Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 50


__ADS_3

Flashback On


Selepas memutuskan sambungan telepon dengan Dita, Zian membaringkan tubuhnya di ranjang, Bibi pelayan rumah mengantarkan makanan namun Zian enggan memakannya, dia pun menelepon sekretaris Kim dan menyuruhnya untuk datang.


"Agnia mana bi? Kol tidak ada?" tanya sekretaris Kim saat tiba di rumah Zian.


"Non Nia tadi pamit ke sekolah! Tadi juga non Nia yang bilang kalau tuan tidak ikut turun untuk sarapan, lalu pergi sekretaris Kim."


"Kesekolah? Anak itu kan sedang di skors, kenapa malah datang disekolah?"


"Bibi tidak tahu sekretaris Kim, non Nia tidak bicara apa-apa pada bibi, hanya bilang itu saja!"


"Sepertinya ada yang tidak beres!" gumam Kim.


"Hubungi dia Bi, suruh pulang! Aku harus membawa Zian ke rumah sakit." ujarnya dengan berjalan masuk ke kamar Zian.


Pelayan rumah terlihat diam saja, pasalnya dia sendiri tengah bingung meneleponnya, membuat sekretaris Kim menoleh, "Pakai ponsel milik Zian!"


Setelah mendengarnya, baru lah Bibi pelayan rumah mengangguk lalu bergegas menyusul sekretaris Kim.


"Ayo ke rumah sakit!" ujar Sekretaris Kim pada Zian yang tengah meringkuk.


"Gerd ku kambuh Kim!"


"Aku tahu! Ayo ... kau sudah terlihat kepayahan dan mulai sesak nafas bukan?" ujar Kim dengan menelepon dokter.


Bibi pelayan mencoba menelepon Agnia, namun tak kunjung diangkatnya,


"Non Nia bikin Bibi khawatir!" gumamnya.


Sekretaris Kim keluar dengan memapah Zian, dan melihatnya, "Bagaimana Bi?"


Bibi menggelengkan kepalanya, "Tidak diangkat!"


"Sudahlah, kenapa kau repot sekali mengurus anak itu Kim!" seru Zian.


Kim mendengus, "Apa kau tidak khawatir dia mencari masalah disekolah?"


Kim benar, awas saja kalau dia sampai terkena masalah lagi!


Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, dan Kim mencoba menelepon kembali Agnia, namun tak kunjung di angkatnya.


Sampai akhirnya mereka tiba dirumah sakit, tanpa harus mengambil antrian, Zian dan Kim sudah disambut oleh perawat dan dokter,


"Kenapa lagi dia Kim?" tanya dokter Irsan.


Zian mendengus kasar melihatnya, dokter pun menyuruh perawat membawa blankar, namun Zian tidak mau. "Gila Kau Irsan, aku bukan pesakitan, kursi roda saja!? Aku tidak kuat berjalan!"


"Sama saja, justru memakai blankar membuat tubuhmu terlentang lurus, mengurangi rasa sakitmu," sahut Irsan menggelengkan kepala pada teman baiknya itu.


"Kubilang kursi roda! Ya kursi roda."


Kim dan Irsan dibuatnya heran, sikap Zian selalu keras kepala dan tidak mau dibantah, hingga dokter Irsan menyuruh perawat membawa kursi roda.

__ADS_1


Beberapa orang keluar dari ruangan sebelah, satu diantaranya memakai seragam sekolah.


Dan menuju ke ruangan UGD,


"Kau Agnia anaknya Laras dan Dave bukan?" tukas ibu Vina.


Agnia terlihat terperangah saat seorang ibu menghampirinya.


Zian samar-samar mendengar nama Agnia disebut, dia menoleh dan melihat beberapa orang yang baru saja menghampirinya.


"Nia?" Gumam Zian dengan meringis.


"Ayo Zian, kita langsung ke atas saja!"


"Tunggu Irsan, kita kesana dulu!" menunjuk ruangan UGD untuk memastikan apa benar itu Agnia.


"Kau jangan keras kepala Zian! Kesana kemana?"


"Ruangan sebelah sana! Aku melihat seseorang yang aku kenal disana!"


Irsan menyuruh perawat terus mendorong kursi roda yang Zian duduki, "Itu ruangan UGD, untuk apa kau kesana?"


Zian meringis namun juga kesal, karena Irsan tidak mendengar ucapannya, "Irsan!!"


"Maaf Zian, kali ini tidak ... demi kesehatanmu!"


Sementara Kim yang tengah mencari tempat parkir akhirnya masuk, dia sudah tidak melihat Zian disana, hingga dia memutuskan untuk langsung menuju ruangan biasa Zian jika masuk rumah sakit.


"Penuh! Sampai harus ke basement! Dan aku lihat di bawah banyak anak SMA, sepertinya tawuran!"


Dokter Irsan keluar dari ruangan tertutup tirai, "Kabarnya ada korban percobaan buu nuuh diri! Biasa anak remaja, dokter Sita yang menanganinya!"


Kim menganggukan kepala, "Pantas saja!"


"Kau kesana Kim!" tukas Zian yang sudah merasa tidak enak hati dengan apa yang dikatakan Irsan dan sempat mendengar ada yang memanggil nama gadis kecilnya itu.


Sekeretaris Kim menatapnya heran, "Untuk apa?"


"Aku tadi mendengar mereka menyebut nama Agnia disana! Periksa saja!"


Kim mendengus, Kau kan tidak peduli kenapa menyuruhku? Lagi pula nama Agnia juga banyak, Bos.


"Pergilah Kim, sebelum dia mengamuk!" tukas Irsan, yang tengah menuliskan sesuatu di buku observasi kedokterannya.


Sekretaris Kim mengangguk pada akhirnya dan pergi dari sana, sementara Irsan kembali memeriksa Zian.


"Kau minum lagi?"


Zian mengelengkan kepala, "Aku sudah berhenti lama,"


"Berapa lama?


"2 minggu, sejak Dita ke luar negeri!"

__ADS_1


Irsan mendengus namun tetap menulis, "Bergadang? Tidak olah raga, telat makan! Resah berlebihan dan juga stress. Yang mana yang sering kau lakukan dan kau rasakan."


"Mungkin aku resah dan stress!"


Irsan mengenadahkan kepalanya, "Karena Dita pergi?"


Zian tidak memberikan respon apa-apa, kedua matanya memandang langit-langit ruangan.


"Sepertinya itu!" gumam Irsan.


"Perbanyak olah raga, hidup sehat mulai dari sekarang, ada atau tanpa kekasihmu itu!"


"Aku sudah melakukannya semenjak bertemu deng---"


Ceklek


Terdengar pintu terbuka, membuat Zian menghentikan ucapannya, karena sudah tahu yang datang antara Kim atau Iyan. Dan ternyata Kim yang datang bersama Agnia.


Agnia?


"Bertemu siapa?" tanya Irsan yang menunggu jawaban dari sahabatnya itu.


"Masuklah, Bos Zian masih di periksa dokter!"


terdengar suara Kim yang menyuruh Agnia masuk, Irsan mengangguk pelan, seakan mengerti ucapan Zian yang tadi terjeda.


"Kalau begitu, kau istirahat saja! Aku akan kembali nanti," ujar Irsan pada akhirnya.


Dia pun keluar dan melihat ke arah Kim dan Agnia, lalu tersenyum, Kim mengikutinya dan mengantar Irsan sampai keluar ruangan.


"Kau harus cerita padaku nanti!!" ujarnya saat berbicara diluar.


"Cerita tentang?"


"Mereka!" gumamnya mengerling ke arah ruangan.


Kim mengangguk datar tanpa jawaban lalu kembali masuk, sementara Irsan menggelengkan kepalanya, "Dia tidak pernah berubah!"


Flash back Off


Agnia mengerjapkan- ngerjapkan matanya, merasa hangat dengan selimut yang membungkus tubuhnya, namun juga merasa aneh dengan tempat yang dia tempati, tanpa sengaja dia menoleh dan melihat sepasang kaki yang menggantung di sandaran sofa.


"Om Zian? Om Zian kan lagi sakit, ngapain tidur disofa?" gumamnya sambil mengumpulkan nyawa.


"Siapa yang sakit, siapa yang menguasai ranjang pasien." ujar Zian dengan kedua mata terpejam.


Agnia berangsur turun, dan merapihkan ranjang khusus pasien itu, "Maaf Om ... tapi Nia juga gak inget kapan Nia naik ke ranjang?"


Zian mendengus, "Jelas kau tidak akan ingat, kau kan hobi sekali pindah-pindah tempat saat tidur, aku sampai sesak nafas karena kau memelukku erat tadi."


Agnia menatap Zian yang kini terduduk, "Hah ... Gue peluk Om Zian? Mana mungkin!" ujarnya dengan memalingkan wajah.


"Aku punya bukti kalau kau mau lihat!"

__ADS_1


__ADS_2