
Aku dan Mini sampai terkekeh mendengar apa yang di katakan oleh Haris, pertanyaan yang dia tujukan pada Kaktus.
"Ini namanya kerling polem, alias poni lempar. Lagian siapa juga yang kerling sama situ, geser dikit dari calon makmum ku!" seru Kaktus lagi sambil mendorong lengan Haris dengan lengannya.
Kaktus sekarang berada di hadapan ku, di antara aku dan Haris. Wajah Haris nampak merah padam, seperti nya dia kesal, tapi dia memilih untuk memalingkan wajahnya dan pergi.
"Duluan ya semua!" serunya karena malas meladeni kakak Mini yang menurut ku juga narsisnya luar biasa ini.
"Kakak tuh kenapa sih? Haris jadi marah kan!" keluh Mini mendekati kakak nya.
"Hei Mini, yang kakak kamu itu aku atau dia? kenapa malah membelanya?" tanya Kak Kaktus nampak tidak suka.
"Sudahlah, ayo pulang. Duluan ya Nai, kamu hati-hati pulang nya!" seru Mini sambil menarik kakak nya yang belum mau beranjak seperti nya.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah kakak dan adik itu, aku mengambil sepeda ku dan menaikinya menuju ke rumah.
Author POV
Riksa sudah kembali ke rumah Samuel. Dan saat Riksa masuk ke rumah kerja bos nya itu. Samuel sedang menghubungi kedua orang tuanya, yang memang sedang berada di luar negeri menemani kakeknya berobat.
Tadi pagi Samuel sempat bertengkar sedikit dengan kedua orang tuanya yang terus mendesaknya menikah dengan Natasha.
"Ayah dan ibu sudah tidak perlu cemas. Aku akan menikah kurang dari seminggu lagi! kalian tinggal datang saat pernikahan akan di lakukan!" seru Samuel begitu percaya diri.
"Jangan bercanda Sam, ibu sudah lelah kamu terus mengatakan itu, kamu hanya beralasan saja kan! ibu yakin kamu masih berhubungan dengan wanita sok modern dan tak tahu tata krama itu, ibu akan menghapus mu dari kartu keluarga kalau sampai apa yang ibu yakini ini benar ya!" gertak Stella, ibu Samuel.
Samuel terlihat memijit pelipisnya.
"Ibu, aku kan sudah putus dengannya dan memilih ibu. Bisa tidak kalau ibu jangan membahas itu lagi!" seru Samuel tidak suka
"Tapi kamu selalu beralasan untuk menikah Samuel, kamu tahu kan kakek sangat ingin melihat mu menikah, kamu tahu kan kondisi kakek sedang tidak baik. Kamu ini...!" Stella menghentikan omelan nya seperti nya dia sudah menangis.
__ADS_1
Samuel terlihat cemas, dia sangat menyayangi ibunya.
"Ibu, ini benar. Aku sudah melamar kekasih ku pada orang tuanya. Dan hubungan ku dengan Caren, sudah berakhir empat bulan yang lalu. Saat ibu memintaku untuk memutuskan hubungan ku dengannya!" jelas Samuel berusaha membujuk ibunya.
"Ayah harap apa yang kamu katakan ini benar, ada Riksa tidak di situ, ayah ingin bicara!" seru Damar, ayah Samuel.
Samuel sempat terkesiap karena yang bicara di ujung panggilan nya bukan lagi ibunya tapi ayahnya.
'Sepertinya ibu benar-benar menangis!' batin Samuel merasa bersalah.
"Ada ayah, sebentar!" ucap Samuel lalu memberikan ponsel nya pada Riksa
Riksa yang sedari tadi juga hanya memperhatikan apa yang di lakukan Samuel. Segera menerima ponsel yang di berikan oleh bos nya itu.
"Selamat malam tuan besar!" sapa Riksa dengan sopan dan dengan suara lembutnya.
"Riksa, kamu adalah orang kepercayaan Samuel tapi kamu juga sudah ku anggap putra ku sendiri, sekarang katakan! apakah benar yang di katakan oleh Samuel tadi, kalau dia memang sudah memiliki kekasih baru, dan memutuskan untuk segera menikah dengan gadis itu?" tanya Damar memastikan.
"Iya tuan besar, apa yang dikatakan bos memang benar! hari ini bos sudah datang ke rumah nona Naira dan melamarnya pada kedua orang tuanya! dan nona Naira juga sudah setuju untuk menikah dengan bos!" jelas Riksa.
"Jadi namanya Naira, bagaimana orangnya?" tanya Damar ingin tahu.
"Nona Naira itu gadis yang polos dan sederhana tuan besar tuan, dia sangat cantik dan tidak pemarah..."
Riksa menjeda ucapannya ketika tiba-tiba Samuel menatap tajam ke arahnya. Samuel merasa jika Riksa sedang menyindir sifat Caren yang sedikit pemarah kalau ada yang tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.
"Lalu, berapa usianya? apa dia kuliah atau bekerja?" tanya Damar begitu tertarik dengan calon menantunya itu.
"Usianya...." Riksa menatap ke arah Samuel.
"Dua puluh" Samuel memberi kode dan menggerakkan mulutnya tanpa mengeluarkan suara.
__ADS_1
"20 tahun tuan besar, dia bekerja di sebuah toko Buku yang tidak terlalu besar. Tapi kurasa dia dan keluarganya sangat baik tuan besar!" jelas Riksa membantu Samuel meyakinkan ayah nya.
"Baiklah, kirimkan foto nya. Aku tunggu!" seru Damar lalu menutup panggilan teleponnya.
"Bos, tuan besar meminta aku mengirim kan foto nona Naira!" seru Riksa setelah meletakkan ponsel Samuel di atas meja kerja Samuel.
"Apa? kalau begitu cari fotonya di media sosial, cepat!!" perintah Samuel yang juga terkejut dengan permintaan ayah nya itu. Dia tidak memikirkan sampai disitu.
Riksa segera membuka laptop nya dan mencari akun media sosial dengan nama Naira putri, tapi dari beberapa yang di temukan, tidak ada satu pun dari mereka semua itu adalah Naira yang di maksud oleh Samuel dan juga Riksa.
"Bos, seperti nya kita harus kerumah nona Naira sekarang!" seru Riksa memberikan pendapat nya pada Samuel yang langsung menanggapi nya dengan mengusal kepalanya kesal.
Author POV end
Aku sudah berada di depan rumah, aku meletakkan sepeda ku di bawah jendela, seperti biasanya. Dan aku masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, Nai pulang!" ucap ku seperti biasa.
Tapi ketika aku selesai melepas sepatu dan meletakkan nya di rak sepatu di dekat ruang tamu lalu masuk ke ruang keluarga, aku melihat ayah, ibu dan juga adikku Ibras sedang duduk dengan kedua tangan mereka yang di lipat di depan dada masing-masing.
"Ada apa ini?" tanya ku gugup.
Ibu ku melirik tajam ke arah mu.
"Duduk Nai, dan jelaskan!" seru ibu ku dengan suara yang sedikit tinggi, saat seperti ini aku merasa ibu ku mendadak menjadi Tri Utami, itu loh penyanyi yang terkenal pada jamannya itu.
Aku langsung duduk, dari tatapan mereka bertiga. Hanya tatapan ayah yang masih enak di pandang.
"Kenapa kamu gak pernah cerita kalau kamu punya pacar? mau nikah lagi? kenapa Nai?" tanya ibuku, di balik nada kesal nya aku bisa mendengar nada kecewa dari suaranya. Tapi memang aku tidak pernah pacaran sebelumnya dengan si lidah tajam itu. Ini semua benar-benar baru terjadi hari ini. Tapi aku tidak mungkin mengatakan kalau aku berhutang 100 juta kan! ayah dan ibu pasti akan cemas. Lagi pula aku sudah menandatangani kontrak itu, kalau aku akan menjadi istri kontrak si lidah tajam itu.
***
__ADS_1
Bersambung...