
Zian menggendong gadis kecil berusia 5 tahun itu menuruni eskalator, wajahnya berbinar dengan dua manik hitam tajam menatap kesegala arah, berharap dia melihat gadisnya itu. Dan tidak sabar ingin bertemu dengan gadis yang dia cintai yang sudah menghilang selama 2 bulan itu.
"Dimana tadi posisimu!"
"Aya tidak tahu, pokoknya Aya hanya mengikuti Kak Nia, membeli sepatu lalu duduk, Kak Nia beli Eskrim ... lalu hilang! Karena Aya mengejarmu!" Aya menjelaskan panjang lebar dengan kaki yang mengacung memperlihatkan sepatu barunya.
Zian mendengus pelan, bahkan dia tidak mengerti apa yang dikatakannya, "Stand es krim itu banyak, kau pergi ke lantai berapa?"
"Lantai berapa ya?" Aya malah mengulangi pertanyaan Zian.
"Kau tahu merek sepatumu?"
"Enggak ... Aya kan belum bisa baca lancar! Aya belum sekolah."
Sepanjang eskalator bergerak turun, tak satupun pertanyaan Zian yang membuahkan jawaban memuaskan dari mulut kecil Aya.
"Lebih baik Kita ke meja informasi saja!"
Gadis kecil itu mengangguk, "Kak Nia nunggu di meja informasi?"
"Bukan! Tapi kita akan mengumumkannya!"
"Mengumumkan apa?"
"Sudah diam saja, kau tidak usah banyak tanya!" ketusnya.
Mereka tiba dimeja informasi yang terletak di lantai dasar, dan mengatakan tujuannya pada petugas yang duduk disana.
"Yang hilang remaja berusia 17 tahun?" tanya petugas perempuan itu, dia sedikit aneh karena biasanya yang datang menemuinya ibu-ibu yang kehilangan anak-anak kecil.
"Umumkan saja! Dia terpisah saat di stand eskrim, dan toko sepatu." keluh Zian menceritakan sesuai apa yang diceritakan Aya padanya.
Petugas perempuan itu tersenyum tipis lalu mengambil mikrofonnya, memanggil nama Agnia.
"Kepada pengunjung yang terhormat, kami informasikan bahwa ada yang melaporkan bahwa telah kehilangan anak remaja berusia tujuh belas tahun bernama Nia ... untuk saudari Nia, ditunggu Aya di meja informasi. Terima kasih!"
Perempuan itu tampak meletakkan kembali microfon dan mengulum senyuman kearah Zian. Sedangkan yang ditatap mengacuhkannya, dia menurunkan Aya dari gendongannya, dan berjongkok dengan bertumpu pada satu lututnya.
"Dengar ... kali ini kau harus membantuku oke! Kau tunggu disini dan jangan bilang bertemu denganku! Bisa?" Zian ingin membuat Agnia terkejut, dan berfikir semua ini terkesan tidak sengaja. Namun Aya mengernyit tidak mengerti,
"Jadi Aya bilang apa?" ucapnya dengan kedua tangan yang dibuka setengah rentangan.
__ADS_1
"Pokoknya jangan bilang bertemu denganku, nanti aku akan muncul tiba-tiba dari sana!"
Aya menggaruk kepalanya, "Mau sembunyi?"
"Ya ... kurang lebih begitu! Nanti aku akan membelikan eskrim yang banyak untukmu."
.
.
Sementara Agnia yang mendengar suara informasi itu bergegas pergi ke lantai dasar, dia menaiki lift agar cepat sampai ke meja informasi, dengan lutut yang sudah terasa lemas karena sedari tadi terus mencari keberadaan Aya.
Agnia berlari menghampiri gadis kecil yang tengah duduk di kursi samping meja informasi, lalu memeluknya dengan kedua mata yang mulai menganak.
"Aya ... syukurlah! Kak Nia cari Aya kemana-mana!" ujarnya dengan terus mengelus kepala kecil yang kini terkekeh melihatnya.
"Hilang di mall itu menyenangkan kak Nia! Apala---" ucapannya terhenti begitu saja, mengingat pesan yang dikatakan Zian padanya untuk tidak mengatakan bertemu dengannya.
Zian sendiri bersembunyi dibalik tembok, melihat sosok Agnia yang begitu dia rindukan, tapi sungguh aneh karena dia justru ingin membuat pertemuan ini seolah tidak sengaja dan dia pun seolah terkejut.
"Aya tadi kemana? Kok Aya udah disini aja?" ujar Agnia yang heran gadis kecil itu punya inisiatif untuk pergi ke meja informasi seorang diri, padahal Aya sendiri tidak pernah pergi ke mall itu, bahkan mungkin tidak tahu dimana letak meja informasi tersebut.
"Aya ... Aya kan pintar kak Nia!"
"Sekarang kita pulang aja!" ajak Agnia lalu bangkit dan menghampiri meja informasi untuk mengatakan terima kasih.
"Sekarang Aya mau beli Eskrim." gadis itu menggoyang-goyangkan tangannya dengan kedua mata yang menatap kearah tembok dimana Zian bersembunyi.
"Berarti kita harus ke atas lagi Aya! Kita beli ditempat lain saja sekalian pulang yaa!" Jujur Agnia yang sudah lemas dan masih diliputi rasa khawatir jika kembali ke atas dan Aya hilang lagi.
"Pokoknya Aya mau Eskrim, tadi juga Kak Zian udah bilang mau beliin Aya eskrim!" ujarnya tapi kemudian menutup mulut kecil nya sendiri.
"Kak Zian?" Agnia mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Siapa?" tanyanya lagi.
Zian memejamkan mata saat mendengar anak kecil itu keceplosan, dia pun berjalan menghampiri mereka dengan perasaan yang sulit diungkapkan.
"Nia ...!" lirihnya menatap punggung gadisnya.
Deg
__ADS_1
Agnia jelas-jelas mendengar suara itu, namun dia tidak ingin menoleh, "Ayo Aya ... kita pergi!" ujarnya dengan menarik tangan Aya.
"Kak Nia ...!"
Zian dengan cepat mengejarnya, "Tunggu Nia! Kau mau kemana lagi? Aku sudah mencarimu kemana-mana selama ini!"
"Bukan urusan Om! Nia gak akan pernah kembali ke rumah itu lagi." Ujarnya dengan kembali mengayunkan kakinya dengan cepat.
Zian mencekal lengannya, "Ada banyak yang harus aku jelaskan, terutama mengenai Dita! Jangan salah faham dan terus pergi dariku Nia...!"
"Sudahlah Om ... Nia gak mau dengar penjelasan apapun dari Om Zian, biarkan Nia hidup tenang."
"Tidak bisa, aku tidak bisa melakukannya ... aku hampir gila mencarimu kemana-mana Nia! Ayo ikut pulang!"
Kepersekian detik mereka saling terdiam, hanya kedua mata yang saling melihat, Zian begitu merindukannya, dan ingin sekali memeluknya, namun dia tetap menahannya karena tidak ingin Agnia memberontak dan kembali pergi jauh.
Sedangkan Aya berdiri ditengah kedua orang yang terdiam itu bingung dengan melihat mereka bergantian.
"Aya ayo kita pergi!" ujar Agnia mengajak Aya.
"Aya tolong katakan pada kak Nia mu! Jangan pergi lagi, dan membuat ku gila!" ucap Zian yang melihat sikap Agnia yang keras kepala itu tidak ingin mendengarkan apapun penjelasannya.
"Aya bilang padanya, aku tidak mau!"
Gadis kecil yang semakin bingung itu masih menatap keduanya bergantian, "Kak Aya sama kak Zian lagi marahan ya?"
Ingin sekali Agnia tertawa terpingkal mendengar Aya memanggilnya kak Zian, namun sekuat tenaga dia menahannya, dia masih terlalu muak dengan sikap Zian yang tidak tegas pada Dita dan ditambah melihatnya tengah berciuman.
"Itu karena kak Nia tidak mau mendengar penjelasan ku! Semua hanya salah faham dan aku punya buktinya!" ujarnya bicara dengan Aya namun kedua mata tertuju pada Agnia.
Agnia mendecih, "Apa ayang mau dibuktikan? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, dan aku tidak bodoh! Bilang padanya Aya." ucapnya dengan menatap tajam pada Zian.
Aya menepis tangan Agnia, lalu duduk dikursi, "Kalian bicara saja berdua, Aya gak ngerti orang pacaran!"
.
.
.
Nah mereka udah ketemu, tapi perjalanan gak semulus jalan tol yaa, Agnia masih keras kepala juga ... gak gampang begitu saja, mereka ketemu kemudian mau gitu aja di bawa pulang lagi ... sorry sorry nih Om, Nia bukan Dita yang mau mau aja, dibawa ke atas ranjang apalagi.😅 tahu rasa kan,
__ADS_1
Tahan dulu Nia, biarin Si Om garuk garuk kepala, secara cewe kan maunya terus dibujuk bujuk kalau bisa terus dibujuk sampe jungkir balik terus salto salto biar mau... wkwkw