
Laras masuk ke dalam kamar, dan melihat Rendra tengah terduduk ditepi ranjang dengan memegangi kepalanya yang terasa berat, ditangannya terselip secarik kertas dari Lady dengan kecupan bibir berwarna merah, juga foto mereka berdua yang tengah bercum buu.
Ceklek
Pintu terbuka begitu saja, Rendra mendongkak ke arah pintu dan melihat Laras yang masuk.
"Hai sayang, kau sudah lama menungguku?" ujarnya dengan langsung melingkarkan kedua tangan di lehernya.
"Kau...?" ucap Rendra terheran, kedua matanya terbelalak dengan kehadiran Laras yang tiba-tiba.
"Hmm ... ini aku! Kau fikir siapa? Hem ...."
Kenapa Laras tiba-tiba ada disini? Dan Lady ... kemana dia, foto dan note ini? Tapi aku tidak ingat apa-apa.
Laras mengernyit, "Kenapa? Kau terlihat bingung...."
Rendra yang masih merasa pusing itu tersenyum kecut, "Aku tidak apa-apa, hanya saja sepertinya aku tidak ingat apapun sebelumnya."
Laras mengambil secarik kertas dan foto dari tangannya, "Apa ini?"
Kedua matanya membulat seketika, lalu mendengus kasar, "Ternyata kau sama saja dengan pria diluaran sana!"
Rendra kembali duduk, kepalanya masih terasa berat, "Maaf sayang, tapi aku tidak ingat apapun sebelum kau datang."
Laras kembali melingkarkan tangan, "Kau tidak perlu meminta maaf, kita hanya partner sekk s, aku senang, kau senang! Aku tidak peduli urusanmu diluaran."
Rendra mengangguk, melihat kedua mata dan gerak bibir Laras, Kenapa Laras sangat mirip sekali dengan Lady? Sorot mata nya juga sama.
"Kau masih merasa pusing?"
"Sangat, dan dadaku juga berdebar!"
"Kenapa bisa begitu?"
Rendra mengerdikkan bahu, "Entahlah, kepalaku pusing dan berat sekali."
Laras mengedarkan pandangan, dan melihat meja dengan botol wine, "Kau kebanyakan minum sayang!"
"Mungkin...."
Rendra tidak merasa menghubungi Laras untuk datang, apalagi sebelum nya ada mahluk luar biasa bernama Lady, dan dia belum menyadari jika dirinya tertipu habis-habisan.
Melihat gelagat aneh dari Rendra, Laras pun merasa curiga, "Apa dia memberimu sesuatu?"
"Tidak ...!"
"Kalian sempat melakukannya bukan?"
Bagaimana dia tahu?
__ADS_1
"Oh ayolah, tinggal jawab saja!"
"Iya ... mungkin, aku tidak ingat!"
Laras mendengus, dia melihat ke arah Rendra yang masih terlihat linglung dengan terus memegangi kepalanya yang berat, "Kau periksa ponselmu, lihat panggilan terakhir atau pesan terakhir, Cepat, jika kecurigaanku benar, waktu mu tidak banyak!"
Rendra menuruti perkataan Laras, dia memeriksa ponselnya, namun tidak ada kecurigaan, pesan terakhir adalah pesan yang di kirim pada rekannya, juga panggilan terakhir hanya pada istrinya.
"Tidak ada yang aneh!!" serunya lemah.
"Sepertinya aku harus pergi," ujar Laras dengan menyambar bibir Rendra sebentar.
"Setelah urusanmu selesai, hubungi aku! Aku merindukan permainanmu."
Laras bergegas keluar dari kamar bernomor 212 itu dengan cepat. Lalu dia berhenti dia ujung lorong, dan mendaratkan pantatnya di sebuah sofa.
"Jika dugaanku benar, sebentar lagi akan ada wanita yang masuk kedalam, dia mungkin wanitamu yang lain atau bahkan istrimu! Dan Wanita yang baru saja kau kencani itu yang mengerjaimu, dan jiga aku!!" gumamnya dengan mengepalkan tangan.
"Untung saja aku cepat menyadari, dan kau benar-benar bodoh Rendra!!" ungkapnya lagi.
Benar saja, sesosok wanita datang, dia mengetuk-ngetuk kamar 212 yang di tempati Rendra, Pria itu terlihat membuka pintu, lalu sang istri melesak masuk.
"Sudah aku duga, jika aku tidak buru-buru keluar, maka yang terjadi sudah bisa ketahuan, wanita itu akan melihatku dan suaminya!"
"Lalu siapa yang menghubungiku?"
Laras pun berlalu meninggalkan hotel, dia kembali pulang ke rumah dengan hati yang dongkol, "Benar-benar berani nantangin aku!"
.
.
"Lo mau apa dengan uang ini?"
Agnia menggelengkan kepalanya, "Gue gak mau apa-apa, gue mau balikin sama keluarga nya aja deh!!"
"Gila lo, mana ada begitu!!"
Agnia mengernyit, "Ya ada ... gue?"
"Kalau semua orang berfikir kayak lo, baby-baby kayak lo, gue bakal ganti istilah sugar baby."
"Diganti jadi apa?"
"Jadi sahabat surga."
Kedua nya kembali tertawa. "Terlalu baik hati lo Nia, makanya temen-temen lo pada ngiri sama lo!"
Agnia hanya menghela nafas, "Hari ini gue tambah jahat, dan thanks, semua berkat lo! Dan obat itu."
__ADS_1
Dreet
Dreet
Ponsel Cecilia menggelepar di atas meja, Cecilia mengernyit dan mengangkat sambungan teleponnya, "Weh... kenapa lo?"
"Jemput gue di bawah, gue gak kuat naik!"
Cecilia mendengus, "Kenapa gak nyuruh supir naikin lo?"
Agnia mengernyit dan memukul paha mulusnya, "Naikin Nita, apaan lo!"
Nita baru saja tiba, dia menunggu di depan lobby apartemen.
"Si Nita ini kebiasaan deh, udah tahu gak kuat minum! Masih aja bego," ujarnya saat keluar untuk menjemputnya ke bawah.
"Emangnya sering mabok dia?"
"Kalau ketemu Daddy aja! Kita gak bisa nolak kalau bicara dengan kontrak dan juga ini!" ujarnya dengan menempelkan ibu jari dan telunjuk kemudian dia gerakkan perlahan.
"Daddy kalian yang minta?"
"Huum ... gak semua juga! Permintaan meraka macam-macam, tapi juga kita dapat lebihnya,"
"Kayak tas-tas mewah lo?"
"Tas mewah mah biasa, pokoknya apapun yang kita mau deh, bahkan biaya hidup kita, dia yang nanggung! Apalagi dapet Daddy yang loyal banget."
"Kenapa? Lo mulai tertarik?"
Agnia membuka pintu masuk apartemen, "Masih ngarep lo sama gue? Lo gak takut kalah saing sama gue?" ujarnya dengan tergelak.
"Sialan lo!!" keduanya kembali tertawa.
Mereka lalu berjalan menuju lift untuk pergi ke bawah, dan menemui Nita.
Nita berdiri sempoyongan, dan terkekeh saat melihat Agnia dan juga Cecilia. Mereka berdua pun memapahnya dan membawa nya kembali ke atas.
"Lo ada di sini Nia? Fikiran lo udah terbuka? Bagus deh, semakin banyak sugar Baby, semakin kacau dunia ini! Iya gak Cecil!" ujar Nita meracau.
"Diem lo ah, mulutmu bau naga!"
Nita tertawa, "Gue pengen ganti Daddy, yang gak suka maksa dan perlakuan gue dengan baik! Gue cape kayak gini Cel, Nia .... gue pengen di manja juga, gak dicekokin terus di pake doang. Iya gak.... tapi enak juga ... Nia lo harus cobain." racaunya dengan menunjuk Agnia.
Agnia menggelengkan kepalanya, "Gue gak bakalan jadi kayak kalian, kalaupun harus, lebih baik gue sama Om Zian aja! Dia gak minta apa-apa, malah jagain gue! Eeeeh...."
Cecilia menoleh, "Weh, diem mulu! Itu tekan tombol pintu lift."
Agnia segera menekannya, Untung mereka tidak menyadari perkataan gue.
__ADS_1
Tapi gimana jadinya kalau Om Zian bener-bener tahu gue gak pulang? Dia pasti marah lagi.
"Ce ... abis nganterin Nita ke atas, lebih baik gue pulang yaaa"