
Regi merasa tidak tenang, dia mengingat terus keadaan Agnia yang dipastikan masih berada di toilet, hingga dia kembali keluar dan mencarinya lagi.
Agnia masih terduduk dengan kepalanya yang basah, namun tidak separah tadi dan sudah berhenti meracau. Kedua matanya tertutup rapat, entah dia pingsan ataupun tidak. Nita juga sudah menghubungi Zian, namun nomornya tidak aktif, hingga dia mengetikkan pesan singkat pada suami sahabatnya itu.
"Gimana Nit? Udah bisa?"
"Belum ... nomornya gak aktif! Tapi gue udah kirim chat, dia pasti baca kalau nomornya udah aktif!" jawab Nita yang kembali memasukkan ponsel Agnia ke dalam tasnya, Cecilia melihat jam pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan jam 19.30 menit.
"Terus kita mau nunggu di sini sampai Zian datang gitu? Atau kita anterin ke rumahnya aja!?"
"Biar gue yang anter!"
Cecilia dan Nita menoleh ke arah suara, dimana Regi berdiri di ambang pintu dengan tatapan tidak lepas dari Agnia.
"Lo jangan gila! Lo mau mampus?" Cecilia menyentaknya.
"Iya, efek minuman masih belum hilang, kita aja takut nganterin dia pulang!"
"Terus siapa yang mau tanggung jawab? Kalian mau Nia sakit? Gak lihat itu bajunya basah gitu?" Terang Regi.
"Gimana dong Ce?"
"Kalau gak gini aja! Gue bawa dia dulu muter muter sampai efek alkoholnya benar benar hilang! Kalian tunggu aja Zian di sini dan kabarin gue kalau dia udah nyampe."
Cecilia dan Nita saling pandang, setahu mereka juga begitu, teman teman laki lakinya disekolahnya yang nakal dan sering minum alkohol pasti tahu cara yang Regi maksudkan, efek alkohol yang hanya sedikit pasti hilang kalau kena angin malam, maka tidak jarang mereka melakukannya setiap malam dan pulang ke rumah langsung tidur hingga tidak ketahuan orang tua mereka. Walaupun tidak ada ilmu kedokteran yang berani mengambil riset dan menelitinya.
"Gimana?"
__ADS_1
"Ya udah deh Nit! Kita coba aja, mungpung masih ada waktu, biar gak keliatan banget efek nya. Dia bisa pulang dengan selamat, kita juga....!"
"Selamat gimana sih lo kan gue udah kasih tahu Zian kalau si Nia mabok!"
Cecilia menepuk jidatnya sendiri. "Bego sih lo masih di piara!"
Mendengar kedua temannya yang justru memperdebatkan masalah itu, Regi memilih masuk dan membawa Agnia keluar dari bilik toilet.
"Buruan Ce!!"
Regi memapah Agnia, diikuti oleh Nita dan juga Cecilia dengan perasaan was was, bagaimana jika tiba tiba Zian muncul disana.
"Kok kita malah kayak sekongkol ya, bikin Regi deket deket Nia lagi Nit?"
"Udah lah Ce ... masih untung dia mau bantuin, si Regi juga niatnya baik kok! Lo gak denger apa yang dia bilang sama si Nia tadi!" sahut Nita. "Dia bilang jangan lakukan hal tadi sama pria lain, kalau siapa dia boleh!" Nita berujar sambil terkekeh.
"Bego lo ah!"
Regi menghentikan langkahnya, menyuruh Cecilia memegangi Agnia sementara dia mengambil motor miliknya. Belum pernah sekalipun Cecilia merasa was was seperti ini sebelumnya, bahkan saat pergi bersama Daddy nya sekalipun, tidak ada kekhawatiran atau ketakutan seperti saat ini, padahal hal di lakukan nya beresiko ketahuan isteri atau keluarganya yang lain.
"Gila Nit!! Gue deg degan gini! Lebih horor dari pada film yang kita tonton tadi." ucap Cecilia dengan terus memegangi Agnia.
"Sumpah ... gue juga! Lebih horor dari pada ketahuan isteri nya Daddy gue!" Nita kembali merogoh ponsel Agnia di dalam tasnya, dia melihat pesan yang dia kirim masih belum dibaca juga, bahkan nomor Zian masih belum aktif kembali.
Regi sudah melaju dengan motornya, menghampiri mereka bertiga, "Ayo Ce ... naikin dia ke atas motor! Ujarnya dengan menyerahkan helm pada Cecilia, dia sendiri memakai helm Full face miliknya sendiri, lalu membuka jaket miliknya agar dipakaikan pada Agnia. Setelah itu Cecilia dan Nita menaikkan Agnia yang masih setengah sadar ke atas motor sport berwarna merah itu.
"Lo kabarin kalau Zian udah nyampe, gue bakal balik jalan sana lo tunggu di parkiran mobil." tukas Regi sebelum melaju.
__ADS_1
Cecilia tanpa sadar hanya bisa mengangguk, begitu juga dengan Nita, hingga Regi melajukan motornya dengan kencang.
"Beneran Ce ... kok kita kayak sekongkol sama Regi ya!"
"Kan tadi udah gue bilang, mana ide si Regi bener lagi, gue tunggu di parkiran mobil, lo tunggu didalam. Kalau gue lihat Zian, gue bakal tahan lo tunggu Nia balik terus bawa ke depan." terang Cecilia menambahkan rencana yang yang sudah Regi katakan.
Nita kembali ke dalam dengan terus melihat ponsel Agnia, memeriksa pesannya sudah dibaca atau belum, "Sial ... si Nia bikin repot semua orang! Harusnya gue hapus aja deh pesan ini, belum dibaca juga ya kan! Emang gue ikut bego kayaknya!"
Motor sport merah melaju kencang, membelah jalanan yang cukup ramai malam itu, berbelok menghindari mobil di kiri jalan, lalu berkelok kelok mencari ruas yang lebih lebar, Agnia yang masih terpengaruh obat itu memicingkan kedua matanya, melihat jalanan didepannya juga sosok yang mengemudikan motornya dengan kencang.
"Regi!!" gumamnya, dengan terus memperhatikan helm yang sepertinya pernah dia lihat sebelumnya. Angin malam menerpa wajahnya, dia melingkarkan tangan dipinggang Regi, dengan dagu yang menempel pada bahu Regi. Sementara Regi menoleh ke arahnya, dia mengulas senyuman dibalik Helm full face seperti yang dilakukannya tadi pagi saat melihat Agnia di pinggir jalan, berdiri melipat tangan dengan wajah cantiknya, dia hanya ingin melihatnya saja, tanpa berniat mengganggu Agnia apalagi membuat hubungannya dengan Zian hancur. Beruntung Zian tidak turun dari mobil dan menghampirinya, dia sudah bersiap siap jika hal itu terjadi dengan terus menatapnya dari spion.
Regi menggelengkan kepalanya, nyatanya dia masih kesulitan untuk benar benar pergi, seperti malam ini, dia kembali menoleh ke belakang, berharap Agnia bahagia namun juga tidak bisa membiarkannya begitu saja.
Agnia merasa efek mabuknya mulai berkurang, kepalanya sudah tidak seberat tadi, Regi memang selalu menjadi tempat nyaman baginya, tempatnya berkeluh kesah dan juga tempat teraman, karena dia tahu Regi tidak akan pernah melakukan hal hal di luar batas.
"Gi ... gue pengen muntah!"
Regi pun menghentikkan laju kendaraannya, dia membantu Agnia turun dengan memegangi tangannya, lalu dia ikut turun, Agnia berlari ke selokan, rasa mual menyerangnya, namun tidak ada yang dia keluarkan selain cairan berbau alkohol.
Regi memijit lembut tengkuknya, membantunya agar merasa nyaman, hingga dia berhenti muntah, walaupun sebenarnya dirinya saja membutuhkan bantuan agar bisa melupakan perasaan nya pada Agnia.
"Lo tunggu di sini, gue cari minum dulu!"
.
.
__ADS_1
.
Inget jangan bilang Zian mereka itu yaah... wkwkwk, Aahh Regi kasian kamu Gi.