
Agnia mencekal lengannya, dia takut jika berada di pinggir jalan yang sepi itu sendirian,
"Jangan Gi ... gue ikut! Gue ... gue takut!" Ucapnya dengan memijit pelipisnya,
"Mendingan lo muntahin semua Nia, biar perut lo juga enakan! Kepala lo pasti pusing, lo sodok pake jari lo aja biar semua keluar."
Agnia mengangguk, dan melakukan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Regi, dan berhasil muntah kembali!"
"Perut gue udah enak kan Gi!"
"Ya udah ayo, tapi lo yakin udah gak apa apa?" Kedua tangan Regi terulur untuk mengancingkan jaket jeans miliknya yang dipakai oleh Agnia.
"Gue udah gak apa apa, tapi kepala gue masih sedikit pusing Gi!"
"Ya udah, kita cari minum ya!"
Agnia dan Regi kembali melaju di atas motor sport merah. Ternyata yang tadi siang di depan sekolah itu beneran Regi. Kenapa Gi, lo masih aja baik sama gue! Padahal gue udah nyakitin lo.
Setelah mendapatkan air mineral untuk Agnia, Regi benar benar membawa gadis berambut panjang itu mengelilingi kota, agar angin malam membantu efek alkohol yang dirasakan Agnia hilang.
"Gimana sekarang? Lo masih pusing?" Regi sedikit menoleh ke arah samping, memastikan Kedua mata Agnia terbuka lebar.
Agnia mengangguk, "Emang gue mabok ya tadi? Parah banget, gue kira yang gue minum itu orange juice. Pantesan rasanya beda."
Regi mengangguk, terlihat dari helm nya yang bergerak ke atas dan ke bawah, selain itu bibirnya terangkat sedikit mengingat ciuman pertamanya sekaligus akan menjadi ciuman terakhir baginya. Senyuman itu dengan cepat menghilang, berganti dengan helaan nafas panjang. Sementara Agnia merasakannya dibelakang karena posisinya tengah memeluk Regi.
Gadis itu tertegun dengan apa yang dia ingat, bagaimana dia dalam keadaan setengah sadar menciuum bibir Regi, hingga Regi membalasnya, Agnia memejamkan kedua matanya, dia tidak ingin mengingatnya kembali, namun entahlah, perasaannya bahkan tidak menolak ingatan itu, semakin dia memejamkan mata, semakin dia mengingat kesalahan itu.
__ADS_1
Ting
Pesan singkat masuk ke ponsel Regi, dia menepi sebentar untuk memastikan jika. pesan yang masuk saat ini adalah pemberitahuan berkaitan dengan Zian, dan benar saja, pesan singkat dari Nita agar dia cepat kembali.
"Suami lo lagi jalan ke mall, kita balik ke mall ya." ujar Regi dengan nada lirih, inikah saatnya dia akan benar benar melepaskan hatinya pada Agnia, menguburnya dalam dalam, walau pasti kenangan diantara mereka berdua tidak akan lekang oleh waktu.
Agnia mengangguk, sekali lagi merekatkan pelukannya, karena dia tahu ini akan jadi pelukan terakhirnya, walaupun harapannya masih terlalu besar jika hubungan pertemanannya dengan Regi yang baik hati tidak akan berubah.
Sementara Cecilia berdiri di depan pintu masuk basement mobil, tempat parkir di mall itu yang dikhususkan untuk mobil, hampir setengah jam Regi membawa Agnia pergi, dan baru saja Nita menelepon jika ponsel Zian sudah aktif, kemungkinan pria itu tengah dijalan menuju ke mall. Hal yang sama dirasakan oleh Nita, dia menunggu di pintu masuk karaoke menunggu Regi dan Agnia kembali dengan perasaan tidak karuan, tak jarang dia terhenyak saat melihat pria masuk atau pun keluar dari lift dan berjalan ke arahnya.
"Regi cepetan anjim! Lo bikin gue kesiksa." gumamnya dengan terus mengigit kuku kuku jarinya.
Sedangkan Zian melajukan mobilnya seperti orang kesetanan, dia merasa keputusannya memberikan waktu pada Agnia pergi bersama teman temannya adalah salah besar, terutama pergi dengan kedua teman yang dia sendiri tahu bagaimana mereka. Ponsel yang baru saja dia charger, dia hidupkan, dia membuka beberapa pesan dari Agnia, salah satunya terlihat dihapus, karena saat di baca terasa ganjal, untuk memastikannya dia menelepon namun yang mengangkat justru Nita.
Gerahamnya bergemelatuk dengan keras seiring tangannya semakin kuat mencengkeram kemudi mobil. Melaju tanpa menghiraukan jalanan yang sedikit ramai pada saat itu, dia ingin segera sampai dan melihat Agnia.
Zian mempercepat langkahnya, dia masuk kedalam pintu basement dimana Cecilia justru bersembunyi. Dia terus melihat ke arah tempat parkir motor yang berada di sisi sebelahnya, namun kehadiran Regi maupun Agnia tidak juga terlihat.
"Sialan ... Regi lo bawa kemana si Nia! Mampus kita semua, kalau Zian tahu Nia gak ada di atas."
Zian menaiki eskalator, karena perlu berjalan jauh jika ingin menggunakan elevator yang berada dibelakang sisi yang lain, namun dengan begitu Zian harus menaiki empat tangga eskalator untuk sampai ke lantai empat, dimana tempat karaoke berada sesuai apa Nita katakan padanya ditelefon.
Cecilia berlari saat melihat motor sport merah yang membawa Agnia, wajah nya terlihat sangat panik.
"Nia ... cepet, Zian udah masuk!" Dia menarik tangan Agnia untuk segera berlari masuk, namun Agnia berbalik ke arah Regi dan memeluknya terlebih dulu.
"Thanks ya Gi! Maafin gue!"
__ADS_1
Regi memeluknya kembali, "Udah sana masuk! Jangan bikin suami lo khawatir! Dan jangan sembarangan minum oke?"
Agnia terkekeh, lalu dia dan Cecilia langsung masuk kedalam, memilih berlari menuju elevator, dan langsung memasuki kotak besi itu. Sementara Regi menghela nafasnya panjang.
"Gimana keadaan lo Nia?"
"Gue udah apa apa, walaupun gue masih sedikit kleyengan tapi gak apa apa Ce ... thanks ya!" Tangannya terulur pada Cecilia, gadis berambut pirang itu menyambutnya seraya mengangguk, "Santai Nia ... kita bestfriend!"
Lift terbuka, langkah kedua gadis lebih cepat menaiki elevator dibandingkan dengan eskalator, namun Zian baru saja menginjak lantai empat lalu masuk ke tempat karaoke bertulisan karoeke family itu, di dalamnya banyak hal hal yang seharusnya dilarang ada disana karena tempat karaoke itu biasanya dikhususkan gadis gadis belia yang menjadi pemandu lagu juga minuman beralkohol ada disana.
Sepasang sepatu menghentak lantai, pria berumur 34 tahun itu melangkah dengan pasti, dengan mata tajam mencari gadis yang telah menjadi istrinya itu. Melewati lorong yang terdengar sunyi namun kelap kelip lampu terlihat di jendela kaca berukuran tidak lebih dari 15 centi yang terdapat pada pintu pintu room.
Pria itu langsung berjalan kearah dimana toilet berada, dengan pandangan yang dia tajam kan, menyisir lorong demi lorong guna mencari istrinya.
Nita melihatnya dari jauh, dia sedikit takut jika Zian marah dan sudah pasti akan melarang Agnia berteman dengannya juga Nita. Namun dia lebih takut lagi jika Zian justru sampai melihat Regi ada disana, apalagi mengetahui jika Regi dan Agnia berciuman.
"Mana Nia?" tanyanya dengan suara bariton yang keras, kemarahannya terlihat jelas dari cara dia menatap Nita yang hanya terdiam mematung.
"Mana Istriku?
.
.
.
Othor ikut deg degan deh! Takut ketahuan ... gara gara si Cecil sama si Nita panik tuh, othor kan ikut panik. wkwkkwkw
__ADS_1
Lanjut besok yaa readers terlope lope ku.