
Riksa sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat ketika dia sudah menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Samuel padanya untuk meminta ijin pada ko Acong agar Naira bisa bekerja selama sehari disana. Tentu saja dengan memberikan kompensasi yang sangat sesuai pada ko Acong. Karena Samuel juga mengatakan pada Riksa di telepon tadi agar ko Acong lebih cepat menutup tokonya hingga istrinya menjadi tidak terlalu lelah.
Jadi Riksa memberikan kompensasi seharga pendapatan terbesar yang pernah di peroleh oleh toko buku ko Acong. Tentu saja dengan cara Riksa, cara yang begitu lembut dan sangat sopan. Jika memakai cara Samuel, yang dingin, datar dan arogan. Ko Acong dapat dipastikan akan menolak walaupun Samuel memberinya kompensasi sepuluh kali lipat besarnya dari yang Riksa berikan. Karena ko Acong termasuk orang yang sebenarnya tidak enakan hati, tapi kalau dengan orang yang arogan, hatinya juga akan mengeras dan sulit di bujuk.
Setelah berhasil menyelesaikan tugasnya, Riksa mendatangani sebuah restoran yang letaknya ada di dekat pantai. Sebelumnya dia sudah menghubungi manajer restoran itu dan memintanya untuk bertemu. Riksa memarkirkan mobilnya di area parkir restoran, di tempat biasa bukan si area parkir khusus atau VIP. Padahal Riksa sudah memesan ruangan VIP.
Riksa masuk ke dalam restoran. Sekarang memang sudah lewat dari jam makan siang, tapi restoran ini malah semakin ramai. Riksa langsung pergi ke meja kasir dan minta bertemu dengan manager yang sudah membuat janji dengannya melalui telepon tadi.
"Permisi, aku Riksa. Dan aku sudah punya janji dengan Pak Bobby. Apa aku bisa bertemu dengan nya sekarang?" tanya Riksa dengan nada sopan sambil melepas kacamata hitam yang tadi dia pakai.
Seorang karyawati yang melihat betapa tampannya wajah Riksa malah tertegun dengan mata dan mulut terbuka mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu sempurna di hadapannya.
Riksa di buat mengernyitkan keningnya karena sikap yang di tunjukkan oleh karyawati tersebut.
"Apa kamu mendengar ku, nona?" tanya Riksa lagi dengan sopan karena karyawati di depannya itu tak juga mengedipkan matanya.
Setelah panggilan Riksa yang kedua kalinya, karyawan itu langsung mengerjapkan matanya dengan cepat dan langsung menutup mulutnya yang terbuka.
"Hoh, maaf tuan. Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawati itu dengan gugup.
Riksa menghela nafasnya, sebenarnya dia tidak punya cukup waktu. Setelah ini dia harus menghadiri rapat penting dengan klien perusahaan Samuel.
"Nona, bisa aku ketemu sama pak Bobby, aku sudah buat janji!" jawab Riksa.
Meskipun terkesan jengah karena sudah memperlambat waktunya, tapi Riksa tetap menjawab dengan wajah ramah dan senyum tipisnya pada karyawati yang jelas sangat terlihat kalau dia mengagumi ketampanan Riksa.
__ADS_1
"Se... sebentar tuan!" ucap karyawati itu terbata-bata sambil meraih telepon yang ada di depannya dan menekan tombol angka 1dan 0.
Karyawati tampak bicara dengan seseorang di telepon, kemudian dia melihat ke arah Riksa sambil menutup telepon.
Setelah meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya, karyawati itu menyatukan kedua tangannya di depan dadanya.
"Saya mohon maaf tuan atas ketidaknyamanan tuan. Saya tidak tahu kalau anda adalah tamu VIP. Silahkan tuan, saya akan tunjukkan ruangan yang sudah anda pesan, Pak Bobby sudah menunggu disana!" ucap karyawati itu dengan sopan.
Dia sepertinya baru saja di marahi oleh managernya karena telah membuang waktu Riksa yang adalah seorang tamu VIP di restoran tersebut. Dan hal itu memang benar, bahkan kurang dari satu jam lagi Riksa sudah harus tiba di perusahaan karena ada meeting penting.
Riksa berjalan mengikuti karyawati restoran yang pakaian nya memang bukan seperti pelayan restoran. Seperti nya dia memang bawahan manager restoran yang sudah membuat janji dengan Riksa.
Saat tiba di sebuah ruangan yang langsung bertemu dengan pantai ketika pintu kayu berwarna coklat di buka, karyawati itu mempersilahkan Riksa untuk masuk.
Riksa masuk ke dalam dan melihat ruangan yang lebih mirip seperti pondok di atas laut, karena di bawah bangunan itu di design khusus seperti tiang-tiang yang sengaja di buat lebih tinggi dari bangunan restoran. Dan dari sini terdengar deburan ombak yang ada di pantai depannya.
'Tempat yang indah!' batin Riksa melihat sekeliling.
Dan setelah melihat pintu terbuka, manager restoran yang bernama Bobby itu langsung menghampiri Riksa yang awalnya dia sedang mengawasi para pekerja memasang lampu hias.
"Selamat datang tuan Riksa, kami sudah mengerjakan seperti apa yang diminta oleh tuan Riksa, sekarang persiapan nya sudah 50 persen lebih. Akan kami pastikan nanti malam pukul 11.30 semuanya sudah siap tuan Riksa!" ucap Bobby yang memang punya ciri khas seperti Jeremy Teti.
Itu loh pembawa acara di televisi nasional yang sangat fenomenal yang punya bayaran 150 juta hanya dengan menjadi news anchor selama 2,5 menit saja pada masa jayanya. Dan pak Bobby si manager restoran persis sekali seperti Jeremy Teti pembawaannya, cara bicara, dan juga senyum nya.
Riksa mengangguk pelan.
__ADS_1
"Baiklah, aku sangat berharap apa yang kamu katakan benar!" ucap Riksa dengan wajah serius.
Bobby langsung menepuk lengan Riksa perlahan, membuat Riksa merasa risih dan sedikit menjauh dari Bobby. Tapi Bobby malah terkekeh saat Riksa menjauh.
"Tuan Riksa tenang saja, saya ini bukan jeruk makan jeruk. Boleh percaya boleh tidak ya, saya sudah punya 2 jagoan kecil di rumah, dan istri saya sangat cantik. Dia adalah guru di salah satu SMP terkenal di kota ini!" jelas Bobby yang membuat Riksa sedikit takjub mendengar apa yang baru saja Bobby katakan.
"Istri mu wanita karir, seorang guru SMP?" tanya Riksa yang cukup merasa heran.
Bobby mengangguk dengan semangat.
"Iya tuan Riksa, istriku itu wanita hebat. Dia bisa menaklukkan hatiku dan mendapatkan cinta ku!" kata Bobby dengan sedikit terkekeh.
Riksa menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang dia dengar, menurut nya pria melambai di depannya itu percaya dirinya melebihi seorang aktor yang pernah mengatakan kalau usianya 'twenty right my age' yang pernah viral itu.
Tapi terlepas dari semua itu, Riksa cukup puas ketika melihat sekeliling ruangan outdoor yang dia pesan untuk memberikan kejutan pada seseorang. Ruangan yang baru rampung 50 persen saja sudah sangat indah dan cantik menurutnya, apalagi kalau ramping sepenuhnya, pasti akan luar biasa. Dan dia sangat berharap kalau orang yang akan dia beru kejutan juga akan suka.
"Wanita yang akan tuan Riksa berikan kejutan pasti akan sangat senang, kalau boleh tahu untuk siapa tuan Riksa akan memberikan kejutan ini, pacar atau bahkan istri?" tanya Bobby.
Riksa tersipu dan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak keduanya, tapi dia sangat istimewa!" jawab Riksa.
***
Bersambung...
__ADS_1