
Flashback on
Kim menyerahkan laporan dana dan aset perusahaan yang diminta oleh Zian, dihari Arkhan datang ke kantor. Dia juga menghubungi pengacara untuk berdiskusi langkah terbaik apa yang harus dilakukan.
Walaupun dia memiliki cukup banyak dana untuk membantu Arkhan dan juga Dave, tapi tidaklah etis jika melakukannya. Terlebih dia tidak ingin terprovokasi oleh ucapan Arkhan mengenai Agnia.
Mereka saling memiliki, dan dia sudah pasti akan memilikinya, menolong Arkhan hanya akan membuat posisinya Dimata Agnia tercoreng, terlebih gadis itu saja marah ketika sang kakek menyamakannya dengan sebuah barang yang akan dimiliki oleh orang yang bisa membantunya. Apalagi kalau dia tahu Zian membantu mereka. Dia pasti tidak akan terima.
"Bos ada yang ingin bertemu denganmu!" Kim membuka lebar pintu ruangannya, sesosok pria masuk kedalamnya.
"Selamat pagi Mr Zian!" ucapnya lembut.
Zian menatapnya, pria itu duduk setelah Zian mempersilahkannya.
Dia mengaku datang karena mendengar bahwa Zian seorang pembisnis hebat.
"To the point Mr Zian, aku datang dari perusahan PPE untuk menawarkan sesuatu yang menarik pastinya untuk anda."
"Oh ... silahkan!"
Kim membisikkan sesuatu tepat pada telinga Zian. "Perusahaan perantara Epek."
Zian menyunggingkan senyuman ke arahnya, "Anda seorang Broker?" tebaknya setelah mendengar apa yang dikatakan Kim.
"Benar Tuan, saya seorang stockbroker, jadi anda sudah dapat perkiraan bahwa kedatangan saya kemari untuk...."
Zian tergelak, walaupun dia tidak berniat membeli, namun dia cukup menghargai apa yang akan pria tersebut katakan.
"Pastinya kau datang kemari untuk menjual saham bukan?"
"Pengacaramu sendiri yang merekomdasikan agar saya datang kemari, karena dia yakin anda akan sangat tertarik." ucapnya lagi.
__ADS_1
Dia memperlihatkan grafik berwarna merah dari alat yang dia bawa, dengan banyak penjelasan yang Zian sedikit paham. Dia pembisnis hotel, dan tidak terlalu tertarik pada naik turun saham satu perusahaan.
"Ada satu perusahaan yang tengah kolaps, dan sahamnya sangat menarik!" ungkapnya lagi.
Pria tersebut menyebutkan jika pemilik saham tengah dalam pengajuan akusisi, tapi dia tidak menyebutkan bahwa Dave lah yang dimaksud.
"Jika anda tertarik, saya bisa mengatur agar anda bisa bertemu dengan seseorang yang akan menjual semuanya." ungkapnya lagi.
Kim pun mengumpulkan informasi, saat itu Zian menjadi bimbang, antara perusahaan Dave juga saham yang kini ditawarkan padanya.
"Aku rasa ini lebih cocok, dengan begitu kau bisa menggunakan sahamnya."
"Aku paham ...!"
Setelah berbagai transaksi, akhirnya Zian membeli saham itu, dia juga memenangkan akusisi dipengadilan melalui stockbroker itu, tapi sampai terakhir dia tidak tahu jika Karina lah yang menjualnya.
Tepat saat dia menuju ke kantor dan rapat penting yang dihadirinya, Zian baru bertemu dengan sosok wanita cantik berrambut blonde.
Stockbroker itu memperkenalkannya sebagai pengusaha wanita dari Eropa, Zian pun hanya menyalaminya lalu kembali duduk.
Pintu terbuka, Kim menghampiri Zian dan menyerahkan satu berkas, dia juga membawa kabar yang membuat Zian terperanjat kaget,
"Kau tahu siapa dia? Dia Karina, mantan istri Dave, dan saham yang dia jual adalah saham miliknya yang dia peroleh dari pemilik pemilik saham kecil."
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang Kim?"
"Informasi ini baru saja aku dapatkan, bloker itu hanya mengatakan dia pembisnis dari Swiis bukan?" timpal Kim, membuat Zian menghela nafas, karena dia pun baru mengetahuinya.
Setelah kepergian Karina, Zian tidak langsung keluar, dia dan Kim sempat berdiskusi, mereka juga menghubungi pengacara yang memberikan bloker itu untuk ke perusahaan Zian. Dan pengacara itu pun tidak tahu sangkut pautan perusahaan Dave yang dibicarakan oleh Zian tempo hari.
Flashback off
__ADS_1
"Aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan Zian, Karina dan kau memang sengaja dan kalian bersekongkol untuk membuatku hancur!" seru Dave dengan tetap emosi.
"Terserah kau percaya atau tidak Dave, itu sudah tidak lagi penting buatku, yang pasti perusahaan itu saat ini ada dalam kendaliku."
Dave kembali maju dan menyerobot ke arah Zian, dia juga merangsek kerah kemeja Zian, "Kau memang ba jingan!" ucapnya dengan nada tinggi lalu mendorong tubuh Zian.
Zian yang terdorong beberapa langkah itu tetap tenang, dengan wajah datar tanpa ekspresi. Membuat Dave justru semakin emosi.
"Apa kau ingin aku bersujud dikaki mu agar kau tidak lagi ikut campur dalam hidupku Zian?"
"Tidak! Semua ini hanya kebetulan Dave, kau tidak paham juga?"
"Haruskah aku percaya semua adalah kebetulan semata Zian? Kau sengaja menolong Jasmine dulu, kau juga sengaja mendekati putriku, dan sekarang kau sengaja membeli saham itu agar bisa mengendalikannya! Kau ingin aku percaya semua kebetulan Zian?" selorohnya dengan suara keras.
"Kenyataannya memang begitu Dave!"
Bugh
Dave melayangkan pukulan pada rahang Zian, Kim dan seorang security itu berhasil menariknya agar tidak melakukan hal yang lebih ekstrim lagi. Begitu pun dengan Agnia, dia membantu Zian dengan berdiri melindunginya, namun Zian menyuruhnya untuk menyingkir karena takut Dave akan bertindak jauh.
"Aaaahkkk...!!" Teriak Dave dengan netra tajam ke arah Zian dengan Agnia yang berada didepannya.
Dia berhambur keluar dari ruangan Zian dengan marah, Kim memastikan Dave keluar dengan di ikuti oleh security yang sedari tadi ikut dengannya. Sementara Agnia memeriksa luka di sudut bibir Zian.
"Aku tidak apa-apa! Ini hanya luka kecil saja!"
"Kenapa kau diam saja! Kenapa tidak melawan." sungut Agnia dengan pandangan nanar.
Perasaannya tidak karuan, dia memang membenci Dave karena dia sudah menjadi orang yang pengecut, namun juga dia tidak menyangka Dave telah hancur dan terlihat menyedihkan.
"Pergilah Nia ... Dave pasti lebih membutuhkanmu saat ini!" lirih Zian yang seakan paham dengan tatapan Agnia.
__ADS_1
Agnia menggelengkan kepalanya, setitik demi setitik air matanya luruh juga. "Aku tidak mau!"
"Pergilah!! Aku tidak apa-apa." Zian menganggukkan kepalanya pelan.