Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 255


__ADS_3

"Sebentar! Apa disini hanya aku yang tidak paham dengan apa yang kalian ributkan?" tanya Carl dengan menatap Dave dan Zian yang masih tetap berdiri.


"Dave?"


Desis Zian dengan wajah datarnya, dia bahkan tidak peduli pada Carl yang masih penasaran dengan apa yang terjadi. Hanya pandangannya saja yang masih setia menantap keduanya.


Dave menghela nafas, dengan mencondongkan tubuhnya, kedua lengannya ditarik ke depan dengan bertumpu pada kedua pahanya.


"Aku memang tahu rencana dia untuk pergi! Kami sempat bertemu dihari yang sama saat dia memutuskan pergi keesokan harinya!" Terang Dave, dia masih mengingatnya dengan jelas karena hari itu juga hari dimana memutuskan keluar dari rumah Zian.


"Kau tahu kemana dia pergi?"


Dave menggelengkan kepalanya, "Aku sudah mendesaknya! Aku juga dengan senang hati menawarkan diri untuk pergi dengannya. Tapi dia tidak ingin aku ikut." Dave kembali menghela nafas nya lagi, "Kau tahu Zian? Lebih baik jika dia pergi saja. Agar dia bisa melanjutkan hidupnya tanpa menjadi bayang bayang dalam kehidupanmu." sambungnya lagi menohok.


"Apa maksudmu?"


"Benarkan apa yang aku bilang Zian? Aku mengenal banyak wanita dan aku tahu bagaimana mereka." tukas Carl yang kini mulai paham apa yang ceritakan.


Zian menoleh ke arah sosok pria yang lebih tua 10 tahun darinya itu.


"Apa maksudmu Carl?" tanya Dave.


"Kau lebih paham Dave! Jangan berpura pura seolah kau tidak tahu apa apa disini! Aku tidak bisa kau bohongi Dave!" ujar Carl lagi.


Dave tergelak, dia menyodorkan lima jari yang terbuka ke arah Carl. "Kalau begitu kau sama denganku Carl!"


Carl terkekeh, dia menepukkan jarinya pada jemari Dave dengan keras. "Aku lebih beruntung! Tidak bangkrut seperti kau Dave!"


"Sialan kau!"


Zian kini duduk, mencoba mencerna apa yang di ucapkan Dave juga perkataan dari Carl jika wanita perfeksionis itu bukan patah hati pada kencannya yang tidak pernah berhasil, atau pada pria yang dia coba cari di situs situs kencan online atau pada Dave yang seorang cassanova. Namun pada dirinya yang selama ini tidak menyadarinya sama sekali.

__ADS_1


Perasaan yang tidak bisa di paksakan, nurani yang tidak bisa di atur pada siapa cinta akan berlabuh, bahkan pertentangan batin pun tidak akan masuk pada logikanya, tidak juga bisa disalahkan karena cinta itu sendiri yang memilih tempatnya tumbuh.


"Harusnya kau faham sekarang!" ujar Dave mengeluarkan kembali suaranya.


Zian masih terdiam, dia tidak menyangka sama sekali Kim memiliki perasaan lebih dari sekedar saudara padanya. Mereka hidup bersama sejak kecil, bahkan kakek Mahesa tidak pernah membeda bedakan mereka.


Karena itukah kau pergi Kim, kau tidak ingin menyakitiku juga Agnia. Jadi lebih baik kau yang pergi. batin Zian.


Rasa peduli dan kasih sayang Zian untuk Kim tidak pernah bisa berubah, hanya Kim yang menemaninya sejak sang kakek meninggal, dia sudah Zian anggap sebagai saudara sendiri, dan betapa nestapanya Kim jika selama ini menahan perasaan yang tidak akan pernah bisa terbalaskan.


Dave dan juga Carl terus berbicara soal pekerjaan, sementara Zian masih terdiam dan sibuk dengan fikirannya sendiri. Ucapan ucapan Kim dan perlakuannya yang baru dia sadari jika itu semua didasari oleh cinta yang berbeda rasa.


"Kenapa? Kau masih belum percaya apa yang aku katakan ini Zian?" tanya Carl. "Bukankah itu lebih baik! Kau juga kan sudah menikah! Atau jangan jangan kau juga pe---"


"Tutup mulutmu Carl! Aku tidak akan membiarkan Zian menyakiti putriku, jika itu terjadi aku akan membuat perhitungan denganmu."


"Kau fikir aku seperti itu? Aku tidak akan mengikuti jejakmu Dave! Kau ingat itu." ucap Zian lalu beranjak dari duduknya. "Nia sudah masuk ke universitas unggulan, dia ingin memberi tahumu agar kau ikut senang dengan pencapaiannya. Pulanglah Dave! Jangan membuatnya khawatir." ujar Zian berjalan keluar.


Dave berdecih, "Menantu macam apa itu? Dia benar benar tidak menghormatiku sebagai ayah mertuanya."


Carl kembali terkekeh, "Menantumu sangat keren Dave! Kenapa kau tidak meminta bantuannya saja dari awal dan bekerja sama dengannya dalam bisnismu ini! Kulihat dia tidak akan menolakmu."


"Jangan gila Carl! Dia memang sahabatku tapi dia juga menantuku! Mau disimpan di mana mukaku jika aku meminta bantuannya!"


"Kau masih tetap payah Dave! Kau terlalu memasang tinggi gengsimu itu."


"Shutt up Carl!"


.


Zian menuruni tangga darurat itu dengan cepat, dia tidak ingin berlama lama membuat Agnia khawatir, terlebih beberapa pesan masuk yang masih dia abaikan dari tadi.

__ADS_1


'Tidak usah khawatir baby! Ayahmu baik baik saja!'


Rentetan pesan dari Agnia yang menanyakan perihal Dave hanya dibalas dengan singkat dan jelas. Bahkan dia mengetikkan pesan itu dengan terus berjalan turun.


Walaupun fikirannya kini dipenuhi oleh rasa yang tidak bisa dia ungkapkan begitu saja. Namun dia yakin Kim akan bisa menyelesaikan masalah hatinya sendiri, walaupun dia harus pergi terlebih dahulu.


Kim ... dimanapun kau berada, aku yakin kau bisa mengerti dan kau juga akan kembali sebagai saudaraku.


Zian masuk kedalam mobil, melaju dari gedung perusahaan Dave dengan cepat. Sementara Carl turun tidak berapa lama darinya.


Sepasang mata melihatnya dari kejauhan, dengan segelas kopi yang masih mengepul di tangannya, melihat dengan jelas kepergian Zian dari sana, dan disusul oleh Carl yang juga pergi.


Setelah melihat keduanya keluar, dia meletakkan gelasnya lalu beranjak pergi. Dia keluar dari tempat persembunyiannya selama beberapa minggu ini, dan berjalan kearah masuk ke dalam gedung milik Dave.


Dia menekan satu tombol yang berada di dekat pintu lift dan seketika lampu gedung itu menyala, dengan lift yang mulai berfungsi dengan baik.


Dave berdecak di dalam ruangannya, setelah mendapati lampu lampu menyala terang dan kedua matanya menatap ke arah pintu.


satu


Dua


Tiga


Pintu itu terbuka, wanita yang memakai piyama santai bermotif flower berwarna biru itu melangkah masuk.


"Kenapa? Kau masih penasaran dengannya?" tanya Dave tanpa basa basi lagi. "Dia kemari mencariku! Karena Agnia yang khawatir dan tidak menemukanku berada di apartemen! Bukan mencarimu Kim!" sambungnya lagi. Membuat Kim yang kini berdiri didepannya berdecak pelan.


"Bukankah sudah aku katakan kalau pergi dan bersembunyi itu tidak akan menyelesaikan apa apa Kim! Kau hanya harus terus melangkah dengan pasti. Sudah berapa kali aku katakan padamu Kim! Kau tidak ingat apa yang terjadi padaku! Pecundang Kim!"


Kim masih terdiam, dia masih menatap Dave dengan tatapan yang sulit di artikan.

__ADS_1


"Apa hanya kau satu satunya wanita yang tidak punya air mata?"


__ADS_2