
Cecilia dan Nita menahan tawanya, dengan memalingkan wajah ke arah lain, mereka tahu jika Adam memang menyukai Agnia, namun mereka tidak menyangka ketua OSIS yang dulu selalu dikenal kalem dan tidak banyak tingkah menjadi norak seperti itu.
Begitu pun dengan Agnia yang hanya menatapnya tanpa ingin menimpali perkataaannya, seolah dia tidak peduli dengan apa yang dia katakan tentangnya.
Mereka bertiga kembali berjalan meninggalkan Adam, dia berjalan dibelakang dan hanya bisa menatap Agnia saja, Adam sadar, Agnia tidak punya perasaan seperti yang dia rasakan. pernyataan cintanya pun juga telah ditolak beberapa kali.
"Dia gak bosen apa ya gangguin lo mulu Nia? Cari perhatian banget, padahal udah lo tolak berkali kali." seloroh Nita.
"Ya namanya juga usaha, kali aja si Nia kejedot, terus tiba-tiba jadi suka sama dia!" timpal Cecilia yang kembali tertawa.
Agnia membekap mulut Cecilia, "Bisa diem gak lo? Heran kok gue punya temen gak ada akhlak kayak lo!"
Cecilia kembali tertawa, kali ini dibarengi dengan Nita, "Kita gak ada akhlak emang, gak kayak temen lo yang berakhlak kayak dia," tunjuk Cecilia dengan dagunya ke arah Serly yang terlihat dari kejauhan tengah berjalan masuk kedalam kelas.
"Sialan emang lo pada! Gak ada bosennya apa ribut sana Serly!" ujar Agnia menggelengkan kepalanya.
"Gue pengen cepet cepet lulus, dan kuliah biar gak lihat dia lagi!" Cecilia menutup mulutnya, "Upps ... sorry dia temen lo Nia!" ucapnya lagi.
"Bacot lo ... udah ahk yuk ke kelas!" Agnia menarik kedua tangan sahabatnya itu menuju kelas mereka dan dia pun masuk kedalam kelasnya sendiri.
Hari itu tidak ada pelajaran tambahan dari Zian, hingga Agnia tidak bisa bertemu disekolah.
"Nia, bokap lo ada dirumah ya?" tanya Serly tiba-tiba.
Agnia mengangguk, Serly mengeser bokongnya untuk lebih mendekat, "Gue lihat bokap lo tadi pagi pas mau berangkat."
Agnia menoleh, kemudian mengangguk lagi.
"Bokap sama nyokap lo balikan lagi ya?"
Agnia enggan menjawabnya, dia hanya mengerdikkan bahunya sedikit, entah apa yang akan dia rasakan jika mereka kembali bersama.
__ADS_1
Agnia bangkit dari duduknya, "Tahu deh ... terserah mereka!" ujarnya dengan mengambil buku dan keluar dari kelas.
"Masalah gue kayak gak pernah ada habisnya!" ucapnya dengan menghela nafas berat, dia memilih pergi ke perpustakaan dan menghabiskan waktu sendiri.
"Gue kangen Bi Nur sama Aya, apa gue ke rumahnya aja ya nanti sore!" gumamnya lagi.
.
Baru saja hendak memesan baik ke mobil milik Cecilia, Agnia dikejutkan oleh kedatangan Ibunya, wanita yang melahirkannya itu tiba-tiba datang dan menjemputnya tanpa pemberitahuan sama sekali. Dia juga menghampiri Cecilia dan juga Nita yang menganggukkan kepala kearahnya.
"Maafkan sikap Tante sama kalian dulu!" ujarnya dengan tersenyum.
"Gak apa apa Tante, kami ngerti kok." kata Cecilia disertai anggukan setuju oleh Nita, mereka pun mempersilahkan Laras untuk berbicara dengan Agnia, mereka berjalan melipir ke belakang mobil.
"Mom?"
"Ayo Nia, kita pulang!" Laras mengulurkan tangan kearahnya, moment yang sebenarnya Agnia inginkan sejak dulu, namun kenapa rasanya berbeda saat sekarang, keadaan tidak lagi sama, pun dengan keresahan yang di rasakan Agnia sendiri.
"Tumben Mommy mau jemput Nia disekolah?" ucapnya dengan berjalan terlebih dahulu, dia berpamitan pada kedua sahabatnya dengan melambaikan tangan.
Tak lama dia pun masuk kedalam mobil, disusul oleh Laras yang masuk kedalam pintu kemudi,
"Mommy memang sengaja jemput kamu disekolah! Mommy minta maaf karena tadi pagi tidak jadi mengantarmu kesekolah sayang!"
"It's oke mom, lagian juga ada yang lebih penting yang mesti mommy urus kan?"
"Nia ... tidak ada yang lebih penting dari mu bagi mommy saat ini sayang! Maafkan Mommy ya."
Agnia menyandarkan kepalanya diseat mobil, "Don't worry mom ... aku bisa ngerti kalau mommy emang mau kembali sama orang itu!" ketusnya dengan melipat tangan.
Laras melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tampak tersenyum saat putri semata wayangnya itu menyebut Dave dengan sebutan orang itu.
__ADS_1
"He is your Daddy Nia, don't forget it! Tidak ada yang bisa merubah hal itu sayang, dan siapa yang bilang mommy akan kembali dengan your Daddy? Semua tidak akan lagi sama, walaupun mommy masih menyayanginya, tapi keadaan sudah berubah sekarang Nia!" terang Laras dengan pandangan tetap lurus ke ruas jalan.
Membuat Agnia menoleh ke arahnya dan terheran, "Mommy tidak akan kembali pada Daddy?"
Laras menggeleng dengan bibir yang melengkung tipis. "Tidak akan lagi sama rasanya saat kedua hati tidak lagi saling menyayangi, sekarang yang terpenting bagi mommy adalah Nia...!"
Agnia memeluk Laras, dan tidak lupa mengecup pipi sang ibu, "Nia merasa tenang sekarang setelah Nia denger sendiri dari mommy."
"Memangnya apa yang membuat kamu tidak tenang sayang?"
"Nia hanya tidak ingin kecewa lagi, dia tidak berubah mom! Selalu bikin Nia kecewa."
"Sayang, bukankah mommy pun sama, setelah banyak kesalahan yang mommy perbuat padamu, tapi kamu bisa memberi kesempatan pada mommy untuk berubah, dan tidak ada salahnya jika kamu pun memberikan Daddy waktu untuk membenahi dirinya dan berubah, tidak ada yang tidak mungkin bukan?" Laras menatap anak nya dengan penuh kasih sayang, dia juga mengelus kepalanya dengan lembut, "Tidak ada manusia yang tidak luput dari kesalahan Nia, tapi tidak ada kata terlambat untuk berubah bukan? Kasih Daddy kesempatan seperti kamu kasih mommy kesempatan itu sayang."
Agnia hanya terdiam, memikirkan perkataan ibunya, selama beberapa hari ini fikiran dan hatinya juga merasa tidak tenang dengan hal itu, disatu sisi, dia ingin Dave menjadi ayah seutuhnya untuknya, namun disisi lain, dia juga benci karena lagi lagi kecewa dengan sikapnya.
"Sayang?"
"Hm ...?"
"Kita pulang atau mau makan dulu?"
"Pulang aja mom!"
"Oke sayang! Meluncur...!" ujar Laras dengan tertawa, membuat Agnia ikut tertawa walaupun sedikit tertahan.
Sesampainya dirumah, Agnia masuk dan mendapati Dave tengah berdiri diambang pintu, dengan baju piyama yang sama saat dia meninggalkan rumah dulu kala.
Ingatannya masih sangat jelas, pakaian itu dia tanggalkan begitu saja dikamar, dan berhari hari Agnia memeluknya bahkan kerap mengenakannya saat tidur saking merasa rindu pada ayahnya.
"Nia ... Laras! Kalian sudah pulang? Maaf ... aku masih disini," ujarnya dengan menggaruk belakang kepalanya dengan ragu ragu dia berjalan mendekat, " Maaf Laras, apakah aku boleh menginap satu hari saja disini? Uangku tidak cukup untuk menyewa hotel, aku juga sudah kehilangan semuanya sekarang." lirihnya dengan kedua mata berkaca kaca.
__ADS_1
Laras tidak serta menjawabnya, namun dia menatap Agnia yang berdiri disampingnya, gadis itu tertegun dengan mencengkram ujung roknya erat.
"Niaaa ... maafkan Daddy!"