Cecilia benar, alamatnya bukan hotel, melainkan sebuah kafe yang cukup besar, namun juga tidak terlalu ramai. Agnia menarik nafas berkali-kali.
Kali ini, gue hanya berniat bantu, semoga gak terjadi apa-apa dan juga cepet kelar. harapnya dalam hati.
Dengan langkah gontai, dia masuk kedalam kafe tersebut, dimana didalamnya hanya ada beberapa orang, Agnia mengedarkan kedua matanya, mencari sosok yang akan di temuinya.
Sosok pria berumur dengan perut membuncit tengah menatap Agnia dengan kagum. Lalu berdiri.
"Kau yang akan menggantikan temanmu?" Agnia menoleh dan kedua netranya beradu, Ya ampun, udah setua ini masih belum juga tobat!
Agnia mengangguk, "Iya Om ...!"
"Ayo duduk, aku sudah pesan makanan, kita makan dulu setelah itu kita jalan ke mall," ujarnya tanpa basa-basi.
Agnia menguap beberapa kali, mendengar kisah pria tua bernama Ali itu, dia menceritakan perjalanan hidupnya selama ini, pertemuan dengan kekasih hati sekaligus istrinya yang sudah meninggal.
__ADS_1
"Bosen ya denger kakek-kakek bercerita?"
Agnia membentuk garis dibibirnya, "Enggak kok kek eeh om...."
Pak Ali terkekeh, "Aku hanya kesepian, kadang hanya butuh teman untuk bercerita, ketiga anakku sudah besar dan tinggal diluar negeri semua, aku tinggal seorang diri, dengan asisteen rumah tangga dan juga supir." ujarnya dengan helaan nafas panjang.
Membuat Agnia terdiam, mungkin tidak semua sugar Daddy berbuat seno noh, ada juga yang hanya kesepian.
"Saya rasa kamu berbeda dengan teman-temanmu yang lain, mereka lebih agresif dalam berbicara juga memancing, tapi kamu tidak,"
Iyalah jelas beda, gue bukan kayak mereka fikir, walaupun gue sekarang ngelakuinnya juga karena terpaksa.
"Bagaimana kalau kita jalan ke mall, apa kamu suka shoping?"
"Enggak Om ... aku gak terlalu suka shoping, tapi sepertinya aku gak bisa lama-lama."
"Waktumu sampai jam 10 malam, dan sekarang baru jam 7 malam, setelah itu kau boleh pulang, aku akan mengantarkan mu!"
"Kau jangan khawatir, aku akan memberimu hadiah spesial, karena hari ini menemaniku."
Agnia menghela nafas, dia hanya mengangguk lemah,
"Kalau gitu kita pergi sekarang?" Agnia kembali mengangguk, mereka pun perlalu dari kafe itu, seorang supir pribadi tergopoh-gopoh memapah pak Ali.
Harus nya dia mencari baby sister gak sih,
Saat keluar dari kafe itulah, Agnia melihat seseorang yang amat dia kenal yang baru keluar dari mobilnya.
Deg
"Mati gue semoga dia gak ngenalin gue!" Ujarnya menundukkan kepalanya.
Zian berjalan kearahnya, dengan sorot mata menajam ke arah Agnia.
"Ayo pergi denganku!" Teriak Zian dengan rahang yang mengeras, dia mencekal lengan Agnia dengan cepat.
"Hei ... anak muda! Dia kemari bersamaku, dan akan kembali bersamaku!"
"Heh pak tua, apa kau tidak punya kaca dirumah? Sudah tua masih saja bermain-main dengan wanita! Kau seharusnya ingat umur!"
Pak Ali memasang senyum di bibirnya, dan menatap Agnia,
"Aku akan membayarmu 10 kali lipat, berikan dia padaku!"
"Maaf aku tidak butuh uangmu!" seru pak Ali.
Kedua tangan Agnia menjadi rebutan, hingga dia meringis karena tarikan dari kedua pria disampingnya.
"10 kali lipat! Bagaimana?"
Pak Ali terlihat diam, membuat Agnia berlari menjauh, "Kalian fikir aku barang!"
__ADS_1
Namun Zian berlari dan berhasil menangkap tangannya, "Jangan lari atau kau akan menyesal."