
Agnia masuk kedalam mobil yang dikendarai Zian, sementara Regi menatapnya tanpa bisa melakukan apa-apa. Zian pun masih menatap nyalang pada Regi yang memaku ditempatnya.
"Kamu bisa tidak menurut padaku? Ini demi kebaikanmu juga Agnia! Kau ini selalu membuat orang lain khawatir!"
Agnia hanya menghela nafas, "Tidak ada yang khawatir padaku, Mami, bahkan Daddy!" gumamnya pelan.
Namun Zian tidak bisa mendengarnya, "Dengar Nia ... selama kamu tinggal dirumahku, memakai fasilitas yang aku berikan, bahkan kartu ku. Semua akan kau dapatkan, tapi... Kau harus menurut padaku! Paham?"
"Satu lagi, aku menyewamu sangat mahal, dan setelah difikir-fikir, aku sangat rugi. Karena aku tidak memintamu melayaniku! Setidaknya sampai kekasihmu kembali! Benarkan?"
Entah kenapa Agnia langsung teringat dengan Cecilia, yang tentunya ada sesuatu yang harus dia bayar setelah apa yang dia dapatkan! Sementara dia, Zian tidak melakukan apa-apa padanya, padahal pacarnya sendiri berkhianat.
"Aku hanya minta padamu, menurutlah padaku, jangan membangkang."
Agnia mengangguk lemah, seharusnya dia beruntung ada orang yang mau mersngkulnya disaat semua orang menjauh, seperti Regi, yang percaya padanya meski pada kenyataannya dia sendiri juga bingung.
"Bisa-bisanya kau keluar dari kamar dengan cara seperti itu, bagaimana kalau kakimu patah, kakimu?"
"Apa seharusnya aku memintamu untuk melayaniku saja?"
Zian mulai kesal, sudah berapa kali Agnia tidak menuruti perkataannya, berkali-kali bahkan, dan anehnya. kenapa seolah dia ingin memilikinya.
"Jangan dong Om...." ketus Agnia.
"Kalau begitu menurutlah!"
"Siap .... maafin Nia Om!"
Zian menghela nafas, lalu mengangguk dengan kembali melajukan mobilnya, dan kembali ke rumah.
Pov Zian
Kau tahu aku menjadi sering uring-uringan, setelah beberapa kali panggilanku tidak dihiraukan lagi dan lagi oleh Dita, walau pun berusaha menghubungi manajernya namun juga tidak menjawab apa-apa.
Namun aku tidak bisa melarangnya, walaupun aku ingin sekali, aku sering merasa kesepian hingga aku keluar dari kamar hanya untuk melihatmu diam-diam.
Beberapa kali aku melirik kamarmu, namun yang terdengar hanyalah suara tape dan mengira kamu berada di dalam dan tengah tertidur pulas.
Hingga aku beranikan diri mengetuk pintu kamar, dan ternyata cukup lama aku mengetuk pintu kamarmu, berharap kamu membukanya, karena saat melihatmu, hatiku menjadi tenang,
Dan alangkah terkejutnya aku saat tahu jika kamu tidak ada. Aku panik, dan langsung keluar untuk mencarimu,, mencari mu kemana-mana, bahkan sangat takut terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai kau terluka.
Aku masuk kedalam mobil dan segera menancap gas, dan mempercepat laju kendaraanku. Seingatku, kau belum pernah mengenal daerah sini dengan baik, hingga aku takut kamu ingin kembali tapi tidak bisa.
Hingga aku menemukan mu sedang bersama seorang pria seumuran denganmu, saat itu juga aku marah, bukan marah karena kamu pergi, tapi aku marah karena melihatmu dengan pria lain. Aku takut kamu meninggalkan ku.
.
.
__ADS_1
"Om ...ayo! mau sampai kapan terus diam disini!" celetuk Agnia karena Zian menyuruhnya
untuk masuk namun hanya berdiam di depan rumah.
Zian masih terlihat kesal, apalagi melihat Regi yang membelanya.
"Kalau kau mau pergi setidaknya kau bilang padaku!"
"Elah... masih dibahas juga! Nia kan sudah minta maaf Om!"
Zian masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamarnya sendiri, membiarkan Agnia begitu saja.
Agnia mengerdikkan bahu, "Selalu saja begitu!"
Namun tidak lama dia kembali keluar dan terlihat sudah rapi.
"Temani aku makan malam. Cepat ganti bajumu sana!"
Agnia mengerjapkan mata, melihat Zian yang tiba-tiba mengajaknya keluar. Jangan-jangan dia ... akan menagih ku untuk ...
"Cepat! Kau tunggu apa lagi?" seru Zian.
Agnia pun masuk kedalam kamar dan berganti pakaian lalu keluar dan menemui Zian yang telah menunggunya.
Zian terpana melihat Agnia dengan rambut khasnya yang dia gulung ke atas, hingga memperlihatkan leher putihnya.
"Kenapa? Apa aku terlihat seperti tante-tante?"
Ucapan Zian kali ini membuat Agnia tersipu, bahkan tatapan matanya menyedihkan, sangat berbeda sekali pada saat memergokinya sedang bersama Regi.
"Ayo pergi!"
Akhirnya mereka berdua makan malam ditempat langganan Zian, dan tentu saja tempat favorit kekasihnya Dita.
"Om pasti sering mengajak pacar Om kesini ya? Tempatnya udsh cocok banget buat dinner romantis ala-ala korea gitu!" tukas Agnia asal.
"So tahu! Memangnya kau tahu apa dengan dinner romantis? Oh aku lupa, kau kan sering melakukannya dengan orang lain, suami orang, pacar orang! "
Agnia menggebrak meja, "Kalau Om masih membicarakan hal itu, lebih baik aku pulang!"
Agnia menghentakkan kakinya ke lantai. Lalu meninggalkan meja dimana Zian duduk.
Pria bertubuh tegap itu bangkit dan mencekal lengannya, "Jangan pergi, maafkan aku!"
"Harus berapa kali aku katakan, aku tidak seperti yang kau fikir, kau boleh tanya---"
Celaka, tanya siapa? Bahkan aku tidak punya teman, orang tua?
"Terserah lah kau mau fikir aku seperti apa? Aku cape...."
__ADS_1
Kedua mata Agnia sudah menganak, namun dia tidak mau meneteskan air matanya lagi. Zian menatapnya, dan menarik kepalanya, membenamkannya di dadanya.
"Maafkan aku! ucapanku keterlaluan, Maaf!!"
Agnia melingkarkan tangan di pinggang Zian, berharap menemukan kehangatan yang tidak dia dapatkan lagi.
"Aku tidak akan pernah membahas hal ini lagi, aku janji!"
Zian mengenadahkan kepalanya, dan menyeka air matanya, "Jangan menangis, aku tidak punya balon."
Agnia mengerucutkan bibirnya, membuat Zian tersengat saat itu juga, dan tanpa meraka sadar benda basah dan lembut itu kini menempel.
Untuk sepersekian detik, benda itu ssling menempel, dan Agnia membelalakkan mata saat tersadar lalu dia mendorong tubuh Zian ke belakang.
"Dasar mesum, itu ... itu ... ciuman pertama gue!" Teriaknya.
Zian hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia juga merasa terhipnotis begitu saja dan tanpa sadar melakukannya.
Bodoh kau Zian, kau terlalu gegabah.
"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud...."
"Dasar Zian bodoh! Gue mau pulang aja!"
.
.
Keesokan pagi
Agnia bermalas-malasan di kamarnya, selain tidak sekolah, tidak ada kegiatan, dia merasa bosan di rumah. Semua orang sudah beraktifitas seperti biasa, Zian juga sudah pergi kantor.
Zian
Seketika dia teringat kejadian bodoh semalam, dimana Zian mencuri ciuman pertamanya. Agnia menyentuh bibirnya, lalu bergidig sendiri.
Drett
Drett
Cecilia meneleponnya, Agni tertegun menatap layar putih yang masih menyala itu, Bagaimana kalau Cecilia mendaptkan informasi tentang pria itu, pria yang melakukan hal tidak pantas dengan ibunya sendiri.
Agnia dengan ragu mengangkatnya lalu menempelkan ponsel di telinga kirinya.
'Nia?'
'Aku mengirimkan sesuatu padamu, kau periksa ya.'
'Oke!!'
__ADS_1
Cecilia menyuruhnya untuk melihat video yang dia kirimkan. Setelah menutup telepon, Agnia langsung membuka aplikasi umat seantero dan membuka video yang dikirimkan oleh Cecilia.
"Jadi itu yang lo mau Vin?"