
Setelah kepergian Dave dan juga Kim, Zian kembali ke kamar untuk menuntaskan sesuatu yang beberapa kali digagalkan oleh Dave. Sesuatu yang telah dia simpan sejak lama untuk menunggu hari ini tiba, sesuatu yang selalu Agnia pancing namun berakhir dengan bersolo ria.
Zian menaiki tangga dengan riang, siulan lembut terdengar dari mulutnya, penantian panjang akhirnya tiba juga, Dave sudah dia singkirkan setidaknya untuk malam ini.
Perlahan pintu kamar dia buka, terlihat cahaya kamar yang hanya diterangi oleh lampu tidur.
"Aku tidak sabar untuk malam ini!" gumamnya seraya berjalan ke arah ranjang, dimana Agnia dia tinggalkan tadi.
"Honey ... Nia! Kamu sudah tidur?" ujarnya dengan mengelus lembut pipi Agnia.
Zian menatap wajahnya yang tengah terlelap, begitu cantik begitu damai. Entah kenapa perasaan yang menggebu gebu sebelumnya kini sirna, dia hanya menatap sang istri.
Kenapa aku jadi tidak tega mengganggunya, lalu untuk apa aku menyuruh Kim agar membawa Dave dari sini. Zian membatin dengan terus menatap Agnia yang tertidur pulas, suara dengkuran halus terdengar membuat Zian tidak tega membangunkan gadis kecil yang telah menjadi istrinya itu.
Masih banyak waktu untuk melakukannya, kenapa kau buru buru sekali Zian, dia sudah jadi istrimu, kamu bisa melakukannya kapan saja. Zian kembali membatin.
Lalu pelan pelan dia merentangkan tangannya, dan mengangkat kepala Agnia, menjadikan lengannya menjadi bantal sang istri dan mendekapnya erat.
Agnia menggeliat, secara bersamaan Zian tangan Zian menepuk nepuk pelan punggungnya hingga Agnia kembali pulas.
Rasa hangat yang menjalarinya membuat Agnia semakin larut di dalam alam mimpinya, tanpa sadar dia memeluk Zian.
Pria berusia 34 tahun itu mengulas senyuman, perasaan nyaman dan juga bahagia kini dirasakannya, definisi memiliki tidak berpusat pada melakukan apa yang selama ini dia inginkan, sejak awal hanya Agnia lah yang bisa membuatnya menahan sesuatu yang selama ini dia dapatkan dengan mudah, bahkan wanita kerap mendatanginya hanya untuk memberikannya kepuasan. Namun sangat berbeda saat Agni muncul dan mengisi kekosongan hatinya.
Tidak terasa, Zian ikut serta dengannya ke alam mimpi, menjemput mimpi mimpi indahnya bersama Agnia.
Sementara itu Kim dan Dave benar benar pergi ke pesta pernikahan. Dimana pesta itu adalah pesta pernikahan teman Kim sewaktu sekolah.
Kim awalnya tidak berniat datang, selain dia tidak punya pendamping untuk datang kesana, dia juga memang hampir tidak pernah datang pada pesta apapun. Namun tugas sialan dari Zian membuatnya mau tidak mau melakukannya.
Dia selalu beruntung, aku tidak perlu mencari alasan yang tidak masuk akal untuk ide bodoh ini, dan menjadikan pesta temanku jadi alasannya. Kebetulan yang sangat menguntungkan bukan. batin Kim saat mobil yang dikemudikan Dave berhenti disebuah hotel berbintang lima.
"Terima kasih Dave, karena mau menemaniku ke pesta temanku ini." ujar Kim membuka seat belt.
"Tidak masalah Kim ... bukankah kita teman? Aku fikir tidak ada salahnya kalau kita saling membantu sesama teman, seperti kau yang selalu membantu Zian, terlebih malam ini!" jawabnya menohok.
Kim sedikit tersentak, namun raut wajahnya sama sekali tidak berubah, dia hanya mengulas senyuman lalu membuka pintu mobil.
"Kau siap?" tanyanya datar.
"Sure Kim!" Dave membuka seat belt lalu keluar dan berjalan disamping Kim yang tampak elegan.
__ADS_1
Mereka berdua masuk kedalam ballroom hotel dimana pesta diadakan. Semua mata menatap keduanya dengan rasa penasaran, kebanyakan dari mereka memang teman teman sekolah Kim.
"Kim ... kau sudah datang?" seru salah satu temannya yang menghampirinya.
"Tumben sekali kau bisa hadir ke pesta temanmu kim? Apa karena saat ini kau punya pasangan untuk kau ajak!" seru yang lain berkomentar.
Kim hanya mengulas segaris senyuman, tanpa menghentikan langkahnya. Dave melihat teman teman Kim yang sengaja menertawakannya.
"Apa mereka selalu mengatakan hal seperti itu padamu?" tanya Dave saat berjalan ke arah panggung untuk menyalami pengantin.
"Hm ... tapi aku tidak pernah perduli!"
"Benarkah? Kau tidak terganggu karena ucapan mereka itu benar? Apa kau tidak pernah mengajak pasanganmu ke pesta temanmu?"
"Aku tidak pernah pergi ke pesta kecuali pesta kantor Dave! Dan berhenti bertanya hal konyol seperti itu, kau sama saja seperti mereka!" ujarnya dengan ketus.
"Kim ... kau sembunyikan dimana kekasihmu ini? Aku baru melihatmu bersama seorang pria!"
Kim hanya menoleh sebentar lalu kembali berjalan.
"Apa kau menemukan nya di situs kencan online?" Wanita tersebut menertawainya.
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah, selama ini aku sibuk bekerja di luar negeri, jadi tidak bisa menemani kekasihku setiap saat."
"Aku hanya membantumu dengan caraku sendiri, semoga bisa membantu! Aku tahu kamu wanita kuat, tapi aku benar benar ingin memukul mulut mereka yang menertawakanmu dibelakang."
Kim terdiam, rasa hangat yang menjalar ditangannya membuat hatinya berdebar lebih kencang, dia menatap sekilas ke arah wajah Dave yang bicara tanpa menoleh padanya.
"Abaikan saja ... toh aku tidak mencari pengakuan dari mereka Dave!"
Keduanya berjalan ke arah pengantin, membuat semua orang yang berada tidak jauh dari sana melihat ke arah Kim dan juga Dave.
"Kim ... akhirnya kau datang juga!"
"Selamat atas pernikahanmu Ivanna." Ujar Kim saat menyalami kedua pengantin.
"Terima kasih Kim, kapan kau menyusul kami!" timpal wanita yang bernama Ivanna.
Kim hanya mengulas senyuman lagi, dia sedikit menggeser posisi berdiri.
"Secepatnya ... kalian akan menerima undangan pernikahan secepatnya!" Sahut Dave yang menggenggam tangan Kim lebih erat.
__ADS_1
"Wah wah ... rupanya Kim akan segera mengakhiri masa masa kejomloannya." seru seorang pria dari belakang Kim dan juga Dave.
Kim melirik Dave dengan tajam, "Seharusnya kau tidak perlu mengatakan omong kosong seperti itu, kau membuatku dalam masalah Dave!"
"Kau tenang saja! Bilang pada mereka kalau aku calon suamimu Kim!"
"Justru itu sialan kau Dave!!" gumam Kim dengan kesal.
Dave hanya tersenyum dengan memegangi tangannya erat, namun situasi saat ini tidak memungkinkan Kim untuk melepaskan tangan Dave.
"Wah ... teman teman, ternyata singa betina kita sudah punya pawangnya!" Ivanna berseru dengan menggunakan microfon, membuat para tamu bersorak tepuk tangan. Dave naik ke atas panggung dan merebut microfon dari tangannya, "Maaf ... aku ingin meluruskan sesuatu hal di sini, singa betina yang kalian bicarakan benar kekasihku, hubungan kami sudah berjalan dua tahun, tapi kalian tentu tidak pernah bertemu denganku karena aku sibuk mengurus perusahaan ku di luar negeri, dan kalian juga tahu bahwa kekasihku wanita super sibuk, dia tidak akan meladeni kalian semua. Terima kasih!" terangnya yang di akhiri dengan tertawa.
Sialan kau Dave.
Kim terpaksa kembali tersenyum, saat semua kembali tepuk tangan untuk Dave dan keterangannya yang tidak penting baginya. Dave berjalan turun dan menghampirinya.
"Kau membuatku dalam masalah besar Dave Arkhan," gumamnya dengan berpura pura tersenyum.
"Aku justru membantumu membungkam mulut mereka Kim ... kau harus berterima kasih padaku nanti!" Kekehnya dengan merengkuh bahu Kim. Sementara Kim tidak bisa berkutik saat Dave melakukannya.
Kim dan Dave akhirnya kembali bergabung dengan tamu yang lain, terlihat beberapa tamu menyambanginya hanya untuk bertanya lebih jauh mengenai apa yang dikemukakan oleh Ivanna tadi, dan juga kejelasan dari Dave.
"Apa itu benar Kim?"
Kim tidak ingin menjawab pertanyaan tidak penting itu, dia hanya berdiri dengan anggun, mengambil segelas wine dan mencecapnya, "Kau bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan olehku tadi! Apa perlu aku mengulanginya lagi?" sahut Dave.
"Wah benar rupanya!" pria tersebut terkekeh lalu mengacungkan kedua jempolnya kearah Kim kemudian berlalu begitu saja, membuat Kim justru murka.
Ini semua gara gara kau Zian, aku terjebak pada situasi sulit karenamu. Dan kau Dave ... sama sekali tidak membantu, justru semakin membuatku dalam kesulitan. batinnya bicara.
Dave melihat raut kekesalan dari wajah Kim, dia kembali memegang tangannya.
"Rileks saja! Agar mereka percaya dan menutup mulut mereka! Kalau kau sendiri tegang begitu! Mereka justru tidak akan percaya Kim!"
"Kau yang harusnya menutup mulut Dave! Jika bukan kau yang mengatakan omong kosong itu, mereka juga tidak akan terus menerus datang dan bertanya hal itu padaku!" ujarnya menohok.
"Ooh ... ayolah Kim, aku hanya membantumu!!"
Kim berjalan keluar dari ballroom, sudah cukup baginya membiarkan Dave bertingkah sesukanya. Dave bergegas menyusulnya,
"Kim ... tunggu aku!! Bukankah kau yang meminta bantuanku tadi, aku hanya ingin membantumu keluar dari masalah dan menghentikan mereka yang mencibirmu!"
__ADS_1
"Shutt up your mouth Dave!!"