
Zian lantas keluar dari apartemen sederhana itu, diantar oleh Agnia tentu saja.
"Masuklah, tidak usah mengantarku!" Ujar Zian saat mereka berada di depan pintu lift.
"Ih siapa juga yang mau nganter, orang Nia mau bawa pesanan Nia di kantin bawah kok! Nia tadi lihat kantin di bawah, jadi Nia pesen kopi dan juga jajanan." sahut Agnia dengan mulut berkerucut.
"Kalau ini bukan tempat umum, sudah pasti aku akan menciummu Nia!" bisik Zian yang melihat bibir Agnia begitu menggoda.
Agnia menjulurkan lidah, "Otaknya ngeres Mulu! Mesti di sapu nih!"
Zian tergelak, mereka lantas masuk kedalam lift secara bersamaan, dan saat pintu lift hendak tertutup, satu tangan menahannya.
"Tunggu!"
"Daddy?"
"Dave?"
Seru keduanya saat Dave menahan pintu lift agar tidak tertutup.
"Aku juga harus ke bawah, ada sesuatu yang harus aku urus!" ujar Dave dengan ikut masuk ke dalam lift.
Kini mereka bertiga berada di dalam kotak besi yang ukurannya tidak besar itu, Dave masih terlihat canggung pada Zian, terlebih dia menatap Zian yang melihat Agnia penuh cinta, namun Agnia hanya berdiri menghadap ke arah samping.
"Daddy mau kemana?"
"Ada sesuatu yang harus Daddy urus, kamu nanti tunggu mommy di atas saja!" tegas Dave,
Zian berdecih, "Kau tenang saja, aku tidak akan membawanya sekarang! Jadi tidak usah khawatir begitu!"
Agnia menoleh ke arahnya, "Om Zian! Udah deh."
Zian mengulum senyuman, dia lantas merogoh ponsel di balik saku celananya, lalu bersandar pada dinding lift.
Agnia keluar lebih dulu, karena kantin yang dia maksud hanya berjarak satu lantai saja, dia juga membiarkan mereka kembali berdua saja.
"Awas jangan berantem lagi!" ucapnya sesaat sebelum keluar.
"Tentu tidak Nia! Setelah selesai cepatlah naik ke atas dan kunci pintu." teriak Dave saat pintu lift hendak tertutup.
Gadis itu melambaikan tangannya dengan terkekeh kecil lalu menuju ke kantin yang dia maksud. Sementara Zian harus kenbali berduaan dengan Dave.
Hening
Tidak ada yang berbicara, hingga lift turun hingga ke dua lantai di bawahnya.
"Aku dengar kau memulai usaha baru di kota ini? Apa kau tidak berniat kembali ke Singapura?" tanya Zian memulai percakapan.
__ADS_1
"Tidak ... aku tidak akan kembali!"
Zian mengangguk, "Mobil lama ku sudah tidak terurus, kalau kau membutuhkan kendaraan, aku bisa meminjamkannya Dave."
Zian memang sudah tahu keadaan Dave dari Kim, dan Agnia sendiri, walaupun dia juga menawarkan bantuan, tentu saja Dave tidak akan semudah itu menerimanya.
"Tidak terima kasih! Aku masih bisa memakai mobil Laras!" Sahut Dave bertepatan dengan terbukanya pintu lift.
Mereka sama sama keluar, lift itu tepat mengarah pada pintu masuk dan juga lobby apartemen yang sangat sederhana, tidak ada penjaga parkir disana, hingga mereka harus berjalan kembali melewati tempat parkir.
Dave berjalan dua langkah lebih lambat dari Zian yang berada di depannya, rasanya dia enggan menyusulnya apalagi menyamainya.
Zian masuk kedalam mobil, dan jarak mobil mereka lumayan jauh. Dave berhenti sesaat setelah Zian menutup pintu mobil.
"Apa kau sungguh sungguh dengan ucapan mu Zian?"
Zian membuka pintu mobil, "Ucapanku? Maksud mu tentang mobil? Ya tentu saja ... kau boleh mengambilnya kapanpun kau bisa."
"Bukan itu! Tapi tentang perasaanmu pada putriku!"
"Oh ... itu, tentu saja! Kau masih meragukan ku?"
"Tidak!"
Dave kembali melangkah menuju mobil yang dipinjamkan oleh Laras, sementara Zian menatap punggungnya di balik spion yang berada disamping mobil.
Setelah memastikan Zian pergi, dia kembali keluar dari mobil, masuk kembali kedalam apartemennya.
.
.
Setelah kepergian Zian, Agnia menghampiri Dave yang berdiri di balkon, dia melihat ayahnya itu tengah berdiri dengan tatapan yang tidak beralih sedikitpun, selama itu Dave hanya mematung dengan fikiran yang tidak karuan.
"Daddy? Are you Ok?"
"Hm ... Daddy baik baik saja Sweetheart!"
"Apa yang Daddy fikirkan?"
Agnia melingkarkan tangannya dilengan ayahnya, lalu berdiri lurus sejajar dengan kepala yang bersandar di bahunya.
"Daddy hanya merenungkan semua yang terjadi, but it's fine Nia!"
"Om Zian bilang Daddy belum berdamai dengan masa lalu Daddy, benar kan?"
Dave menoleh kearah putrinya lalu mencuil hidung mancungnya, "Apa harus selalu om Zianmu yang mengatakannya padamu sayang?"
__ADS_1
"Daddy!"
Dave menarik bahu sang putri, dia lantas memeluknya erat. "Daddy banyak sekali kehilangan waktu Daddy bersama mu Nia! Hingga Daddy tidak tahu, kamu tumbuh jadi gadis pintar dan dewasa seperti ini. Daddy menyesal sekali,"
"Nia senang Daddy nyesel, itu artinya Daddy akan ganti waktu yang telah hilang itu sekarang kan? Habiskan waktu dengan Nia,"
"Tentu sayang! Daddy akan lakukan apapun agar bisa mengganti waktu yang Daddy lewatkan."
Agnia semakin mengeratkan pelukannya, sosok Dave perlahan berubah, dan dia senang akan hal itu.
"Apa Nia sungguh sungguh cinta pada Zian?" tanyanya mengejutkan.
Agnia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia hanya tersenyum penuh arti menatap sang ayah yang menunggu jawaban.
Dave terlihat mengangguk anggukan kepalanya pelan, lalu kembali memeluk buah hatinya itu.
Malam semakin larut, Laras datang dan membawa makan malam yang telah dia janjikan, suasana malam yang begitu Agnia rindukan selama ini, makan bersama dengan kedua orang tuanya.
"Dave? Kapan kau akan mulai dengan usahamu?" tanya Laras dengan menata makanan di atas piring, dia tidak mahir memasak, apalagi menata makanan diatas piring, namun mereka benar benar mau berubah demi Agnia.
"Mungkin lusa! Ada sesuatu yang kurang yang harus aku siapkan!" jawabnya dengan menyodorkan piring kosong pada mantan istrinya itu.
"Katakan apa yang bisa aku bantu Dave! Jangan sungkan, kita bisa bekerja sama."
Tanpa disangka Dave mengecup kepala bagian belakang Laras saat melewatinya, "Terima kasih! Aku akan katakan jika aku benar benar membutuhkan bantuanmu!"
Laras terpaku ditempatnya, seolah olah tersengat listrik saat Dave dengan atau tidak sengaja menciumnya.
Agnia memperhatikan keduanya dari sofa, terlihat bibirnya melengkung lalu alisnya tiba tiba mengkerut. Dia benar benar merasa berada dirumah yang sebenarnya disebut rumah.
"Daddy nakal ya!" serunya dengan tertawa.
Membuat Laras mengerjapkan kedua matanya saat anaknya bicara.
"Nia!" Seru Dave dengan berkacak pinggang,
"Memang iya, Daddy sengaja tuh Mom!"
Laras hanya menggelengkan kepalanya, "Sudah jangan ribut, ayo kita makan!"
Ketiganya duduk dengan meja makan yang hanya muat empat orang saja, Dave duduk dihadapan Laras dan juga Agnia, mereka saling tertawa dan menceritakan tentang bagaimana Agnia saat kecil.
Hingga suara ketukan pintu terdengar,
"Biar aku saja yang buka!" Dave beranjak dari kursi dan menuju pintu.
"Ya?" tanya Dave saat melihat seseorang berdiri didepan pintu.
__ADS_1