
Zian kembali ke kantor, setelah beberapa kali Kim menghubunginya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar cepat sampai ke tujuan.
Wajah datar dengan rahang tegas, kedua mata menyalang saat dia tiba di kantor, membuat beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menundukan kepalanya sesaat, dan tidak ada yang berani menatapnya terang terangan.
"Ada apa sampai aku harus kembali ke kantor secepatnya Kim?" ujarnya dengan serius, "Kau membuatku khawatir!" ujarnya lagi.
"Ada seseorang yang menunggumu diruangan saat ini, dan dia mengatakan kalau ada hal penting yang harus dibicarakan denganmu." jawab Kim tak kalah serius.
Zian mengernyitkan dahinya, sejurus kemudian dia kembali keluar dan masuk kedalam ruangannya sendiri.
"Zian?"
Seorang pria paruh baya bangkit dari duduknya, seorang yang dia kenal baik di masa lalu.
"Om Arkhan?"
Pria paruh baya dengan rambut dipenuhi uban itu mengulurkan tangan ke arahnya, "Benar ini aku! Kau masih ingat ternyata."
Zian menyambut tangannya dengan kuat, "Tentu saja Om aku mengingatmu! Duduklah!"
"Terima kasih!"
Zian ikut mendaratkan bobot tubuhnya di sofa, mereka duduk saling berhadapan, walaupun Zian sedikit banyaknya tahu kedatangan pria itu sudah pasti akan meminta bantuan darinya, namun dia tidak ingin besar kepala.
"Apa kau sudah bisa menebak kedatanganku kemari Zian?"
Pria dengan mata meneduhkan itu tampak mengulas senyuman, "Aku tidak pandai menerka Om ...!"
"Kau masih belum berubah Zian, masih rendah hati seperti dulu, aku masih ingat saat kau remaja, kau bahkan mau menggoes sepeda ke sekolah, sangat berbeda dengan Dave anakku, yang justru selalu ingin diantar supir!"
"Aku tidak menyangka Om masih mengingat hal itu!"
Pria itu tergelak, lalu sedetik kemudian dia menghela nafas, "Aku terlalu memanjakannya, hingga dia tidak mampu mengatasi masalah dalam hidupnya sampai saat ini, kau tahu!"
Zian hanya mengulum senyum, pria tua itu kembali menghela nafas, "Dan aku kemari untuk meminta bantuanmu."
Zian tidak kaget mendengarnya, karena dia sudah bisa menduganya dari awal, namun dia memilih berpura- pura tidak tahu saja.
__ADS_1
"Maaf Om, bantuan? Maksudnya bantuan apa Om?"
"Perusahaan yang dikelola oleh Dave sedang mengalami kolaps saat ini, karena keegoisan istrinya yang brengsekk itu, aku sudah pernah mengingatkan Dave untuk tidak menikahinya, namun dia bersikeras, membuat ku pusing saja! Dan kali ini aku tidak bisa diam saja."
Zian sebenarnya sudah tahu tentang perusahaan yang tengah diakusisi, namun dia juga tidak menyangka ternyata orang yang ada dibalik semuanya itu adalah istri Dave sendiri.
"Bantuan apa yang bisa aku berikan Om, setahuku bisnis ku dan bisnis Dave sangat berbeda,"
"Tolong bantu Dave untuk kali ini saja Nak! Dan sebagai imbalannya, aku akan memberikan satu anak perusahaan untukmu,"
ujarnya mengiba.
Jujur Zian tidak memerlukan perusahaan, dia sudah punya kerajaan bisnisnya sendiri dan tidak berniat merambah bisnis baru apalagi bisnis tersebut diluar kemampuannya, namun dia juga tidak bisa menolak permintaan ayah dari mantan sahabat nya itu.
Zian masih terdiam, dia tengah berfikir apa yang seharusnya dia lakukan saat ini.
"Aku dengar kau mendekati cucuku Zian?" pungkas Arkhan yang membuat Zian menatapnya lekat.
"Maaf kalau aku terlalu ikut campur, tapi jika kau tidak bisa membantuku, aku juga tidak akan membiarkanmu mendekatinya! Aku akan menjodohkannya dengan seseorang yang bisa membantu perusahaan Dave." ujarnya menohok.
"Ini tidak ada hubungannya denganmu Om Arkhan, seharusnya yang lebih berhak bicara seperti itu adalah ayahnya, Dave. Kenapa dia tidak kemari saja dan bicara padaku!" Zian mulai menaikkan suaranya satu oktav dari sebelumnya.
"Aku tidak akan membiarkan cucumu menjadi alat yang kau gunakan untuk tujuanmu!"
"Kalau begitu, bantu lah perusahaanku, dengan begitu aku akan menyerahkan cucuku padamu!"
Zian bangkit dari sofa, dia terlihat kesal dengan Arkhan yang berbicara seolah dia yang paling berhak mengatur cucunya.
"Tidak kau serahkan pun aku akan mengambilnya, entah karena aku membantu ataupun tidak tuan Arkhan!"
Arkhan kembali tergelak, "Aku memang tidak salah dengan datang kemari dari pada ketempat lain Zian, aku tahu kau tidak akan tinggal diam, orang ku saat ini tengah dalam perjalanan di tempat menantuku Laras, aku berniat membawa cucuku ke Singapura,"
Zian berbalik dengan marah, "Kau membawanya pergi, maka akan aku pastikan tidak ada yang bisa membantumu tuan Arkhan! Aku hanya minta Dave yang bicara langsung padaku. Bukan dirimu yang bahkan baru sekarang ini muncul dan mengakui Agnia cucumu."
Arkhan melebarkan kedua pupilnya tajam, "Zian ... aku maupun Dave yang bicara sama saja!"
"Aku tidak mau memposisikan cucumu sebagai alat pembayaran, apa kau mengerti!"
__ADS_1
Arkhan terdiam, dia bangkit dan berjalan mendekati Zian. "Kalau begitu, aku akan membawa cucuku pergi! Permisi....!"
Arkhan keluar dari ruangan Zian, dia yakin gertakannya akan berhasil, dan Zian akan segera melakukan sesuatu untuk membantunya, dan tidak akan tinggal diam saat dia membawa cucunya. Agnia.
"Brengsekk!!" gumam Zian dengan tangan mengepal.
"Dave apa ini juga bagian dari rencanamu, masih masih sepengecut itu sampai mengirim ayahmu kemari!" gumamnya lagi dengan mengangkat interkom diatas meja.
"Keruanganku sekarang Kim!" serunya dengan langsung melempar telepon itu begitu saja.
Kim datang dengan tergesa, dia masuk kedalam ruangannya tanpa mengetuk pintu.
"Ada apa?"
"Hubungi tim pengacara, ada yang harus kita diskusikan! Dan periksa apa dana perusahaan cukup untuk mengakuisisi semua perusahan Dave!" ujarnya dengan kesal, dia lantas menghempaskan bokongnya dikursi kekuasaannya, sementara Kim mengernyit menatapnya.
"Apa dia mengancam?"
Zian mengangguk, "Mereka menjadikan Nia sebagai alasan! Mereka pasti tahu aku tidak akan diam jika berkaitan dengannya." ujarnya dengan memijit pelipisnya.
"Kau jangan gegabah, aku akan memastikan semuanya dulu, ini membutuhkan waktu tuan, dan dana yang besar!" terang Kim.
"Lakukan saja, atau mereka akan membawa Nia!"
Kim mengangguk, dia merogoh ponselnya didalam saku lalu kembali keluar dari ruangan Zian.
"Aku tidak akan membiarkannya membawamu Nia!" gumam Zian dengan kedua mata terpejam, mencari jalan terbaik baginya.
Drett
Drett
Ponselnya berbunyi, Zian mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja lalu melihat pesan yang baru saja masuk. Setelah membaca pesan singkat itu, dia keluar dari ruangan dengan tergesa.
"Kau sudah menerima pesan yang baru saja aku kirim?"
"Hm...! Aku akan menemui pengacara ku Kim!" ujarnya dengan keluar dari kantornya, dia masuk kedalam mobil lalu melaju keluar dari pelataran parkir.
__ADS_1
Sementara Kim menelepon seseorang, dia terlihat menahan kekesalan saat bicara dengan seseorang diujung telepon, dia menelepon tanpa menghentikan langkahnya masuk kedalam mobil untuk mengikuti bosnya.