Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 22


__ADS_3

Agnia menghadap kembali pak Sopian di ruangan Bimbingan konseling, dia mengetuk pintu ruangan itu sampai mendengar jawaban dari dalam.


"Permisi Pak, ada apa ya?" tanya Agnia.


"Duduk Nia!"


Agnia mengangguk, lalu menarik kursi dihadapan guru BK, Sopian kemudian mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya, dan meletakkannya pada meja.


"Tolong jawab yang sejujurnya. Sedang apa kamu di sini?" tanya Sopian tanpa basa basi terlebih dahulu.


Agnia terperangah melihat selembar foto saat dirinya keluar dari hotel, dan masuk kedalam sebuah mobil berwarna hitam.


Ini kan pada saat gue kabur dari hotel, dan saat itu juga gue dibawa om Zian ke kota B.


"Nia, berkata jujurlah, agar bapak bisa membantumu! Jangan sampai pihak yayasan tahu hal ini dan memberimu sangsi, walaupun kau mengelak tidak melakukan apa-apa, namun foto ini berkata lain!" ujarnya panjang lebar.


"Nia memang tidak melakukan apa-apa Pak!"


Agnia terus menyanggah, dia memang ke hotel tetapi dia merasa dijebak, dia tidak merasa melakukan apa-apa disana. Berapa kali Sopian mengajukan pertanyaan, namun Agnia tetap pada jawabannya.


"Kalau begini terus, mungkin pihak sekolah akan memanggil orang tua mu Nia!" Sopian terlihat tegas kali ini, "Sekarang kamu kembali ke kelas." lanjutnya lagi.


Membuat Agnia terhenyak lalu keluar dari ruangan tersebut dengan muram.


Siapa yang tega melakukan hal ini? Cecilia dan juga Nita, mereka jelas bunuh diri jika melakukannya. Jika benar mereka, aku pun aku membongkar tentang mereka.


"Nia ... apa pak Sopian memarahimu lagi?"


Nia tersentak kaget, kemudian berbalik ke arah suara, terlihat Vina menatapnya dengan datar.


"Vina ... lagi ngapain lo disini?"


"Aku dari toilet, kebetulan melintas dan lihat kamu, kamu gak apa-apa kan?"


"Gawat Vin!"


Mereka berjalan beriringan, namun bukan ke kelas, melainkan berjalan ke taman, terdapat pohon rindang dan kursi disana, mereka pun duduk disana.


"Nia ... aku minta maaf, aku sudah jahat padamu! Seharusnya aku membantu mu, tapu aku takut."


"Apa mereka masih sering gangguin lo?"


Vina menggelengkan kepalanya, "Tidak lagi, dan semua itu berkatmu Nia! Tapi giliran kamu yang terkena masalah, aku tidak bisa membantu sama sekali."


"Gak apa-apa Vin, santai aja lagi! Lo kayak ma siapa aja sih!"


"Btw ... lo bisa kan ngomong sama gue itu santai, gak perlu formal gitu! Risih tau gak!" senggolnya pada lengan Vina dengan terkekeh.

__ADS_1


Vina mengangguk, "Aku tidak terbiasa, tapi akan aku coba!"


Agnia mengangguk, "Ya udah kita ke kelas, berabe lagi entar ketahuan pak Sopian."


Mereka berduapun kembali ke kelas.


.


"Agnia lo jadi kan ke SMA Nusantara?" tanya Serly.


"Jadi memangnya kenapa?"


"Bareng Adam kan?"


"Ada yang lain juga kok, anak-anak osis! Kenapa sih lo mau ikut?"


"Enggak gue cuma nanya aja, ya kali gue ikut! Gue kan gak masuk struktural sekolah!" Serly mencebikkan bibirnya.


"Kali aja lo mau ikut!" Tukas Agnia melengos.


Serly mendengus dengan tatapan tajam ke arah Adam, sementara Adam hanya mengerdikan bahu.


Bel berbunyi tanda jam pelajaran pertama telah habis, para siswa mulai berhambur keluar dan menuju kantin. Tempat ternyaman bagi Agnia, Serly dan kadang bersama Vina, namun itu dulu.


Sekarang, Agnia merasa keadaan tidak sama lagi, penuh kebohongan dan sandiwara dilakukan oleh Serly, ingin sekali dia bertanya apa alasannya, namun Nia menahannya, masih ingin mengetahui apa yang Serly rencanakan.


"Thanks Serl...!"


Perlakuannya tidak berubah sedikitpun, Serly tidak berprilaku yang mencurigakan maupun berbeda perlakuan pada Agnia, dia masih sering memesankan makanan kesukaannya jika Agnia terlambat karena harus menyerahkan tugas teman-temannya terlebih dahulu.


'Gue ke toilet dulu, kalau makanannya udah datang, lo duluan aja Ni!" Serly bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke toilet.


Agnia mengangguk begitu saja, tanpa peduli Serly yang telah berlalu dari hadapannya. Namun lagi-lagi Serly bukan ke toilet seperti apa dikatakan pada Agnia, namun dia ke perpustakaan, untuk menemui Adam.


Adam terhenyak saat lengannya di tarik dari samping,


"Serly apaan sih!"


"Aku gak mau ya Nia ikut kamu!"


Adam mengernyit, "Astaga, masalah itu lagi!"


"Pokoknya aku gak mau tahu! Kamu cari alesan kek agar dia gak usah datang!"


"Serly ... kita sudah sepakat! Agnia tidak tahu apa-apa, dia tidak tahu hubungan kita seperti apa!"


"Lagi pula, kenapa kamu masih bersikap seperti itu padanya!"

__ADS_1


Serly menenggelamkan kepalanya di dada Adam, "Pokoknya aku gak suka kamu deket-deket dia Dam!"


"Sudah berapa kali aku mergokin kamu lagi liatin dia Dam! Kamu suka kan sebenarnya, dia itu cantik, pintar, apalagi coba!" Serly menengadahkan kepalanya ke arah Adam.


Mungkin kamu benar, aku mulai tertarik pada Agnia, setelah dia menyatakan perasaannya padaku. Terlepas itu hanya pura-pura.


Serly memukul dada pacarnya itu, "Tuh kan diem ... kamu beneran suka kan sama Nia?"


"Enggak Serl ... aku gak suka! Aku hanya sayang sama kamu." ucap Adam mencoba menenangkan Serly yang terus mendesaknya.


"Kalau kamu sayang sama aku coba buktikan?"


"Buktikan gimana maksud kamu, kurang apa lagi?"


"Cium aku!" ujar Serly dengan cepat.


Adam bergeming di tempatnya, "Bagaimana mungkin seorang wanita meminta hal itu terlebih dulu! Apalagi hanya untuk pembuktian perasaan.


"Sepertinya itu berlebihan Serl ... kita sedang di sekolah, bagaimana jika sampai ketahuan!"


Serly berdecak, "Kalau gitu kamu benar-benar tidak menyukaiku!" ujarnya lalu berbalik.


Adam memegang tangan nya, "Tunggu Serl."


Demi membuktikan cintanya pada Serly, Adam menarik tubuh Serly hingga ke sudut ruangan, rak-rak buku yang berjajar memudahkan mereka bersembunyi.


Serly tampak tersenyum, hal inilah yang selalu di tunggu-tunggunya. Selama ini, Adam hanya sebatas memegang tangannya, walaupun Serly kerap memancingnya. Namun tidak sedikitpun Adam tergoda.


Mereka kini berhadap-hadapan, dengan tangan Adam berada dipinggang Serly. "Aku memang hanya menyukaimu Serl, percaya lah!"


Serly mengangguk, lalu memejamkan kedua matanya. Perlahan Adam menarik dagunya dengan ragu-ragu, dadanya bergemuruh tak karuan.


Cup


Adam mengecup bibir tipis berwarna pink milik Serly, membuat Serly tersipu malu. Wajahnya kini merona. "Kamu belum pernah berciuman?"


Adam mengangguk, tak lama kemudian Serly berjinjit menyambar bibirnya. Membuat Adam membelakakkan kedua matanya, dia dengan cepat melu matt bibir Adam.


"Serly, jangan kelewatan batas! Kita disekolah!" Ujar Adam mendorong bahu kekasihnya itu lembut, lalu pergi begitu saja.


"Dam ... kamu menolak ciumanku?" Serly menatap tajam punggung Adam.


Adam keluar dari lorong rak yang penuh dengan buku itu, dan hampir bertabrakan dengan seseorang.


Brukk


Dengan cepat Adam menahan pinggangnya agar tidak terjatuh. "Sorry ... gue gak sengaja!"

__ADS_1


__ADS_2