Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
20


__ADS_3

Aku menatap ke arah Riksa yang sedang memeriksa hadiah yang tadi di berikan oleh Puspa. Setelah berganti pakaian tadi, Puspa menghampiri ku dan memberikan banyak sekali hadiah, dan aku sangat senang sekali.


"Ada apa?" tanya ku karena aku melihat Riksa seperti sedang memikirkan sesuatu ketika memeriksa isi dari beberapa paper bag yang aku letakkan di tengah sofa, di antara tempat ku duduk dengan Riksa.


"Kamu memang menarik Nai, kurasa Puspa juga sudah menganggap mu teman seperti ku dan juga Samuel!" jelas Riksa membuatku merasa sangat senang.


"Benarkah? wah aku beruntung sekali. Puspa itu sangat cantik dan baik. Beruntung sekali dia menganggap aku teman!" seru ku benar-benar sangat senang.


"Dia bahkan memberikan mu sepatu hak tinggi! kurasa dia ingin agar kamu belajar memakai ini. Bos itu sangat menyukai wanita yang elegan!" jelas Riksa dan menepikan semua paper bag itu lalu melihat ke arah ku dengan raut wajah yang serius.


Aku hanya diam dan mengernyitkan dahi ku.


"Untuk apa aku belajar memakai sepatu hak tinggi, aku juga tidak ingin si lidah tajam itu menyukai ku!" seru ku.


Dan aku memang tidak ingin si lidah tajam itu menyukai ku, berharap pun tidak. Tapi Riksa malah terlihat kecewa saat aku mengatakan kalimat itu padanya.


Dia menunduk sebentar lalu kembali menatap ku, kali ini dia memutar posisi duduk nya dan benar-benar menghadap ke arah ku.


"Nai, akan aku katakan kenapa aku menyetujui rencana bos menikah dengan mu, meskipun ini hanya pernikahan kontrak!" dia bicara dengan suara yang begitu jelas dan tegas. Kurasa dia memang akan mengatakan sesuatu yang benar-benar serius.


Aku pun membenarkan posisi duduk ku dan memperhatikan Riksa dengan seksama.


"Nyonya Stella, ibunya bos. Aku sangat menyayangi nya. Dan beliau sama sekali tidak menyukai nona Caren!" lanjut nya menceritakan apa yang ingin dia cerita kan. Dan aku sudah tidak sabar mendengarkan kelanjutan cerita dari Riksa


"Lalu?" tanya ku membuat Riksa mendengus senyum sebelum melanjutkan ceritanya.


"Sebenarnya awalnya nyonya Stella tidak mempermasalahkan hubungan bos dengan nona Caren, namun setelah bertemu dan makan malam bersama, nyonya bisa melihat jelas sikap arogan dan sombong nona Caren, saat seorang pelayan keluarga Virendra yang sudah paruh baya tidak sengaja salah memberikan jus yang tidak sesuai dengan perintahnya, bahkan nona Caren menumpahkan jus itu ke wajah dan pakaian pelayan itu!" tutur Riksa.

__ADS_1


Dan aku mulai terbawa pada cerita Riksa itu, aku jadi gemas saja dengan tindakan wanita bernama Caren itu. Kenapa dari cerita Riksa, wanita itu seperti nya sangat perfeksionis dan menyebalkan.


"Bukan itu saja, saat nyonya Stella menegurnya, nona Caren bahkan berani berkata kasar dan juga membantah perkataan nyonya Stella untuk meminta maaf pada pelayan tua itu. Bahkan dia meninggalkan nyonya Stella, dan mengatakan kejadian itu pada bos, sampai akhir nya bos memecat pelayan yang sudah bekerja di kediaman Virendra bahkan sebelum bos lahir!" dan kali ini Riksa menceritakan nya dengan nada suara yang terdengar kecewa dan sedih.


"Hanya itu, tapi kurasa nyonya Stella itu orangnya sangat berpandangan dan berpemikiran yang luas. Dia pasti tidak akan membenci kekasih bos mu itu kalau hanya masalah itu kan?" tanya ku pada Riksa.


Aku merasa calon ibu mertuaku itu tidak mungkin membenci nya jika hanya masalah seperti itu. Pasti ada sebab lain, dan aku makin penasaran apa itu.


Riksa kembali tersenyum, dan setiap dia melakukan itu aku tidak bisa jika tidak melihatnya. Itu adalah sesuatu yang indah bukan, dan akan menjadi hal yang mubazir jika aku melewatkan nya.


"Aku tahu sebenarnya kamu sangat pintar Naira. Dan memang bukan hanya itu saja yang membuat nyonya tidak menyukai nona Caren, saat itu kami semua sedang berada di rumah sakit karena kakek Virendra sedang sakit, tapi dengan egois nona Caren meminta bos meninggalkan rumah sakit hanya untuk menghadiri launching produk barunya, dan itu membuat semua keluarga geram. Saat bos tidak mengikuti kemauan nona Caren, dia malah meminta bos menentukan pilihan antara dirinya atau keluarga nya!" lanjut Riksa lagi.


Aku jadi penasaran dengan apa yang dipilih oleh si lidah tajam.


"Lalu bos mu pilih siapa? keluarganya kan?" tanya ku memastikan.


"Huh, ternyata begitu! Ck... tapi tidak heran juga sih! sekarang dia bahkan membohongi semua orang demi wanita bernama Caren itu. Riksa...!" aku menoleh ke arah Riksa.


"Iya!" jawab Riksa dengan cepat.


"Apa ibu Stella juga akan membenci ku kalau dia tahu aku juga membohongi nya sama seperti bos mu itu?" tanya ku khawatir.


Riksa malah terdiam, dan itu membuat ku yakin. Jika nanti setelah semuanya berakhir dan keluarga si lidah tajam mengetahui semua ini, mereka pasti akan sangat membenci ku juga. Sekarang saja aku sudah merasa bersalah. Apalagi nanti ya? aku jadi bingung.


Kruyuk kruyuk


Dan aku harus membulatkan mata ku karena perut ku berbunyi dengan sangat tidak etis. Dan bunyinya benar-benar seperti botol kosong yang di ruang air.

__ADS_1


Aku menatap Riksa dengan senyuman yang canggung. Dia malah terkekeh.


"Perut mu sudah demo Nai, sebaiknya kita makan dulu!" serunya sambil mendorong piring besar berisi banyak makanan di atas nya pada ku. Dia juga punya piring dengan isi yang sama.



Aku memperhatikan lauk pauk yang ada di dalam piring itu. Tapi aku merasa ada yang kurang disana.


Sepertinya Riksa yang sudah mulai memotong sosis dan menusuk nya dengan garpu juga menyadari kalau aku sedang mencari sesuatu.


"Ada apa Nai, kamu tidak suka dengan menu sarapan nya?" tanya Riksa yang urung memasukkan sosis di garpu yang sudah dia pegang dan berada di dekat mulutnya.


Aku menggelengkan kepala ku dengan cepat karena memang bukan itu alasannya aku belum menyentuh makanan itu. Riksa malah meletakkan kembali garpu nya di atas piring yang ada di depannya.


"Mau ku suapi?" tanya nya lagi.


Aku malah melebarkan mataku, yang benar saja. Aku ini sudah besar, bahkan sakit saja aku ingin tetap makan sendiri. Lagi-lagi aku menggeleng kan kepala ku dengan cepat.


"Tidak-tidak, aku bisa makan sendiri!" jawab ku pasti.


"Kalau begitu mari kita makan, dari tadi perut mu sudah demo!" balas Riksa tidak lupa dengan senyuman teduhnya.


"Em... tidak ada nasi nya ya?" tanya ku.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2