
Kantor F'Corp.
"Kenapa lo senyum senyum masuk ruangan gue?"
Tegur Frans yang melihat Farid masuk ruangan dengan senyuman tidak lepas dari wajah tampan setelah Frans itu.
"Kayaknya gue jatuh deh Frans,"
Ambigu gitu dia bicara, jatuh apa? jatuh dari got atau jatuh dari tangga.
"Jatuh apa? kalau mau jatuh ayok sini gue dorong lo dari atas gedung ini,"
Hanya melengkapi ucapan jatuh Farid tadi tidak ada maksud lain dan siapa tau Farid butuh orang buat menjatuhkan dia lalu Frans dengan senang hati membantu.
"Jatuh cinta pe'a, lo jadi sahabat ngak ada senang nya kalau gue bahagia,"
Kesal Farid lalu berdiri dekat jendela ruangan Frans lalu melihat ke bawah.
Bergidik sendiri kalau itu terjadi, akan jadi apa badan dia sampai bawah.
Jadi peyek, pepes atau lebih parah jadi bubur mengingat ruangan Frans terletak di lantai paling atas gedung ini.
Frans yang melihat aksi Farid buka suara.
"Kenapa? lo mau coba biar tau rasanya?"
Usul Frans yang tidak masuk akal sama sekali, dia fikir nyawa bisa di ajak becanda apa dan ingat nyawa tidak ada di jual di rumah sakit kecuali sesak nafas maka ada solusi.
Bicara suka ngajak gelud tuh mulut.
"Makasih kalau mau lo aja, kasian jodoh gue kalau di tinggal sendiri ntar dia merana,"
Tolak Frans dan duduk kembali di sofa.
Gila saja usulan mainstream itu.
__ADS_1
Belum merasakan indah dunia masa mau minggat saja.
Kalau jodoh dia di ambil orang enakan orang itu.
"Terus lo gimana? ngak tertarik sama cewek malam itu?"
Indah maksud Farid walau dia tidak tau nama tapi cantik juga dan di rasa mereka cocok.
"Apa an gadis itu, masa manggil gue om kapan gue nikah sama tantenya coba,"
Dengus Frans kesal jika ingat saat indah manggil dia om.
Say hellow mana ada om om yang tampan gini.
Ada yang salah sama mata tuh cewek.
"Sama tuh teman dia juga manggil gue om, kan gue lebih cocok jadi suaminya ketimbang om,"
Ih kesal saja jika mengingat satu kata itu.
Cibir Frans mendengar kepedean Farid.
"Emang iya,"
Tidak dapat mengelak memang itu yang Farid ingin kan dan akan sangat senang jika di terima.
Kampus.
Sudah seminggu sejak kejadian dimana Frans meminta eh bukan meminta tepatnya tapi memaksa Indah menjadi kekasih pura pura Frans hanya karena untuk menolak perempuan yang dulu pernah mengisi relung hatinya.
Indah dan Ines sudah kuliah seperti biasa dan lagi berada di kampus lagi istirahat setelah mengikuti kelas pagi.
Ya sejak berhenti kuliah Indah mengambil kelas pagi agar tidak selalu pulang malam.
"Oh ya Ndah Om yang waktu itu tampan juga ya?"
__ADS_1
Ines masih membayangkan wajah tampan Farid saat di antar pulang apa lagi satu mobil lagi dan motor Ines di bawa orang suruhan Farid.
"Om? yang mana?"
Indah tidak ingat dan baginya juga tidak penting mengingat sesuatu yang tidak di anggap hanya kebetulan.
"Itu loh Ndah Om yang narik lo waktu di restauran malam itu,"
Ines saja masih ingat jelas masa Indah sudah melupakan gitu saja, kan tampan.
"Gila kan Ndah tampan gitu, udah punya pasangan belum ya kalau belum gue mau Ndah jadi pasangan dia, sumpah,"
Jangan lebay Nes dia juga ogah sama kamu kali dan juga mikir buat milih kamu jadi kekasih.
Tapi kalau jadi pembantu mungkin dia ngak akan mikir dua kali langsung terima.
"Dianya yang ngak mau Nes, tau diri dikit napa,'
Jahat seharusnya sebagai sahabat mendukung, apa tidak senang sahabat punya pasangan tampan dan juga di lihat dari mobil yang dia gunakan dia sudah mapan.
Tidak salahkan kalau berharap lebih dan bisa memperbaiki nasib serta keturunan.
" Asal lo tau ya ngak ada yang berani nolak pesona seorang Ines, ingat itu.
Dan awas aja nanti kalau gue yang lebih dulu melepas masa jomblo ini lo akan gigit jari jomblo sendiri,"
Seharusnya dukung keinginan Ines buat dapat cowok impian bukan sebaliknya.
"Iya iya semoga lo berjodoh sama om lo itu,"
Doa Indah yang terbaik buat sahabat terbaik nya itu.
"Lo juga Ndah, semoga jodoh sama om lo itu,"
Doa balik Ines agar dia tidak sendiri punya pasangan om om.
__ADS_1
Bersambung.😘