Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
108


__ADS_3

Ayah ku pernah mengatakan, kalau sabar dan lebih baik mengalah itu adalah kunci ajaib yang dapat membuat kita terhindar dari masalah yang akan menyakiti kita sendiri dan menyakiti hati orang lain.


Tapi kali ini bahkan nasehat ayah itu tidak berlaku padaku. Aku selalu mengalah dari Samuel, tapi sepertinya dia semakin semena-mena saja padaku.


Seluruh tubuhku remuk, pangkal pahaku begitu sakit dan perih. Tidak hanya itu, seluruh tubuhku tak luput dari amarah Samuel. Bahkan untuk sekedar berbalik atau berganti posisi saat aku berbaring saja rasanya begitu berat dan sulit, rasanya tubuhku semuanya sakit, dan di beberapa tempat terasa pedih.


Aku membuka mataku saat cahaya matahari perlahan masuk dari sela-sela jendela. Aku menghela nafas panjang, aku bahkan mendesis kesakitan saat akan membuka mulut ku. Karena bibirku rasanya begitu tebal dan seperti nya bengkak, semalam aku ingat kalau Samuel bahkan menggigit bibir ku kalau aku mengatupkan kedua bibir ku menghindari bibirnya.


Aku melihat ke sekeliling kamar ini dalam posisi berbaring menghadap ke atas. Dan semaunya masih berantakan, pakaian kami masih berserakan di lantai dan posisi bantal dan guling masih sama seperti saat Samuel meninggalkan kamar ini. Sepertinya pria itu juga tidak kembali sampai sekarang.


Aku berpikir bahwa itu adalah hal yang bagus. Karena aku benar-benar tidak ingin melihatnya saat ini. Benar-benar tidak ingin.


Tapi sayangnya harapan ku itu tak dikabulkan saat ini. Baru saja aku berharap agar tak melihatnya, pintu kamar ini terbuka dan memperlihatkan orang yang paling tidak ingin aku temui itu masuk ke dalam kamar ini lalu kembali menutup pintu.


Aku menghembuskan nafas kasar dan memilih untuk memalingkan pandangan ku ke arah lain. Aku bahkan memilih untuk memejamkan mataku lagi dan pura-pura tidur saja.


Tapi ketika aku melakukan itu, suara kaki perlahan mendekat ke arahku. Aku tahu itu suara langkah kaki Samuel, karena hanya ada kami berdua di dalam kamar ini. Aku merasa kalau Samuel duduk di tepi tempat tidur di dekat ku.


'Oh Tuhan, apalagi ini? aku benar-benar tidak sanggup!' keluh ku dalam hati.


Dan sungguh apa yang aku kalau bukan dalam hati itu adalah kebenaran, kalau dia mau marah dan melampiaskan dengan cara yang sama seperti semalam, maka aku rasa aku akan benar-benar pingsan.


Tapi bak petir di siang bolong, aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku dengar.

__ADS_1


"Maafkan aku!" ucapnya pelan.


Aku masih memejamkan mataku meski sebenarnya aku merasa sangat terkejut. Dan tiba-tiba aku merasa tangan dingin Samuel menyentuh tangan ku dengan lembut, aku sedikit terkejut dan tangan ku sedikit menunjukkan reaksi itu. Tapi sungguh aku masih tidak ingin membuka mataku.


"Aku tahu kamu sudah bangun, Naira!" ucap nya membuat ku tak bisa berpura-pura tidur lagi.


Aku membuka mataku perlahan tapi aku tidak mau menatap ke arahnya. Aku memilih melihat ke arah lain meskipun aku tidak menepis tangannya yang sedang menyentuh lembut tangan ku. Bukan karena aku menginginkan itu, tapi karena untuk menggerakkan tangan ku saja aku tidak mampu.


"Kamu memang pantas marah padaku, aku memang salah Naira. Aku mengira obat itu adalah obat penunda kehamilan, aku tidak tahu kalau itu adalah vitamin!" jelasnya dengan suara pelan dan bergetar.


Aku tidak tahu apakah suaranya bergetar karena memang merasa bersalah, atau karena dia sebenarnya enggan untuk meminta maaf tapi harus melakukan nya.


Aku masih diam, jangan kan mengeluarkan suara, membuka mulut saja rasanya sakit. Tapi hati ku tiba-tiba terasa sangat tidak nyaman dan tidak tenang ketika Samuel menundukkan kepalanya dan menyentuhkan keningnya di punggung tangan ku yang tadi baru saja dia elus dengan lembut.


Aku hanya menghela nafasku berat. Aku terkadang tidak mengerti dengan sikap Samuel, aku tahu kalau dia mang lelaki yang kasar dan arogan. Tapi terkadang dia bisa sangat lembut dan perhatian, lalu berubah lagi menjadi lelaki yang tidak punya hati.


Beberapa saat dia seperti itu dan kemudian dia bangkit berdiri. Tanpa bicara dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Pintu kamar mandi tetap terbuka, aku mendengar suara keran air yang dinyalakan. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Samuel, mungkin saja dia mau mandi, karena dia masih mengenakan jubah tidur, kurasa mungkin saja dia memang mau mandi. Tapi jika memang seperti itu, kenapa dia tidak menutup pintu kamar mandinya.


Tak lama kemudian Samuel keluar dari dalam kamar mandi, dan berjalan mendekatiku. Aku tidak melihatnya secara langsung. Aku hanya melihat siluet itu dari cermin yang ada tak jauh dari tempat tidur.


Namun aku kembali di kejutkan saat Samuel menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku. Aku membelalakkan mataku, dan berusaha mengangkat tangan ku untuk menutupi dadaku. Tapi sia-sia saja, bak di timpa beban lebih dari lima kilo, tangan ku sulit terangkat.


Aku hanya bisa memalingkan wajah saja, menolak pun tidak bisa, aku hanya diam dan mencoba menguatkan diriku. Ternyata tidak seperti yang aku kira, Samuel malah mengangkat tubuhku, satu tangan di belakang punggung ku, dan satu lagi di belakang lutut, di antara lekukan kedua lutut ku.

__ADS_1


Aku menatap Samuel yang juga sedang menatap ku.


Deg


Tapi sedetik kemudian, aku memilih untuk memalingkan pandangan ku ke arah lain.


"Kamu masih marah?" tanya nya dengan suara lembut.


Aku hanya diam, sampai dia membawa ku masuk ke dalam kamar mandi dan mulai meletakkan tubuh ku perlahan ke dalam bathtub. Air hangat menyapu seluruh tubuhku yang terasa remuk, dan setelah terbasuh air hangat di dalam bathtub. Perlahan rasa pedih dan sakit semakin lama semakin berkurang. Rasa remuk di badan juga mulai sedikit berkurang.


Sambil bersandar di sandaran bathtub aku mencoba untuk menggerakkan tangan ku, meski sedikit masih sulit tapi sudah bisa ku angkat perlahan. Aku kira Samuel sudah keluar dari dalam kamar mandi, tapi ternyata aku salah. Dia bahkan membalurkan sabun dengan spons mandi ke punggung ku, gerakan yang tiba-tiba itu tentu saja membuat ku sedikit bergidik.


"Aku akan membantu mu mandi!" ucapnya pelan.


Aku hanya diam, tapi mendengar dia bicara dengan pelan seperti ini setidaknya membuat ku tidak spot jantung kan. Dan sikapnya yang lembut ini, terasa sedikit aneh bagiku. Tapi biarlah.


"Naira, aku sudah menyadari kesalahan ku. Aku benar-benar minta maaf padamu atas yang aku lakukan semalam, sebagai permintaan maaf ku, aku janji akan mengabulkan satu keinginan mu!" ucap Samuel dengan yakin.


Mataku membulat sempurna, aku terkejut dengan apa uang dia katakan. Ini benar-benar kesempatan emas bagiku.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2