Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 102


__ADS_3

Agnia tanpa sengaja melihat Anindita keluar dari ruangan ibu Wang, dia berjalan mengikutinya hingga beberapa langkah, namun Dita masuk kedalam lift yang terbuka, Agnia dengan cepat bersembunyi agar tidak ketahuan.


"Agnia?"


Ibu Wang memanggilnya, sontak membuat Agnia menolehkan kepalanya, tepat dengan tertutupnya pintu lift.


"Sedang apa? Ayo kemari...!"


Agnia pun menghela nafas, dan kembali mengayunkan kedua kakinya kearah wanita yang diperkirakan berumur 40 tahun itu.


"Bu Wang."


"Sedang apa? Bukannya seharusnya kamu sudah pergi ke ruangan dokumen untuk membereskan semua berkas disana!"


"Ah ... iya, aku tadi melihat seseorang yang aku kenal, tapi ternyata aku salah orang!"


Ibu Wang menggelengkan kepalanya, "Ya sudah, kembali bekerja! Hari ini akan ada rapat seluruh divisi, kemungkinan semua akan sibuk."


Agnia mengangguk, "Baik Bu Wang."


Dan benar saja, orang-orang terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, Agnia yang duduk diruangan tempat dimana dokumen-dokumen laporan disimpan sedikit kerepotan karena para staff yang meminta bantuannya untuk mencari dokumen.


"Agnia, aku akan keatas, big bos sebentar lagi datang! Dan aku harus memberikan laporan ini, bisakah kamu membantuku?" Ibu Wang kembali masuk dan menghampiri Agnia.


"Bisa Bu!" jawabnya disertai anggukan.


"Tolong antarkan ini ke ruangan rapat, berikan pada yang berjaga disana, cepat yah!"


"Baik bu!"


Agnia pun bergegas keluar dan mencari ruangan yang selalu dipakai saat rapat, dia harus naik ke lantai 6, dia pun masuk kedalam. lift, dengan beberapa orang yang berada didalamnya.


"Kau anak magang itu bukan?"


Agnia mengangguk, salah satu dari mereka berbisik pada temannya lalu terlihat menganggukkan kepalanya.


"Pantesan!" ujarnya tersenyum kecut.


Gadis itu mengerutkan kedua alisnya, mencoba mengerti apa yang mereka katakan, dan yang pasti mereka tengah membicarakannya.


Pintu lift terbuka, Agnia pun membungkukkan tubuh ke arah mereka, sebelum keluar.


Zian sengaja masuk ke kantor dari arah pintu lain, dia sama sekali belum berniat memberi tahu Agnia, jika Global globe adalah anak perusahaan miliknya, dan hari ini dia datang untuk mengevaluasi kinerja karyawan selama sebulan.


Sekretaris Kim berjalan disampingnya dengan beberapa berkas ditangannya, mereka masuk kedalam ruangan CEO tanpa diketahui oleh karyawannya.


"Pak ...!" Wakil CEO yang dipercaya oleh Zian melonjak kaget saat Zian tiba-tiba masuk kedalam.

__ADS_1


"Duduklah."


Pria itu mengangguk, namun menunggu Zian duduk terlebih dahulu barulah dia duduk, sementara Kim berdiri disamping Zian.


"Kau sudah siapkan semua laporannya?"


"Sudah pak, rapat akan segera dimulai.Seluruh divisi pun sudah siap. Tinggal menunggu Anda saja Pak."


"Baiklah, suruh HRD siapkan sekalian data para karyawan, aku ingin mengevaluasi semuanya sekalian."


"Baik!"


Wakil kepercayaannya itu menekan intercom yang tersambung ke ruangan HRD, dan memberitahukan apa yang diperintahkan Zian. Setelah itu barulah ketiganya keluar dari ruangan itu.


Wajah datar dan dingin terpangpang nyata, berjalan dengan langkah tegap dengan satu tangan yang dia masukkan kedalam saku, Zian tampak serius, tidak ada gurat senyum diwajahnya, ditambah sekretaris Kim yang mempesona namun terkenal kejam saat bekerja.


Mereka berdua masuk kedalam ruangan rapat, dimana semua divisi sudah berkumpul di sana.Tak ayal lagi, seluruh perhatian tercurah pada seorang Zian, atmosfer ruangan itu tiba-tiba berubah, membuat hawa bertambah panas dengan sorot mata tajam yang menyisir seluruh manusia dihadapannya.


"Hari ini, selain akan mengevaluasi laporan bulanan, kami juga akan mengevaluasi kinerja kalian selama sebulan. Jika, diantara kinerja kalian ada yang tidak sesuai dengan standar perusahaan, maka hari ini juga kami akan melakukan pemecatan."


Suara Kim menggelegar, memecah keheningan ruangan berukuran besar dengan deretan kursi dimana para karyawan dari seluruh divisi sudah merasa ketegangan.


"Kita mulai dari divisi umum!"


Para karyawan dari divisi yang disebut oleh Kim klmulai ketar ketir, satu persatu dipanggil untuk memberikan laporan dan berakhir dengan evaluasi kinerja nya selama sebulan.


Seorang wanita maju, dan memberikan laporan miliknya ke atas meja Zian. Berulang kali pria itu membaca laporan yang jauh dari standar,


Brakk


Zian menggebrak meja, "Laporan macam apa yang kau perlihatkan padaku?"


Dia melemparkan berkas itu begitu saja, "Laporan sampah!" ujarnya lagi.


Kim mencoret namanya dari daftar nama karyawan, terlihat karyawan wanita itu hampir menangis didepan Zian.


"Semua hasil kerja keras mu selama berkerja disini, akan diberikan utuh! Temui HRD setelah ini!" tambah Kim saat wanita itu beranjak.


"Dan berlaku untuk semua yang aku pecat hari ini!" ujar Zian membuat semua karyawan harap-harap cemas mengenai nasibnya saat ini.


Sementara Zian terus memanggil karyawan satu persatu, Agnia yang membawa beberapa berkas yang dibutuhkan ibu Wang telah sampai di pintu masuk ruangan itu, dia tersentak kaget saat ada orang yang keluar dari sana dengan menangis.


"Minggir! Kau menghalangi jalanku!" Ujarnya dengan menyusut air matanya.


"Maaf ... tapi aku disuruh mengantarkan bekas ini dari divisi Humas."


"Perusahan tidak akan mentoleransi kesalahan sekecil apapun!" Suara Zian terdengar sangat keras.

__ADS_1


Membuat Agnia mematung ditempatnya berdiri, Sepertinya gue gak asing dengan suara itu, apa mungkin--


"Kau dengar itu? Big bos sedang mengamuk didalam, dan aku baru saja dipecat olehnya!" ujar wanita itu lalu pergi begitu saja.


Seorang pria datang dari arah berlawanan, pria yang sama saat dirinya dipanggil dihari pertama.


"Hei kau anak yang magang itu bukan?"


Agnia menoleh, "Syukurlah ada bapak! Aku tidak tahu harus apa Pak, aku disuruh untuk mengantarkan ini pada Ibu Wang tadi."


"Ooh ... itu, berikan padaku!"


Agnia pun memberikannya pada pria dihadapannya.


"Didalam sedang ada big bos ya Pak!"


"Hem ... begitulah, dia hanya akan datang di akhir bulan, dan mengevaluasi laporan antar divisi."


"Tapi aku dengar wanita itu baru saja dipecat olehnya!"


Pria itu meletakkan berkas yang Agnia berikan dimeja, "Ya ... saat ini beliau juga mengevaluasi kinerja para karyawan, dan jika tidak sesuai maka akan di pecatnya!"


"Kejam banget!"


Pria itu terkekeh, "Begitulah kalau kita menjadi karyawan, dimana pun itu, perusahaan kan akan menilai dedikasi kita, bersungguh-sungguh atau hanya sekedar bekerja!"


Agnia mengangguk, "Tapi apa selalu harus memecat?"


"Ya pasti ... untuk apa perusahaan menahan orang yang tidak loyal? Mereka tidak membutuhkan karyawan yang tidak memberikan keuntungan apa-apa! Maka dari itu kamu harus bersungguh-sungguh walaupun hanya magang disini." nasihatnya kemudian.


"Ya sudah, kau kembali saja ke tempatmu! Biar aku yang memberikan berkas ini pada Ibu Wang."


Agnia pun mengangguk, dan kembali berjalan ke tempat nya,


"Nia ...?" panggil Cecilia saat Agnia hendak masuk kedalam lift untuk turun.


"Ce ... Nit, kalian disini juga?"


"Huum ... mungpung kantor sepi, gue jalan-jalan aja! Siapa tahu ketemu big bos!"


Agnia menarik lengan Cecilia, "Lo tahu, big bos lagi di ruangan rapat!"


"Kesempatan gue nih mah!" gumamnya.


"Kalau lo bisa! Katanya Big bos itu kejam, dia gak segan memecat orang!" tambah Nita.


"Menantang tahu!" ujar Cecilia kemudian.

__ADS_1


"Terserah lo deh Ce ...!"


__ADS_2