
Keesokan pagi
Suara riuh kelas setelah ujian hari pertama berakhir, mereka bersemangat mempersiapkan diri untuk menyambut masa depan. Begitu juga Agnia, gadis dengan rambut panjang yang digulung ke atas, lalu dia merentangkan tangannya ke atas, badannya terasa pegal, terutama di bagian betisnya. Akibat kebodohannya semalam.
Serly menoleh ke arahnya, lalu bangkit dan berjalan ke arahnya, namun langkahnya terhenti saat Cecilia dan juga Nita masuk.
"Nia ... gimana tadi? Gue gak yakin nih sama jawaban gue."
Agnia menatapnya dengan tertegun, bukan Serly yang bicara, namun Cecilia yang berjalan masuk ke dalam kelas, sementara Serly menatap ketiganya lalu kembali duduk di bangku nya sendiri.
"Hah ... kenapa? Lo gak belajar emangnya semalam?" Sahut Agnia, padahal bukan hanya Cecilia dan Nita yang merasa tidak yakin dengan jawabannya, tapi dia juga merasakan hal yang sama, jangankan belajar, buka buku saja baru sempat saat di meja makan.
"Enggak belajar gue!" Cecilia duduk di samping Agnia, sementara Nita duduk dibangku depan dengan menghadap ke arahnya.
"Bego ... mana sempet belajar, kita pulang aja jam berapa? Ya kan, belum pegel pegel nih badan gue." tambah Nita.
"Sorry yaa guys, gara gara gue bego semalam! Kalian jadi gak bisa belajar." Ujar Agnia dengan wajah yang ditekuk, dia benar benar merasa bersalah pada kedua sahabatnya.
"Gak usah ngerasa salah gitu Nia! Si Nita emang gak pernah belajar!" Cecilia tergelak, sejurus kemudian Nita menoyor kepalanya dengan gelak tawa lebih keras.
"Sialan lo! Katanya rahasia, lo umbar juga!"
Agnia ikut tertawa, dengan gelengan kepala, "Sama sama bego kalau gitu! Kalian katanya mau lulus terus kuliah bareng gue,"
"Yoi seru ya kita se universitas nanti! Minimal ada hal baik yang kita lakuin ya gak Ce?"
"Lo aja ... gue udah baik kok!"
Mereka tertawa lagi kali ini sampai terpingkal, hal itu membuat Serly terus diam diam melirik mereka, kemudian menyambar tas miliknya lalu keluar dari kelas.
"Hari ini kita kemana?" Tanya Nita menunggu Agnia selesai memasukkan buku kedalam tasnya.
"Heh jangan ngaco lo! Kita masih ujian!" Sahut Agnia menutup resleting tas miliknya.
"Tau nih ... Si Nita emang bego!"
"Eh ... kayak lo gak mau aja sih Ce! Lo ngomong begitu cuma didepan Nia doang kan!"
Agnia hanya menggelengkan kepalanya llau bangkit dari duduknya. "Yuk ah!"
Kedua gadis mengikutinya dengan terus berdebat di sertai suara cekikikan. Nita menyamai langkahnya, lalu merangkul Agnia.
"Suami lo gak marah kan?"
Agnia mengedarkan pandangannya, takut takut ada yang mendengar ucapan Nita, "Enggak kok! Dia cuma kesel gara gara kita karaoke,"
"Itu doang?" tanya Cecilia yang kini juga menyamai langkah Agnia dan juga Nita.
__ADS_1
Agnia mengangguk, "Huum ... itu doang kok! Abis itu gue langsung tidur!" Ujarnya dengan apa adanya, karena itu lah yang terjadi.
Cecilia menarik tangannya hingga terduduk di kursi dekat ruangan laboratorium, "Sini lo, duduk dulu!"
"Apaan sih?"
Nita mengikutinya dengan duduk dan mengapit posisi Agnia menjadi di tengah. Gadis berambut pendek itu menyipitkan kedua matanya. "Lo inget gak lo semalam gimana?"
Agnia terpaku, dengan mulut merapat. Ingatannya berputar kembali pada kejadian semalam, kesalahan dan kebodohannya namun juga entah kenapa dia tidak ingin mengaku bersalah.
"Woi ... ngelamun lo!" Nita menyenggol lengannya, dengan herdikan bahu menatap Cecilia, "Lo tenang aja Nia, rahasia lo aman! Ya gak Ce?"
"Sialan kalian berdua!"
"Gue gak tahu yang lo rasain pas nyium Regi, gue gak bisa bilang apa apa." Cecilia mengusap bahu Agnia.
Jangankan lo Ce ... gue sendiri aja gak bisa paham kenapa gue ngelakuin hal itu.
"Tapi yakin lo gak ketahuan suami lo?"
"Gue harap dia gak tahu aja deh!" gumam Agnia, "Dan cuma kalian kan yang lihat?" sambungnya lagi.
Tak lama Zian keluar dari ruang guru, dia melihat mereka bertiga dan berjalan menghampirinya.
"Nia ... kita pulang?"
"Ce ... Nit, gue duluan ya!" Ujarnya dengan melambaikan tangan.
Keduanya ikut melambai, dengan terus melihat ke arah sahabat serta suaminya itu sampai mereka masuk ke dalam mobil.
"Masa sih Zian dengan gampangnya dibodohi?" Gumam Nita saat melihat Zian yang masuk ke dalam mobil.
"Kayaknya dia gak pinter pinter amat Nit masalah hati atau bisa juga dia mah simple orangnya, kecuali kalau dia ngeliat pake mata kepalanya sendiri." jawab Cecilia dengan hasil pengamatannya bak seorang propesional yang mengerti sifat dan watak seseorang.
"Lo kalau ngomong udah kayak yang bener aja Ce!" Nita bangkit dari duduknya, berjalan begitu saja meninggalkan Cecilia.
"Eeh... malah ditinggal."
.
Sementara Zian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, melaju dengan kedua tangan menggenggam erat stir kemudi.
"Gimana tadi? Bisa...?" tanya Zian yang menoleh sebentar lalu kembali ke ruas jalan.
"Bisa dong! Ya walaupun Nia gak yakin jawabannya bener atau salah."
"Kok gitu? Itu sih namanya tidak yakin dan optimis Nia!"
__ADS_1
"Habisnya, Nia kan semalam ketiduran, dan baru buka buku pas mau pergi, pas dimobil justru malah sarapann jadi benar benar hanya buka buku aja."
Zian mencubit lembut pipinya, "Dasar tukang jawab, ada saja jawabannya!"
Agnia mengulum senyuman, "Istri siapa dulu dong!"
"Istri aku lah!"
Gadis itu tertawa saat mendengar jawaban Zian.
"Semangat baby ... hari ini kamu benar benar harus belajar giat! Biar lulus lalu kuliah." seru Zian menekan pedal gas dengan kakinya.
"Emang harus ya teriak gitu?".
"Harus dong! Aku juga begitu saat kelulusan sekolah dan hendak ujian masuk universitas dulu."
"Sama daddy?"
"Tidak ... Daddy mu keburu pergi kan, aku sama Kim, hanya saja kami berbeda jurusan."
"Bukannya sekretaris Kim seusia Daddy ya? Kok bisa sama gitu?" Agnia menatap Zian yang juga menatapnya dengan senyuman.
"Hm ... kita beda jurusan, juga beda tingkat, Kim itu lebih dulu lulus, lalu dia bekerja sebagai dosen di universitas dan menjadi dosenku. Jadi selain di kampus, kami juga belajar dirumah."
"Hm ... gitu yaa! Berarti sekrearis Kim itu pinter kan ya?" Tanya Agnia dengan antusias.
"Hem ... dia bercita cita jadi dosen dari sejak kecil! Dan akhirnya kerwujud baik."
Agnia meengangguk, "Bener banget! Terus kalau Om dulu cita citanya apa waktu kecil apa?"
"Apa ya? " Ziaan terlihat berfikir, sedetik kemudiaan menatap wajah sag istri.
"Masa lupa sih? Biasanya kan kita suka maaih inget cita cita masa kecil."
"Aku memang sering lupa akhir akhir ini, hanya satu yang gak bisa aku lupa."
"Apa?"
"Jadi jodohmu Baby!"
.
.
.
...Om napa om !!! dih ... norak banget deh Om, nia mau tertawa sampe ditahan tuh,...
__ADS_1