Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
159


__ADS_3

Naira tersipu saat Samuel mengatakan sejak kapan dirinya mulai menyukai Naira dan rasa cinta itu tumbuh di hati Samuel. Dan sore itu pun mereka lewati bersama seperti pasangan romantis lainnya. Sambil menyaksikan matahari yang benar-benar mulai tenggelam, siluet dia orang yang meluapkan perasaan lewat cara mereka sendiri pun terlihat samar karena hari makin malam.


Sementara itu di kediaman Virendra, pak Ranu dan bibi Merry sudah hampir selesai dengan pekerjaan mereka.


Satu buah kardus di angkat langsung oleh pak Ranu, karena semua barang-barang yang ada di dalam kardus itu adalah barang-barang yang berasal dari laci meja yang terkunci di ruang kerja Samuel yang sebelumnya.


Isinya adalah data-data dan dokumen penting milik Samuel. Pak Ranu sangat berhati-hati dengan kardus uang satu itu, dia tidak mengijinkan orang lain yang membawanya sejak dari rumah lama, dia mengangkatnya sendiri dan memasukkan nya ke dalam kontainer. Dan saat sudah tiba di kediaman Virendra, pak Ranu juga yang mengambilnya secara langsung dari dalam kontainer dan membawanya masuk ke dalam ruang kerja Samuel.


Tapi ketika pak Ranu akan meletakkan berkas penting itu ke dalam brangkas yang ada di ruang kerja Samuel. Pak Ranu lupa kunci brangkas dia letakkan di dalam tas yang ada di kamarnya, kamar para asisten di bagian belakang. Terpisah dengan rumah utama keluarga Virendra.


"Kenapa aku bisa lupa untuk membawa kunci brangkas nya sih?" gumam pak Ranu.


Pak Ranu lalu meletakkan box yang tadi dia bawa di atas meja kerja lalu bergegas keluar dari ruang kerja Samuel dan menuju ke rumah para asisten rumah tangga di bagian belakang area kediaman Virendra. Letaknya lumayan jauh, hingga pak Ranu berjalan dengan cepat dan bergegas.


Ketika pak Ranu sedang mengambil kunci brangkas, Adam tidak sengaja melewati ruang kerja Samuel yang pintunya sedikit terbuka.


'Apa mereka sudah selesai merapikannya?' tanya Adam dalam hati.


Adam yang timbul rasa penasaran dalam hatinya mendorong pintu ruang kerja Samuel hingga terbuka lebih lebar. Dia memperhatikan sekeliling, dan mengangguk puas dengan hasil kerja pak Ranu dan bibi Merry.


"Kedua orang-orang tua itu memang luar biasa dalam bekerja!" gumam Adam.


Adam lalu berbalik, tadinya dia mau langsung keluar. Tapi box yang ada di atas meja kerja Samuel membuat Adam berbalik lagi ke arah meja kerja Samuel.


"Apa itu?" tanya Adam masih sambil bergumam penasaran pada dirinya sendiri.


Perlahan Adam mendekati meja kerja Samuel dan membuka kardus yang tertutup yang membuatnya penasaran.


Satu persatu dokumen dia lihat dan di keluarkan dari dalam kardus itu. Adam sama sekali tidak tertarik untuk membuka dokumen yang ada di dalam map, dia hanya mengambil dan mengeluarkan nya dari dalam box.


"Ck... sepertinya tidak ada yang menarik disini!" gumam Adam lalu mengambil semua dokumen sekaligus dan berniat meletakkan semuanya kembali ke dalam kardus.

__ADS_1


Tapi karena Adam mengambil semua dokumen yang berada dalam map itu sekaligus, map-nya jadi gembung dan beberapa kertas keluar dari dalam map yang Adam pegang.


"Oh ayolah, apa aku harus membereskan semua ini?" gumam Adam.


Dia meletakkan semua dokumen yang ada di tangan ke dalam box. Lalu berjongkok mengambil beberapa kertas yang terjatuh di lantai.


Adam merapikan nya dan menyusunnya, tapi kemudian adam memicingkan matanya melihat beberapa kertas yang telah di pin menjadi satu. Dia meletakkan yang lain ke dalam kardus dan meraih dokumen tadi yang membuatnya tertarik.


"Surat Perjanjian Kontrak Pernikahan...!" gumam Adam lalu dia melebarkan matanya ketika membaca nama dari pihak satu dan pihak dua yang tertera pada dokumen tersebut.


"Samuel dan Naira, mereka menikah kontrak?" tanya Adam rak percaya.


Adam lalu membaca tiga lembar dokumen itu dengan seksama.


"Apa-apaan ini? jadi Sam dan Naira memang tidak saling mencintai, mereka menipu semua orang? ternyata aku benar wanita itu, ck... ini tidak benar! aku harus mengatakan semua ini pada ayah dan ibu!" ucap Adam lalu berjalan keluar ruang kerja Samuel.


Adam berniat untuk menghubungi kedua orang tuanya, tapi sebelum dia benar-benar keluar dari ruang kerja Samuel. Adam menghentikan langkah kakinya.


Di satu sisi dia tidak ingin membenarkan apa yang dilakukan oleh kakak kandungnya itu. Tapi di sisi lain dia juga tidak ingin kakeknya yang sudah sadar kembali syock dan kondisinya membuatku lagi.


"Ck... sial! jika saja kakek belum sadar. Aku pasti akan membongkar pernikahan kontrak Samuel dan wanita licik itu!" kesal Adam.


Meski kesal namun Adam kembali berbalik dan kembali meletakkan dokumen yang ada di tangannya kembali ke dalam kardus.


Adam menghela nafas panjang lalu mengusap wajahnya kasar.


"Tapi setidaknya wanita itu lebih baik daripada Caren Maida yang hanya memanfaatkan CEO bodoh dan budak cinta seperti Samuel!" gumam Adam lalu benar-benar pergi meninggalkan ruang kerja Samuel.


Ketika pak Ranu kembali, dia sangat terkejut karena pintu ruang kerja Samuel terbuka lebar


"Perasaan aku tadi sudah menutupnya, apa aku lupa ya. Huh, semakin tua saja seperti nya aku ini!" gumam pak Ranu sambil mengusap-usap keningnya lalu masuk ke dalam ruang kerja Samuel.

__ADS_1


Pak Ranu bahkan lebih terkejut lagi ketika melihat kardus yang dia letakkan di atas meja dalam kondisi terbuka, padahal saat dia meninggalkan nya itu masih dalam kondisi tertutup. Dan dia melihat susunan dokumen di dalam kardus sudah acak-acakan. Tidak rapi seperti sebelumnya.


"Astaga, apa ada yang mengacak-acak semua dokumen ini?" tanya pak Ranu sambil memeriksa semuanya.


Tapi pak Ranu menghembuskan nafas lega ketika dia selesai memeriksa dan jumlah dokumen masih sama seperti saat dia memasukkan nya ke dalam kardus.


"Syukur lah tidak ada yang hilang!" gumam pak Ranu.


Pak Ranu lalu dengan cepat membuka brangkas dengan kunci yang sudah ada di tangannya. Lalu menyusun kembali semua surat-surat penting dan dokumen-dokumen penting milik Samuel.


Sementara itu di dalam kamarnya Adam sedang menerima panggilan telepon dari seseorang.


"Jadi dia mencurigai aku yang telah mencelakai kakak ipar ku sendiri?" tanya Adam pada seseorang yang berada di ujung telepon.


"Benar bos, dia datang ke tempat anda menyewa mobil karena mobil yang anda sewa waktu itu sama dengan ciri-ciri mobil yang di gunakan untuk menabrak nyonya muda!" jelas orang itu.


"Apa kamu juga mengira aku yang melakukan nya?" tanya Adam kesal.


"Ti... tidak bos. Tentu saja tidak, anda menyewa mobil itu karena anda ingin pergi ke penjara bukan, dan anda tak ingin satu orang pun mengenali anda!" jawab orang itu.


"Cari tahu, siapa yang sudah mencelakai wanita itu. Meski aku tak menyukai nya tapi aku tak ingin jadi orang yang mereka curigai!" perintah Adam pada anak buahnya.


"Baik bos!" jawab anak buah Adam itu.


Adam lalu memutuskan panggilan telepon dan menyimpan kembali ponselnya.


"Rupanya bukan aku saja yang tidak menyukai kakak ipar palsu ku itu!" gumam Adam.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2