Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 224


__ADS_3

Zian membuka pintu kamar, lalu membawa Agnia duduk di tepi ranjang. Lalu Zian berjongkok, membuka jaket yang dikenakan Agnia dengan mulut terkatup. Agnia tertunduk hingga kedua matanya menatap wajah suaminya yang tetap terdiam.


Ada rasa bersalah dalam hati Agnia, merasa dirinya menyimpan kebohongan, namun juga tidak punya keberanian untuk mengatakannya langsung.


"Apa filmnya seru?" Tanya Zian saat melepaskan jaket milik Regi.


"Ya ...!"


"Film apa yang kalian tonton?"


"Horor, judulnya kekasih di alam kubur." jawab Agnia dengan cepat, melihat pergerakan Zian yang menyimpan jaket Regi di sofa.


"Pasti seru!" Agnia mengangguk, mengikuti kembali pergerakan Zian yang kini mengambil pakaian Agnia didalam lemari pakaian, juga pakaian pribadi miliknya. Melihat hal itu, Agnia bangkit dari duduknya, dan dengan cepat menyambar kain tipis berwarna pink dari tangan Zian.


"Biar aku aja sendiri yang ambil!"


Namun tangannya masih kalah cepat dengan Zian, hingga kain tipis itu mengudara dalam genggaman tangan Zian.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh menyentuhnya? Aku bahkan sudah melihat isinya." ucapnya dengan datar.


Dia kenapa sih? Sikapnya aneh banget.


"Aapaan sih! Itu kan ...."


"Kau duduk saja! Biar aku yang menyiapkannya, kau istriku dan hanya aku yang bisa mengurusmu." kata Zian menohok, Agnia hanya terdiam, bahkan saat Zian kembali menyentuh kedua bahunya dan membawanya duduk di sofa.


"Dan bukankah kau seharusnya lebih menurut padaku karena aku suamimu! Bukan yang lain."


"Apa sih!" gumam Agnia, Zian masuk kedalam kamar mandi, mengambil air hangat kedalam wadah lalu kembali kembali keluar.


"Tapi aku bisa melakukannya sendiri."


Zian masih terdiam, dia memeras lap yang terendam air hangat lalu memberikannya pada Agnia. Gadis berambut panjang itu mengambilnya, lalu mengelap wajahnya.


"Aku akan mengambil air jahe untukmu!"


Namun Agnia mencekal pergelangan tangannya, disertai gelengan kepalanya.


"Jangan!"


"Kenapa? Aku hanya akan mengambil air saja! Nanti aku kembali."


"Gak mau!"

__ADS_1


Zian mengernyit, "Kenapa? Kau membutuhkanku?"


Agnia semakin heran dengan perubahan Zian yang tiba tiba, Apa jangan jangan dia melihat Regi, atau bahkan melihatku saat bersama Regi.


"Kenapa bicaramu seperti itu? Nia emang membutuhkanmu, kau fikir siapa yang aku butuhkan saat ini?"


"Benarkah? Kenapa kau masih tidak menurut padaku! Aku mengijinkanmu pergi karwna kau bilang akan menonton Nia! Bukan pergi ke karaoke, bukankah seharusnya kau pulang setelahnya. Dan salah minum tidak akan terjadi jika kau pulang."


Hati Agnia sedikit lega, perubahan Zian hanya karena dia kesal karena Agnia pergi ke karaoke, hatinya mencelos tiba tiba.


"Kenapa? Apa karena kau takut aku melarangmu?"


"Enggak ...!"


"Lalu? Kenapa kau tidak mengatakannya sebelumnya,"


Katakan gimana, orang nomor dia aja baru aktif! Nyebelin banget, marah marah gak jelas.


Namun mendebatnya lagi bukan hal yang bagus, dia sudah lelah dan ingin segera tidur, alih alih melawan, lebih baik merayunya.


"Sayang aku minta maaf! Nia janji gak bakalan ngelakuin hal itu lagi," Ujarnya dengan jari telunjuk dan jari tengah mengacung membentuk huruf V. "Kedepannya, Nia akan bilang sebelumnya, kalau perlu sehari sebelumnya, atau sebulan sebelumnya, atau setahun sebelumnya!" Gigi putih berderet rapih kini terlihat.


Zian mendengus, dengan menarik lembut hidungnya, "Dasar gadis liar, kau itu mengeyel namanya."


Agnia melingkarkan tangan di seputaran pinggang suaminya itu, dia faham sekarang, menghadapi Zian itu dengan kelembutan, juga sedikit rayuan saja. Sifat Zian yang penyayang dan sedikit mesum, akan berubah menjadi keras dan kejam jika dihadapi dengan keras juga.


"Gak ngeyel kok! Nia akan benar benar menurut pada suami mesum Nia ini! My hubby."


Zian mengulas senyuman, "Kau paling bisa membuatku tidak jadi marah."


Agnia mengangkat kepalanya, "Oh jadi tadi marah ceritanya? Maaf yaa ..."


Zian mengangguk, "Kau harus membayar dendanya!"


"Denda apa ih? Nia mau tidur, besok pagi ujian sekolah my hubby."


Zian menatapnya, menelisik ke dalam kedua mata Agnia seolah mencari tahu kebenaran ucapannya. Agnia mengerjap, lalu dengan secepat kilat dia mengecup bibir Zian lalu melompat naik ke atas tempat tidur dan masuk kedalam selimut.


"Kau tidak berganti pakaian?"


"Nanti saja! Nia ngantuk banget." ujarnya dibawah selimut, kemudian Zian menyimpan pakaiannya di atas meja. Lalu menghampiri sang istri, pria itu ikut naik keatas ranjang.


.

__ADS_1


Sementara ditempat lain, Serly berdiri di depan pintu berwarna coklat, hampir sepuluh menit dia menunggu pintu tersebut terbuka dengan terus menekan bel dipintunya. Hingga akhirnya datang seseorang yang melihatnya dengan kedua mata terbelalak.


"Serly? Sedang apa kau disini?"


Serly menoleh ke arah belakang, tenyata siempunya rumah baru tiba.


"Om Dave?"


"Ada apa? Seharusnya kau dirumah dan belajar, bukankah besok ujian sekolahmu."


"Hm ... aku hanya ingin memberikan ini! Ini makan malam yang aku siapkan sendiri." ujarnya dengan menyerahkan boks makanan yang bertingkat tiga.


Dave mengambilnya, "Kenapa kau repot repot menyiapkannya, juga kemari hanya untuk mengantarkannya."


Mereka berdiri berhadapan di depan pintu, Dave tidak ingin membuka pintu karena takut Serly akan ikut masuk.


"Om tidak menyuruh aku masuk? Biar aku siapkan makan malamnya." tawar Serly tidak tahu malu.


"Maaf Serly, tidak perlu ... aku bisa melakukannya sendiri. Dan sekarang sudah malam! Kau sebaiknya pulang." jawab Dave menohok, dan dia hanya berdiri, tanpa ingin membuka pintu apartemen, dia ingin menunggu Serly pergi, baru setelahnya dia akan masuk.


"Aku ingin ikut ke toilet Om!" Serly masih mencari alasan agar dia bisa masuk kedalam.


"Oh gitu ya! Kalau begitu tunggu sebentar."


Ucap Dave dengan kedua mata yang berkeliaran seperti sedang mencari seseorang. Namun keadaan apartemen itu terbilang cukup sepi, tidak ada orang lain terlihat, dan satu satunya cara yaitu hanya membuka pintu, dan membiarkan Serly masuk.


"Om ... bisa cepetan gak, aku gak kuat nih!"


Dave masih terlihat celingak celinguk mencari orang yang bisa membantunya, hingga dia akhirnya menyerah dan membuka kunci pintu.


Serly mengulum senyuman, melangkah masuk ke dalam Apartemen sederhana itu.


"Toiletnya disebelah sana," Dave menunjuk arah lurus,


Serly mengangguk, dia lantas berlari ke arah yang Dave tunjuk dan menghilang di balik pintu kamar mandi. Pria berumur 37 tahun itu menghela nafasnya kembali, lalu meletakkan boks makanan bertingkat tiga itu di atas meja makan. Dia sendiri masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaiannya.


Dave membuka lemari pakaiannya, mengambil t-shirt yang terletak di paling atas, namun tiba tiba dia tersentak kaget saat merasa ada sebuah tangan melingkari pinggangnya. Dave menepiskannya dengan cepat lalu membalikkan tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan Serly?"


Serly mengulas senyuman, "Aku menyukai Om Dave, sejak kejadian malam itu aku tidak berhenti memikirkan om Dave."


"Kau gila Serly!"

__ADS_1


"Kenapa? Memangnya salah? Bukankah putri kesayangan Om saja menyukai pria yang bahkan usianya jauh."


"Dengar Serly ... lebih baik kau pulang! Lupakan malam itu, tidak terjadi apa apa di antara kita.


__ADS_2