Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 185


__ADS_3

Agnia sendiri meracau, niatnya untuk menghambat pergerakan dari Zian justru dia lupakan, yang tersisa hanya rasa penasaran yang kembali menyerangnya, dia merasakan suasana yang kembali membawanya terbang hanya dengan sentuhan demi sentuhan serta benda basah yang membelit didalam rongga mulutnya, terus bergerak hingga menimbulkan suara decakan demi decakan yang memabukkan. Perlahan Zian membawanya ke atas ranjang dengan hati hati tanpa menghentikan tautan dibibirnya.


"Kau suka?" tanyanya dengan tersenyum.


Sialan pertanyaan macam apa itu? Batin Agnia namun otaknya ternyata tidak lagi sinkron dengan tubuhnya, hingga dia mengangguk kecil. Zian tersenyum, dia kembali Melu matt bibir Agnia, kali ini sedikit berbeda, ciuman lembut mulai berubah menjadi ganas, dia mela hapnya dengan rakus dan berkali kali membe litkan lidahnya, namun juga berhenti sebentar hanya untuk membiarkan sang istri mengambil nafas, sementara tangannya terus bergerak menyisir kulit yang kini mendesir hebat.


Bibir Zian turun, kali ini menge cap leher Agnia lembut, turun dan semakin turun, membuat Agnia kembali bergelin jangann. Perlahan lahan membuka pakaiannya sendiri hingga menyisakan kain penutup nya saja.


Dada Agnia semakin bergemuruh, sensasi yang membuatnya hampir gila karena ternyata sangat memabukkan dan dan membuatnya hilang akal atas kendali gerak motoriknya.


Dengan lihai tangan Zian bergerak hingga berhenti di pusat area inti miliknya, bergerak lambat hingga membuat Agnia terbuai, tak hanya disitu, pria yang berpengalaman soal ranjang itu terus menyisir setiap bagian tubuh Agnia yang tidak paham soal hal yang hanya dia lihat di internet secara sembunyi sembunyi. Bibir Zian terus bergerak turun, masih dengan kecupan kecupan manis setiap tempat dan meninggalkan tanda kemerahan dimana mana.


"Aaa aahkkk!!!"


Tangan Zian menyibakkan sedikit kain penutup berwarna pink yang masih dikenakan Agnia, dengan lembut mengecapnya perlahan lahan, Agnia tersentak dan menahan kepala Zian, dia sangat malu bahkan berulang kali menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa apa! Ini tidak akan sakit!" gumam Zian dengan suara serak.


Gadis itu semakin tersentak saat sesuatu yang lembut perlahan naik turun menyusuri daerah paling inti di tubuhnya, dan desiran semakin dahsyat saat lidah Zian bergerak di area pusat inti miliknya, menyentuhnya dengan sangat lembut tanpa rasa jijik, menceecapnya hingga berkali kali Agnia merasakan ada yang berdenyut hebat disana.


"Aaaaahkkk ... sialan! Kau membuatku gila Nia!" umpat Zian saat merasakan hal berbeda dibawah sana, bukan hanya hal ini yang pertama baginya karena mendapatkan seorang gadis yang belum sama sekali tersentuh tangan.


Gerakan indera pengecapnya semakin lincah, mengobrak abrik apa yang ada didalam sana, sementara tangannya memegangi satu kaki Agnia dan tangan yang lain mengerat dipinggangnya.


"Sss sssh!!"


Agnia berdesis, dia mencengkram kain sprei dengan kedua mata yang kerap mengerjap, merasakan satu hal yang menurutnya luar biasa, bergelinnjangan dengan nafas yang kian memburu.


"Apa kau menyukainya?" Zian bertanya hal yang sama, pertanyaan bodoh yang seharusnya tidak perlu dia pertanyakan.


"Kau ingin mencoba yang lain?"


Belum sempat menjawab, tangan Zian bergerak searah dengan lidahnya, bergerak lambat di pusat inti.


"Aaaahkkk ... apa yang kau lakukan ... ini sangat gila!" gumam Agnia.


"Kau suka Honey?" ujarnya dengan menatapnya nanar.


Bukan hanya sangat gila, ini benar benar gila ...


"Ini belum seberapa sayang!" Zian kembali menenggelamkan kepalanya dibawah sana, dengan jemari yang menari nari lembut disana, membuat gadis tanpa pengalaman itu kembali mele nguh.


"Aaah ... shitttt! Aku tidak bisa menahannya lebih lama Nia. Kau membuatku gila!"


Dia merobek kain penutup terakhir begitu saja, menatapnya secara keseluruhan benda paling inti yang membuat jantungnya berpacu hebat, lalu melepaskan kain penutup miliknya sendiri.

__ADS_1


Dalam pencahayaan redup dari lampu tidur, keduanya saling menatap dengan tatapan nanar, dengan tangan saling menggenggam erat, dan tersenyum tipis.


"Ini akan sedikit sakit pada awalnya saja!" ucapnya dengan suara semakin berat.


"Hah ...!!"


Nafas Agnia semakin berat dengan dada yang turun naik, saat Zian kini berada diatas tubuh poloss nya. Dirinya sedikit kesulitan mencari sesuatu yang indah yang sesaat lagi akan diteguknya.


"Sss hhhh aaahhkk ... shittt Nia ...! Honey! Ooh ... sempit sekali!" racaunya dengan terus mencecap benda bulat dan tetap berusaha mencari jalan dibawah.


Agnia memejamkan mata, ujung sprei sudah menggulung karena dia mengenggamnya semakin erat.


"Aaaa ahhh!!"


Tok


Tok


Tok


Pintu terdengar di ketuk, bukan ketukan yang terdengar lembut, namun ketukan yang terdengar seperti sebuah kegilaan.


"Zian...!"


"Zian ....!!"


"Zian keluar lah, Nia ... ada kebakaran!! Dimana kau simpan kau simpan tabung APAR( Alat pemadam api ringan)" Teriak Dave panik.


"Kebakaran!!" Seru Agnia mendorong dada Zian yang saat itu sudah hampir menemukan jalan dan tinggal melesat masuk.


"Shitttt!!! Ayahmu benar benar pengacau honey!"


"Tapi Daddy tidak mungkin berbohong kan Om!" seru Agnia melompat turun dari ranjang.


"Hei ... pakai bajumu dulu!" Ucap Zian yang fikirannya kini tidak karuan.


Dia merasa ini hanya akal akalan Dave belaka, yang sengaja mengganggunya. Agnia terlihat panik, hingga dia memakai piyama yang berada paling dekat dengannya.


Sementara Zian hanya memakai celana dan menyambar bathroom yang bergantung.


Agnia membuka pintu dan mendapati Dave ayahnya berdiri dengan kedua mata yang memicing. Menatap piyama dengan ukuran besar yang dikenakan putrinya, bahkan terlihat seperti sebuah dress yang hanya sebatas paha.


"Daddy! Dimana kebakarannya?" Agnia keluar dan melihat ke seluruh ruangan yang bahkan tidak berubah sejak dia masuk kedalam kamar.


Disusul oleh Zian yang hanya memakai bathroom dari arah kamar.

__ADS_1


"Ini pasti ulahmu Dave!" tunjuknya di dada Dave dengan mendengus.


"Tidak ... aku mendengar bunyi sirine dari mobil pemadam kebakaran, aku lihat api membungbung tinggi di belakang sana, aku takut api membesar hingga kemari! Jadi aku butuh alat tabung hidran untuk berjaga jaga." terang Dave yang membuat Zian membola tajam.


"Kau gila Dave! Alasanmu sungguh tidak masuk akal," Zian kesal bukan kepalang, bahkan kini kepalanya merasa berdenyut hebat karena lagi lagi dia harus gagal menuai rasa yang berbeda dari sosok Agnia.


"Itu benar Zian! Aku tidak mengada ngada."


Zian mendengus lalu mengayunkan kakinya masuk kedalam kamar, menutup pintu kamar dengan keras, dan membuat tubuh Dave berjingkat, sementara Agnia menggelengkan kepalanya, dia juga merasa ayahnya kali ini benar benar keterlaluan.


"Daddy ... jangan main main lagi! Pergilah istirahat.


"Nia ... Daddy memang tidak mengada ngada, kebakaran itu sangat dekat dari sini! Bagaimana kalau kita terperangkap dalam api." terangnya dengan bergidig membayangkan rumah keluarga Maheswara dilahap si jago merah.


Sementara Zian menyambar ponsel miliknya dan mengetikkan sesuatu di pesan singkat di aplikasi ponselnya. Setelahnya itu dia melemparkan ponselnya diatas ranjang begitu saja.


"Dave memang pengacau! Apa dia lupa rumah ini dipasangi sistem alarm kebakaran yang akan berbunyi jika ada pemicunya walaupun sangat kecil!" ujarnya dengan meraup wajahnya kasar.


Bagaimana dia tidak kesal, saat kegiatannya kembali gagal seperti malam ini. "Sial padahal tadi tinggal sedikit lagi! Dia harus pergi segera mungkin dari rumah ini! Kalau tidak dia akan kembali membuatku gagal."


Agnia kembali masuk, dan melihat Zian tertunduk lesu ditepian ranjang.


"Are you Ok?"


Zian menggelengkan kepalanya perlahan, "Daddymu mengacau terus!"


"Maaf ...!"


"Bukan kau yang seharusnya minta maaf honey! Kamu tidak salah ... Dave lah yang kurang ajar!" ujarnya dengan mengecup tangan Agnia,


"Tidurlah! Besok kau harus pergi sekolah!" Zian bangkit dari duduknya lalu masuk kedalam kamar mandi. Setelah itu dia memastikan Agnia sudah naik ke tempat tidur.


"Aku akan ke ruangan kerjaku dulu! Kau tidur saja duluan!" Zian menarik selimut dan menutupi tubuh Agnia, lalu mengecup keningnya.


Setelah itu barulah Zian keluar. Dia turun kebawah dan mencari Dave, dan ternyata Dave baru saja masuk kedalam rumah dengan tabung hidran yang dia bawa.


"Apinya sudah padam, ternyata tabung sekecil ini tidak membantu sama sekali! Petugas pemadam api mempunyai alat yang lebih canggih dari pada ini!"


Bugh


Zian memukul Dave tepat dia wajahnya. "Terserah kau saja Dave! Asal jangan menggangguku!"


Dave memegangi rahangnya, "Hei ... kenapa kau memukulku Zian!"


Namun Zian enggan menjawab, dia masuk kedalam ruang kerja dan menutup pintu dengan keras. Sementara Dave masih terpaku ditempatnya dengan terkekeh.

__ADS_1


"Aku berhasil lagi Zian!"


__ADS_2