Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 87


__ADS_3

"Bagaimana kalau band nya Regi saja yang bermain di sini? Suara Regi bagus lho Om!"


Air muka Zian tampak berubah, setelah gadis berambut panjang itu mengatakan nama Regi, bagaimana tidak, Zian tahu Regi sudah menyatakan perasaannya pada gadis yang duduk dihadapannya tanpa rasa bersalah itu.


Ya Tuhan, apa aku harus bersaing dengan anak-anak dalam masalah cinta ini.


Zian tak bergeming, namun jari-jari tangannya terlihat mengetuk-ngetuk meja, dia tidak mungkin secara terang-terangan menolaknya, jelas sangat beda karena ini sudah masuk urusan pekerjaan.


"Gimana Om? Setuju kan, Regi pasti bisa menjadi daya tarik pengunjung, dia keren, ganteng apalagi, suara itu beuuhh ... dan Om tahu gak? Di___ Mmppphh!!"


Zian membekap mulut Agnia yang tengah berbicara, "Berhenti membicarakan tentang bocah itu! Apa dia sebegitu pentingnya untukmu, apa dia pacarmu?" ujarnya dengan melepaskan tangannya dari mulut Agnia.


"Iihh ... apaan sih! Lagi pula salah ya kalau Nia rekomendasikan temen Nia yang memang


punya talenta yang bagus!"


Tidak salah, yang salah kenapa harus bocah itu.


Manik hitam Zian melebar, menatap Agnia yang juga menatapnya dengan wajah berseri. Apa dia sebahagia itu membicarakan anak itu? Dia tidak pernah berbinar seperti ini saat bicara denganku.


"Biar manager Resto ini yang mengurusnya!" ujar Zian pada akhirnya.


Agnia mengangguk, dengan seutas senyuman di bibirnya, "Terima kasih Om!"


Apa kau tidak mengerti juga sampai saat ini Nia, bahkan ciuman itu tidak berarti apa-apa bagimu? Astaga, Zian apa yang kau harapkan dari seorang anak kecil sepertinya.


.


.


Tak lama kemudian mereka akhirnya pulang ke rumah, Zian menepikan mobilnya di luar gerbang, karena mendapati mobil berwarna hitam menghalanginya masuk. Zian mengernyit saat mengenali mobil yang terparkir adalah mobil milik Iyan.


Zian turun disusul oleh Agnia dari belakang, pria itu masuk begitu saja, tidak memperdulikan seseorang yang memanggil namanya.


"Zian! Aku mau minta maaf padamu." seru Iyan saat keluar dari mobil dan menyusul Zian masuk ke dalam rumah.


"Nia cepat masuk!" Ujar Zian pada Agnia yang masih mematung diluar.


Agnia sendiri tampak ragu, antara masuk atau pun tidak, sampai Zian menyerunya dengan keras, akhirnya gadis itu masuk dan berlalu ke kamarnya sendiri.

__ADS_1


"Zian please, ijinkan aku bicara padamu!"


Zian berbalik menghadapnya, "Apa lagi yang ingin kau jelaskan Iyan, semua sudah jelas, dan aku sudah menyuruhmu pergi jauh. Bukankah aku juga berikan apa yang kau mau!"


"Aku menyesal Zian, tolong maaafkan aku."


Zian berdecih, "Aku sangat mempercayaimu Iyan, kau bukan hanya sekedar asisten, aku sudah anggap kau keluargaku! Tapi justru kau yang menikamku dari belakang!"


"Semua diluar kendaliku Zian, dan aku termakan rayuan Dita!"


Zian tergelak, "Sekarang kau menyalahkan dia?"


Zian menghempaskan tubuhnya dikursi, begitupun dengan Iyan yang kembali duduk menghadapnya.


"Dita yang pertama kali merayuku! Walaupun pada akhirnya aku lebih mencintainya dibanding dia mencintai ku. Dia tetap mencintaimu Zian, hanya dirimu! Dan sekarang, diapun tidak menerimaku, aku tetap saja kalah darimu Zian, segalanya...!"


Zian terdiam, seolah mencerna semua yang dikatakan oleh Iyan agar bisa masuk kedalam akalnya.


"Jadi sekarang apa maumu?" tanya Zian tanpa basa-basi.


Iyan menghela nafas, "Aku hanya ingin minta maaf, setelah itu aku akan pergi dari kota ini. Aku akan kembali ke kota kelahiran ku,"


"Justru untuk itulah, aku kemari Zian, maafkanlah dia, dan kembalilah padanya, aku tahu ini tidak mudah, tapi dia sangat menderita tanpamu."


Zian kembali terdiam, cinta itu memang masih ada, tapi untuk kembali, rasanya tidak mungkin.


Iyan memperlihatkan satu video dimana Dita tengah mengamuk padanya, membuat hatinya sakit dan teriris.


Wanita yang begitu dicintainya itu berubah drastis, wajah cantik yang selalu dirawatnya, rambut pirang bergelombang miliknya yang senantiasa dijaganya.


"Lihatlah, bagaimana sekarang ini keadaannya, dia sudah sangat menyesal, bahkan terlihat menderita Zian." ujar Iyan.


Zian menghela nafas dan kembali memberikan ponsel pada Iyan, "Kenapa bukan kau yang bertanggung jawab Iyan? Kenapa harus aku?"


"Kau fikir aku tidak mau? Aku sangat mencintainya, aku ingin memilikinya, tapi dia hanya mencintaimu Zian, hanya kau yang ada dihatinya."


.


.

__ADS_1


Setelah kepergian Iyan, Zian berdiam diri dibelakang rumahnya, dia duduk di kursi santai yang berada di dekat kolam renang, memikirkan wanita yang ternyata masih ada didalam hatinya, walaupun posisinya sedikit tergeser oleh kehadiran Agnia.


"Ngelamun terus, kesambet setan baru tahu rasa lho nanti!" seru Agnia membuka pintu dan langsung tertuju pada Zian.


Zian merubah sedikit posisi duduknya, sementara Agnia menggeliat dengan kedua tangan yang terangkat.


"Kenapa kau belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur, Om sendiri kenapa disini? Melamun tidak jelas, setelah pria penghianat itu datang kemari."


"Aku sedang memikirkan pekerjaan!"


Agnia berdecih, "Sekali penghianat akan tetap menjadi penghianat, dan Om tahu ... wanita yang benar-benar mencintai pasangannya tidak akan pernah mengkhianati."


"Kau benar Nia ...! Aku pun berpikir seperti itu, tapi....!"


"Tapi kau masih mencintainya, iya kan Om! Memang gak mudahkan menghapus cinta itu walaupun dia sudah berkhianat."


Zian tidak bergeming, apa yang dikatakan gadis belia itu memang benar, dia berada didalam kegamangan.


"Kalau Om masih begitu mencintainya, kembali saja! Agar Om menjadi bodoh lagi."


Zian menyunggingkan senyuman, "Kenapa kau sepertinya ingin sekali aku kembali padanya?"


"Gak juga ... hanya saja, aku ikut kesel aja dengan kelakuannya, coba Om bayangin, dia itu sudah cantik, berpendidikan tinggi, karier bagus, apa yang dia cari lagi? Dan terkadang aku heran aja, sama orang-orang dewasa yang tidak pernah puas dengan apa yang dia miliki. Seperti Mami dan Daddy, lalu mereka mengorbankan sesuatu demi ketidak puasannya. Apa mereka puas setelahnya? Apa mereka bahagia?" ucap Agnia panjang lebar.


Zian measih mengulum senyuman, melihat Agnia yang terlihat kesal membicarakan orang dewasa yang dia sebutkan, "Mungkin kamu harus menjadi dewasa terlebih dahulu agar bisa mengerti pemikiran mereka?"


"Ahk ... sudahlah, orang dewasa suka begitu! Menganggap kami yang masih kecil ini tidak mengerti segalanya, dan hanya bisa menuntut dan menuntut saja! Om juga begitu."


"Tidak ... aku tidak mengatakan sesuatu, apa aku mengatakan akan kembali pada orang yang telah menyia-nyiakanku?" Kilah Zian membuat Agnia terdiam.


Zian bangkit dari duduknya dan menghampiri Agnia, sementara Agnia yang menghadap ke arah kolam renang itu belum menyadari jika Zian sudah berada dibelakangnya.


"Aku tidak akan mengorbankan sesuatu yang aku punya saat ini demi ketidak puasanku,"


Agnia merasa suara Zian terdengar lirih namun juga sangat jelas, hingga dia berbalik, dan tersentak karena Zian berada sangat dekat.


"Eeuuh ...!"

__ADS_1


__ADS_2