
Iyan masih tidak menyangka, wanita yang dia cintai itu mengabaikannya juga, selama ini dia yang selalu menutupi kesalahannya, bahkan kekurangannya di depan Zian, karena dia sangat mencintainya. Bahkan dengan rela menahan diri jika mereka tengah bercum bu. "Selama ini aku hanya dibodohi olehnya! Jelas dia tidak akan memilihku, keadaan ku jauh berbeda dibandingkan dengan Zian!" gumam Iyan saat dia akhirnya keluar dari apartemen mewah milik Dita.
Keesokan pagi
Zian membuka pintu kamar Agnia dan tertegun melihat Agnia yang masih terlelap di bawah selimut dengan nyaman, gadis itu tidak mengindahkan suara weker yang mengganggu gendang telinganya.
"Kamu bisa terlambat sekolah Nia!" ujarnya dengan mematikan jam weker yang berisik diatas nakas.
"Nia ... bangun! Kamu bisa terlambat!"
Agnia masih menggeliat, dengan mata yang masih tertutup. Zian duduk ditepi ranjang, memperhatikan wajah polos Agnia. Kedua matanya tertuju pada bibir ranum berwarna merah muda yang membentuk sebuah hati, tipis dan menggoda.
Cup
Zian mencuri kecupan di bibir gadis yang masih berada di dunia mimpinya, dia pun terkekeh geli melihat Agnia tidak menyadarinya, "Dasar aneh! Apa dia tidak merasakannya, tapi kalau bangun sudah pasti dia akan marah!" gumam Zian lantas kembali keluar.
Tak berselang lama, Agnia terbangun dan turun dari ranjang dengan tergesa. Dia masuk kedalam kamar mandi untuk bersiap-siap ke sekolah.
"Sepertinya aku bermimpi sangat aneh!" ujarnya dengan mengingat apa yang terjadi semalam.
Setelah bersiap siap, Agnia turun ke bawah, dan mendapati Zian yang tengah duduk menunggunya di meja makan, "Pagi Nia! Cepat sarapan, kau pasti akan terlambat!"
Agnia mengernyit, Sikap Zian semakin hari semakin baik, sejak semalam, semalam gue tidur pas dia gendong gue dan___
Zian mengoles roti dengan selai coklat lalu meletakkannya di piring milik Agnia, "Makanlah!"
Agnia mengangguk, lalu melahapnya hingga habis.
Setelah selesai sarapan, keduanya beranjak pergi, seperti biasa Zian mengantarkan Agnia hingga ke gerbang sekolah, setelahnya dia baru pergi ke kantor.
"Cie makin lengket aja nih!" seru Cecilia dari arah belakang.
Agnia menoleh dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, "Berisik tahu gak! Gue gak mau ya seluruh sekolah sampe tahu karena mulut ember lo itu!"
"Dih ... tegang amat sih lo! Kita gak bakal ember kayak temen-temen lo tuh, lagi pula kita sekarang sama kan?" Nita tergelak, disusul oleh Cecilia yang juga tergelak.
"Iih ... kalian emang rese!"
Ketiganya masuk kedalam halaman sekolah, melewati selasar gedung,
"Eh Nia ... nih duit si Hendra mau di gimanain! Kalau gak gue pake juga nih." ujar Cecilia.
"Tuh kan gue sampe lupa!"
"Jadi lo tetep mau balikin nih duit ke istrinya? Gila sih lo, mana ada yang kayak lo dizaman sekarang!" Timpal Nita dengan berjalan disamping keduanya,
"Gue gak mau kena karma! Cukup kalian aja nanti!"
__ADS_1
"Iih ... jahat banget si Nia!"
Agnia tergelak, mereka pun kembali berjalan dengan saling tertawa.
"Agnia!" Seru Adam dari atas motor yang melaju ke tempat parkir, namun karena jaraknya cukup lumayan jauh, Agnia tidak mendengar suara Adam.
Serly yang melihatnya pun mendecih, dan menghampiri Adam, "Apaan sih kamu! Manggilin terus Nia, udah tahu dia tuh gak suka sama kamu Dam! Nyadar dong!"
"Iya gue sadar, dan gue juga udah gak suka sama lo! Jadi lebih baik lo juga sadar Serly, cinta itu gak bisa di paksa. Yang gue cinta itu Agnia, bukan lo." Ujarnya dengan turun dari motor lalu beranjak pergi.
Adam meninggalkan Serly begitu saja, dia bergegas naik ke tangga dan menuju kelas untuk menemui Agnia.
Sementara Serly menghentakkan kakinya dengan bibir yang mencebik.
"Nia ...!" panggil Adam saat tiba dikelas.
Agnia menoleh, "Eh lo Dam, ada apa?"
"Nih buat lo!" ujarnya dengan memberikan sekotak coklat padanya.
"Wah ... makasih Dam! Tahu aja gue suka coklat." ujarnya dengan membuka boks coklat dari luar negeri itu.
"Iya tahu lah! Itu oleh-oleh Tante gue dari luar negeri!"
"Oohh ... by the way makasih yaa!" Agnia pun sengaja membuka penutup boks dan dibiarkan terbuka, hingga semua teman-teman yang melewati kursipun penasaran.
"Apa tuh Nia? Gue mau dong!"
Membuat Adam membulatkan kedua matanya lalu keluar dari kelas dengan kesal. Dia pun menabrak Serly yang hendak masuk kedalam kelas,
"Adam ... apaan sih!"
"Sorry gue gak sengaja!" ujarnya dengan melenggang pergi.
Serly masuk kedalam kelas, dan terheran dengan semua teman-temannya yang tengah makan coklat yang sama. Dan beralih pada boks coklat di bangku Agnia.
"Wah ... enak nih coklat!"
"Lo mau ... ambil aja! Lagi pula gue juga di kasih orang."
"Dikasih orang? Siapa?"
"Adam!" ujarnya dengan datar.
Si Adam ngapain sih sok kasih dia coklat segala, pantesan dia kesal gitu, orang coklatnya dibagi-bagi gitu.
"Kenapa? Lo bete karena dia kasih gue coklat! Sorry ya, coklatnya gak gue makan. Lo tahu kenapa? Gue gak mau ngasih harepan buat Adam, gue juga gak suka sama dia. Dan yang paling penting, gue ngehargaain lo Serl!" ucapnya panjang lebar.
__ADS_1
Serly pun terdiam, dia tidak menyangka Agnia masih memikirkan perasaannya, meskipun dia berulang kali membuat Agnia kecewa.
"Nia ... Lo gak usah pikirin perasaan gue! Kali lo juga suka sama Adam, Lo bilang aja! Jangan sampe nyesel kayak gue."
Agnia menggelengkan kepalanya, "Gue gak suka sama Adam! Gue udah suka sama orang lain."
"Siapa?"
Agnia mengeluarkan laptop miliknya, "Ada deh! Masih rahasia," ujarnya dengan mulai menyalakan laptop miliknya.
"Bentar ... bentar! Lo udah bawa laptop lo berarti lo udah pulang ke rumah?"
Agnia menggelengkan kepalanya, "Gue cuma pulang buat bawa ini doang."
"Kapan? Sama siapa? Kok lo gak ngabarin gue sih! Gue kan udah lama gak maen ke rumah lo!"
"Ada sama orang, gue juga cuma sebentar kok Serl."
Dan gue berantem lagi sama Mami Serl, cuma gue gak mungkin bisa cerita lagi sama lo, biar gue Pendem sendiri aja! Gue emang udah maafin lo, tapi juga gue gak bisa seratus persen percaya lagi sama lo!
Pada jam pelajaran pertama Adam tidak terlihat batang hidungnya, dia memilih ke perpustakaan karena masih merasa kesal pada Agnia yang membagi-bagikan coklat yang dia berikan hanya untuk Agnia sendiri.
Hingga jam pelajaran terakhir Adam tidak juga kembali, Serly sempat mencarinya namun tidak menemukannya,
"Kayaknya dia kesal karena lo udah bagi-bagiin coklat dari dia Nia."
Tiba-tiba Adam datang, dan menghampiri Agnia, "Gue emang kesel karena lo Nia! Tapi gue gak bisa marah sama lo, gue cinta sama Lo!"
Serly mengangguk ke arah Agnia, "Sepertinya kalian harus ngomong berdua! Gue balik duluan yaa!"
"Serl tunggu,"
Adam mencekal tangannya, "Nia ... Serly bener! aku emang pengen ngobrol berdua sama kamu."
"Maaf Dam ... tapi gue harus pulang!" Agnia menyampirkan tas dibahunya, lalu kemudian dia keluar.
Adam menyusulnya keluar, "Nia ... please, aku pengen bicara sama kamu sebentar aja!"
Agnia menghela nafas, "Mau ngomong soal apalagi Dam!"
"Ini tentang perasaanku sama kamu!"
"Maaf Dam ... gue gak bisa! Gue gak suka sama Lo! Mendingan lo balikan lagi aja sama Serly, jangan lo permainkan perasaannya Dam!"
Adam terdiam, "Jadi kamu nolak aku karena Serly?"
Agnia menggelengkan kepalanya, "Gak juga! Karena gue gak suka sama lo Dam! Perasaan gue buat orang lain!"
__ADS_1
"Maksudmu orang lain itu Regi?"
"Sorry Dam, gue harus pulang!"