
Hidup itu kan seperti jalan tidak selalu mulus tidak selalu juga jelek.
Akan ada yang bagus setelah jelek dan akan bahagia setelah derita.
Sama hal nya dengan perasaan tidak selama nya perasaan benci akan terus benci, seperti lagu bukan ya benci jadi cinta.
Seorang gadis cantik lagi malas malasan di atas tempat tidur yang tidak mewah tapi tidak juga sederhana hanya saja pas tidak terlalu jelek.
"Hah kalau di turuti gue bisa mati bosan tapi kalau ngak di turuti dia ngamuk lagi.
Punya kakak satu tapi mulutnya seperti mak mak rempong,"
Masih terngiang sama Indah pembicaraan sama kakaknya lewat telpon semalam yang mewanti wanti buat Indah fokus kuliah saja sebab dia sudah mau menyusup skripsi dan persiapan wisuda beberapa bulan lagi.
"Tuh kakak satu rese tau ngak, tau apa gue betah juga kerja sana ngak ada buat masalah nah tiba tiba nyuruh berhenti.
Perlu di servis tu kepala,"
Terus aja Ndah ngedumel sedang kan orang nya tidak ada buang buang tenaga dan waktu.
Berjalan keluar kamar.
"Ibu,"
Rengek Indah pada Ibu yang lagi santai selesai beres beres rumah.
"Kenapa lagi Ndah?"
Jika sudah merengek maka pasti nanti akan ada aduan yang tidak jauh.
"Kakak tuh bu, masa tiap telpon nyuruh Indah berhenti kerja terus ngak ada pembahasan yang lain apa.
Indah bosan tau bu dengarnya,"
Adu Indah yang belum mau berhenti kerja.
Indah sudah berencana berhenti dari sana saat kuliah selesai dan mencari pekerjaan yang sesuai jurusan dia yaitu management akuntan.
"Turuti aja napa sayang, kakak benar dia ingin kamu fokus kuliah dulu setelah tamat baru cari kerja lagi,"
Ibu saja sampai mendukung saran kakak jadi sekarang Indah minta bantuan sama siapa lagi.
Ibu di kasih apa sama kakak sampai mendukung kakak dari pada Indah.
"Ibu mulai ngak asik,"
Indah beranjak dari sana berjalan keluar buat cari angin.
Yah angin di cari buat apa coba mau masuk angin atau kekurangan angin biar kembung.
Indah berjalan menyusuri dari gang ke gang hingga sampai di sebuah taman di ujung perumahan tempat tinggal Indah.
Taman sederhana yang cukup terawat serta asri.
"Ibu mah ngak ada niat dukung sama sekali apa, orang kalau anak kerja di dukung ini malah berhenti kerja yang di dukung.
Kayak nya kepala Ibu mulai kerasukan seperti dia.
Awas aja pulang nanti aku bejek bejek,"
Geram indah lalu duduk di kursi taman.
__ADS_1
Apa yang salah Indah kerja cuma ngisi waktu luang saja, lagian sekarang jam ngampus tidak padat lagi hanya beberapa lagi tidak sibuk juga.
"Ah sudah lah,"
Sudah lah apa ini? sudah lah turuti aja atau sudah lah biar dia berkata apa, seperti lagu dong.
Indah duduk sendiri di sana tidak mengajak Ines pergi sebab sudah keburu bad mood tadi.
"Hy sendiri aja?"
Sapa seseorang yang datang langsung duduk di samping Indah tanpa permisi.
"Menurut lo?"
Judes Indah yang kehadiran orang itu tidak di ingin kan.
Lagian sudah nampak sendiri malah nanya lagi siapa yang tidak ketus coba.
Bertanya itu dan pertanyaan yang bener maka orang dengan senang hati juga buat menjawab.
"Yah mbak cantik cantik kok galak,"
Tidak jera rupanya di jutekin ya.
"Emang dari lahir,"
Wah rasa percaya diri mbak patut di kasih nilai seratus.
"Kenalin nama saya Farid,"
Oh Farid to teman nya Frans tapi kenapa dia sendiri aja biasa nya berdua.
"Ngak nanya,"
"Jangan jutek jutek mbak nanti suka lo,"
Goda Farid pada Indah.
"Iya suka banget malahan, suka nabok kalo liat lo.
Udah sana pergi lo disini bikin mual tau,"
Usir Indah pada Farid yang belum beranjak juga.
"Ya mbak belum saya apa apain udah mual aja,"
Sumpah demi si upin dan ipin yang sampai sekarang belum ada rambut Indah pingin rasa nya memukul orang yang tidak peka ini.
Plis pergi cepat dari sana sebelum Indah keluar taring dan mencabik cabik mulut lemes cowok ini.
"Pergi ngak sekarang sebelum lo nyesel,"
Ancam Indah yang mulai melancarkan aksi.
"Pergi ngak?"
Ulang Indah tapi tidak di gubris.
"Ok kalo lo nantangin.
Tolong,,,tolong,,, ada yang mau perkosa gue tolong,"
__ADS_1
Teriak Indah kencang hingga beberapa pengunjung melihat ke sumber suara dan mendekati.
Dan Farid yang ketakutan berlari dari sana sebelum kena amuk warga.
Berlari sekencang mungkin supaya tidak tertangkap dan jadi bulan bulanan warga.
"Gila tuh cewek nekat juga dia rupanya,"
Menarik nafas dalam dan mengontrolkan detak jantung yang berdetak cepat bagai di kejar orang gila.
"Kenapa lo?"
Frans datang dimana Farid lagi mengatur nafas agar normal kembali.
Farid sudah berdiri dekat mobil nya yang terparkir dekat swalayan taman.
"Di kejar warga,"
Jawab Farid dengan nafas masih tersengal.
"Kenapa bisa? lo nyuri,"
Pengen getok tuh mulut lemes amat ya.
"Lo liat dan perhatikan apa tampang gue ada tampang maling atau penjahat apa? suka seenaknya lo ngomong.
Gue tadi rayu cewek eh malah jawab nya ketus terus pas dia ngusir gue gue ngak mau malah teriak dia kalau gue mau perkosa dia.
Gila ngak menurut lo,"
Jelas Farid dengan nafas yang tidak beraturan.
Kalau sampai tadi ke tangkap maka katakan selamat tinggal pada wajah tampan yang nomor dua itu.
"Kurang kerjaan banget lo tau ngak, udah ayo balik lo yang nyetir,"
Masuk mobil duluan dan duduk di samping kemudi sebab mereka datang satu mobil dengan alasan jalan jalan.
"Lo kira gue supir apa?"
Tidak terima di suruh bawa mobil sebab tadi juga sudah.
"Lebih lo jadi supir dari pada perkosa anak perawan orang bakal panjang urusannya.
Udah bawa aja ribet lo kayak mak mak beli cabe,"
Dengan berat tangan eh berat hati Farid lagi membawa mobil itu meninggalkan tempat kenangan pahit bagi Farid.
Kenangan yang sampai kapan pun akan jadi memori berkesan di kepala Farid, dengan tampang gagah malah di tuduh mau cabulin anak gadis orang.
Coba tanya dunia apa pantas dia di tuduh seperti ini,sungguh kejam.
Sebab fitnah lebih kejam dari pada nyuri eh pembunuhan.
Sial banget sih gue hari ini, wajah ganteng pari purna gini malah di tuduh berbuat cabul.
Kalau tau gini mending gue culik sekalian tadi supaya apa yang di tuduh jadi kenyataan.
Ish sial, awas tuh cewek kalau ketemu lagi gue perkosa beneran.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc.