
Author POV
Samuel masuk ke dalam ruangan kerja ko Acong. Setelah terlebih dulu mengetik sebanyak 3 kali. Samuel memegang handle pintu dan memutarnya. Setelah pintu terbuka, Samuel pun masuk ke dalam.
Ketika Samuel masuk, ko Acong terlihat memiringkan kepalanya dan membenarkan posisi kaca matanya.
"Selamat siang!" sapa ko Acong.
Samuel yang memang selalu berwajah datar tiap bertemu dengan orang yang baru di kenalnya juga memasang ekspresi sangat dingin. Dia berjalan mendekati kursi yang ada di depan meja kerja ko Acong. Samuel bahkan sudah duduk di kursi itu sebelum ko Acong mempersilahkannya untuk duduk.
"Selamat siang ko Acong. Perkenalkan aku Samuel Virendra, kurasa anak buah ku sudah datang kemari sebelum aku kan?" tanya Samuel pada ko Acong.
Ko Acong lalu juga duduk di kursinya. Wajah tuanya mengamati dengan seksama pria muda berjaket kulit mahal di depannya itu. Ekspresi wajah ko Acong juga nampak tidak seramai biasanya.
'Jadi ini suami Naira, aku tidak menyangka gadis seramah Naira menikah dengan pria arogan seperti ini. Dia bahkan tidak tahu sopan santun sama sekali. Apa karena dia orang kaya bisa seenaknya begini!' batin ko Acong.
Dari apa yang telah di batin oleh ko Acong, kesan pertama dia melihat Samuel adalah Samuel itu pria yang arogan dan sangat tidak sopan. Itu menurut ko Acong dan pria paruh baya asli keturunan oriental itu benar-benar tidak suka pada Samuel.
Samuel yang juga merasa kalau ko Acong memperhatikan nya bahkan tidak perduli dengan tatapan dalam dari pria yang usianya bahkan lebih tua dari ayah nya yaitu Damar Virendra, meskipun Samuel bisa menebak kalau mungkin usia ko Acong juga tidak setua kakek Virendra.
'Anak buahnya yang datang tadi jauh lebih sopan dan tahu tata cara bicara dengan yang lebih tua. Ck... apa tidak salah Naira memilih suami seperti dia?' tanya ko Acong dalam hati.
Ko Acong membatin lagi, cukup lama dia bahkan belum menjawab apa yang di tanyakan oleh Samuel. Dan jelas hal itu membuat Samuel menghela nafasnya mulai kesal karena pertanyaannya yang tak kunjung mendapatkan jawaban.
'Aku pikir suami Naira itu orang yang sangat perhatian dan romantis, sampai dia meminta agar sang istri bisa bernostalgia bekerja disini untuk menyenangkan nya. Tapi apa benar orang seperti ini bisa begitu perduli pada hal semacam itu untuk istrinya?' tanya ko Acong lagi dalam hati.
__ADS_1
Sekarang sepertinya ko Acong mulai merasa kalau Naira mungkin sedang tidak dalam kewarasan seratus persen saat menerima lamaran suaminya itu.
"Ekhem, ko Acong!" panggil Samuel yang merasa kalau ko Acong terlalu lama menjawab pertanyaannya, dan Samuel memanggil ko Acong dengan nada suara yang makin meninggi saja.
'Kurasa orang tua ini pasti sudah pikun, kenapa dia bengong begitu saat ku tanya!' pikir Samuel.
Samuel yang merasa kalau orang tua di depannya itu mungkin sudah mengalami masalah pada pendengaran nya mulai berfikir yang aneh-aneh tentang ko Acong. Samuel kira ko Acong mengalami masalah pendengaran, sehingga dia memutuskan untuk bicara dengan suara yang lebih keras lagi.
Sementara ko Acong yang merasa Samuel makin tidak sopan hanya mampu menghela nafasnya saja.
"Naira itu anak baik, dia juga adalah karyawan yang rajin dan jujur. Jadi untuk menerimanya bekerja disini aku tidak perlu berpikir atas rekomendasi siapa itu!" tegas ko Acong.
Samuel mengernyitkan keningnya.
"Aku hanya ingin dia bekerja sehari saja disini, kamu tidak perlu menggajinya pak tua. Dia adalah istri seorang CEO, dia tidak butuh uang. Aku hanya ingin dia bahagia mengenang masa-masa saat dia bekerja!" seru Samuel.
'Astaga sombong sekali dia, aku juga tahu kalau Naira hanya akan bekerja sehari, pria tampan yang datang tadi juga sudah menjelaskan semuanya, dia benar-benar jauh lebih sopan dari suami Naira!' batin ko Acong.
Sementara Samuel yang sejak tadi melihat tatapan tidak bersahabat ko Acong malah membalas tatapan ko Acong dengan pandangan yang sama juga.
'Memangnya hanya pak tua ini yang bisa melotot, aku juga bisa!' seru Samuel dalam hatinya.
"Ghuh, aku tahu anak muda. Pria baik hati dan tampan yang mengaku sebagai sekertaris pribadi mu tadi juga sudah datang dan menjelaskan semuanya bahkan lebih baik darimu!" ucap ko Acong dengan nada suara pelan tapi perkataan nya itu mampu membuat Samuel mengeraskan rahangnya.
'Dasar pak tua, kalau bukan demi Naira. Aku pasti sudah membuat mu jadi pengangguran!' batin Samuel sangat kesal.
__ADS_1
Sepertinya sudah terjadi kesalahpahaman antara Samuel dan juga ko Acong. Samuel yang mengira kalau ko Acong itu punya masalah pendengaran bicara dengan nada suara keras, dan hal itu membuat ko Acong yang merasa kurang suka pada Samuel malah makin tak suka padanya.
"Baiklah, sekarang kamu boleh pergi. Naira akan bekerja disini, kamu tenang saja aku tidak akan memberikan pekerjaan yang berat padanya, pria muda dan tampan tadi juga bilang kalau Naira sedang hamil!" ucap ko Acong.
Dan apa yang di katakan oleh ko Acong barusan membuat Samuel merasa kalau ko Acong begitu menyukai Riksa yang memang tadi dia kirimkan untuk meminta ijin agar Naira bisa bekerja satu hari di toko buku ini.
Saat Samuel pamit ke kamar mandi saat di cafe tadi, sebenarnya Samuel menghubungi Riksa dan memintanya untuk datang ke toko buku ko Acong dan meminta ijin agar Naira bisa bekerja lagi selama satu hari di toko buku ko Acong.
Tapi sekarang sepertinya Samuel menyesal telah mengirim Riksa kemari tadi, karena melihat Riksa yang begitu sopan, ko Acong jadi tidak menyukai sikap Samuel yang dingin dan acuh tak acuh.
"Aku juga akan disini selama Naira disini!" ucap Samuel membuat ko Acong memicingkan mata pada Samuel.
"Maksud mu apa anak muda? apa kamu juga akan bekerja disini? aku tidak punya uang untuk mengganti kompensasi...!"
Mendengar apa yang dikatakan oleh ko Acong, Samuel segera berdiri dari kursinya dan menyela apa yang ingin di katakan oleh ko Acong.
"Siapa yang ingin bekerja, pak tua aku hanya akan menemaninya. Aku akan berada di sini dan mengawasinya. Aku akan duduk di sana!" ucap Samuel sambil menunjuk ke arah jendela kaca bertirai yang bisa melihat ke arah meja kasir.
Ko Acong kembali mengerutkan keningnya.
'Kalau saja aku tidak terlanjur berjanji pada pemuda tadi, sudah ku minta suami Naira ini keluar dari sini. Banyak sekali sih maunya!' keluh ko Acong dalam hati.
***
Bersambung...
__ADS_1