Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
307


__ADS_3

Puspa dan Riksa masih menghabiskan waktu mereka berdua dengan hanya menonton film bersama di apartemen Riksa karena memang beberapa luka jahitan di tubuh Riksa tidak bisa membuatnya leluasa bergerak seperti yang dia mau.


Segala kebutuhannya juga Puspa yang menyediakan membuat Riksa merasa sangat aneh karena selama ini dia selalu mengerjakan semuanya sendiri.


"Aku jadi merasa seperti bayi!" keluh Riksa sambil menoleh ke arah Puspa yang duduk bersandar di sandaran sofa di sebelahnya.


"Dan aku merasa seperti baby sitter!" sahut Puspa membuat mereka berdua terkekeh karena apa yang mereka ucapkan barusan itu.


Mereka kemudian diam sejenak dan kembali melihat film kartun yang sedang mereka tonton. Benar sekali, film yang mereka tonton adalah film kartun, mereka sama sekali tidak pernah menonton film dewasa karena mereka menjaga diri mereka sendiri dari hak yang tidak tidak.


Riksa bahkan bersikeras untuk tetap tidur di sofa ruang televisi ini saat mereka tidur di malam hari. Riksa sangat menjaga Puspa yang kadang-kadang malah lepas kendali jika mereka sudah berciuman. Puspa malah lebih sering kehilangan kendalinya, tapi Riksa selalu mengingatkan kalau mereka belum menikah dan belum boleh melakukan hal yang hanya boleh di lakukan setelah menikah.


Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Puspa membuka suara dan mengatakan.


"Kapan kamu akan menikahi ku?" tanya Puspa random.


Riksa lantas menoleh ke arah Puspa.


"Secepatnya Puspa, secepatnya. Saat aku sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua mu aku akan segera menikahi mu!" jawab Riksa yakin.


Puspa hanya bisa menghela nafasnya.


'Kalau seperti itu, maka aku akan menjadi perawan tua. Ibu tidak mungkin merestui mu Riksa, tidak mungkin!' batin Puspa yang sudah tidak bersemangat lagi.


Puspa lalu berdiri dan berjalan menuju rak yang berisi banyak sekali kaset DVD.


"Cari apa?" tanya Riksa.


"Bosan nonton film kartun terus, mau cari film yang ada tulisan 21 terus banyak tanda plus plus nya!" jawab Puspa kesal.


Riksa hanya terkekeh di belakang Puspa. Dia tahu kalau Puspa hanya sekedar bicara saja, dia tidak akan benar-benar mencari film yang seperti itu karena memang Riksa tidak punya film yang seperti itu di koleksi kaset DVD nya.


Setelah beberapa menit mencari, Puspa terlihat kesal.


"Riksa, kamu ini pria macam apa sih. Masak tidak ada sama sekali kaset film yang ada tulisan 21 nya?" tanya Puspa kesal. Dia mengajukan protes pada kekasihnya karena sama sekali tidak ada kaset film dewasa di penyimpanan nya.

__ADS_1


"Aku tidak suka menonton film seperti itu hanya akan mengotori mata dan pikiran ku saja!" jawab Riksa terus terang. Apa yang dikatakan oleh Riksa ini memang adalah kejujuran. Dia memang lebih suka bekerja daripada menghabiskan waktu dengan hal yang tidak berguna.


Puspa yang mendengar jawaban Riksa lalu berbalik dan berkacak pinggang di depan Riksa menghalangi layar televisi yang sedang di tonton oleh Riksa.


"Begitu kah? lalu bagaimana kamu akan dapatkan referensi untuk malam pertama mu nanti?" tanya Puspa.


Riksa hanya mengangkat bahu nya sekilas.


"Ikuti intuisi saja!" jawab Riksa singkat.


Puspa harus kembali mendengus kesal, karena dia selalu kalah berdebat dengan Riksa soal itu.


***


Di kantor nya, Samuel sedang sangat sibuk menyiapkan meeting penting hari ini. Biasanya semua di tangani oleh Riksa. Tapi karena Riksa masih cuti jadi semua dia yang mengerjakan. Meskipun ada Dina, Ema dan juga Dika tapi mereka sudah punya tugas mereka masing-masing.


Saat Samuel sedang sibuk, Ema datang keruangan Samuel tanpa mengetuk pintu.


"Sam, pekerjaan ku sudah beres! ada yang bisa aku bantu?" tanya Ema menawarkan bantuannya pada Samuel.


"Kamu bisa mengandalkan aku!" jawab Ema sambil membawa dokumen yang di tunjuk tadi oleh Samuel lalu keluar dengan cepat dari ruangan Samuel.


Ternyata memang Ema melakukan apa yang dia katakan, bahkan dia mengerjakan semua itu kurang dari sepuluh menit. Setelah meeting selesai dan berhasil dengan baik. Samuel pun berterima kasih pada Ema.


"Terima kasih ya, kamu sudah banyak membantu!" ucap Samuel sambil menepuk bahu Ema pelan.


"Sama-sama, oh ya ini sudah jam makan siang. Kamu mau makan siang di luar atau mau aku pesankan makanan saja dan ku bawa ke ruangan mu?" tanya Ema.


"Itu tidak perlu, biasanya Dina yang akan memesankan aku makan siang!" jawab Samuel.


"Begitu ya, kalau begitu baiklah. Aku akan kembali ke ruangan ku!" kata Ema yang di balas anggukan oleh Samuel.


Samuel lalu pergi ke ruangannya, beberapa saat kemudian makanannya datang. Tapi dia sedikit heran kenapa bukan menu yang biasanya Dina kesan. Saat dia akan menghubungi Dina, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangannya.


Tok tok tok

__ADS_1


"Masuk!" seru Samuel.


Ternyata yang mengetuk pintu adalah Ema, wanita itu masuk dan langsung berjalan mendekati Samuel.


"Sam, aku mau bilang kalau Dina dan Dika tiba-tiba harus menemani klien yang tadi rapat dengan mereka makan siang di luar! jadi aku yang memesankan makanan untukmu, aku tidak tahu apa kesukaan mu, jadi aku pesan saja makanan kesukaan ku! tidak apa-apa kan?" tanya Ema dengan senyum tidak enak hati pada Samuel.


Samuel hanya bisa menghela nafas nya.


"Mau bagaimana lagi, makanannya sudah datang!" jawab Samuel.


"Boleh tidak kalau ikut makan bersama mu disini, rasanya tidak enak makan sendirian di ruangan ku, sepi sekali. Dika dan Dina tidak ada !" ucap Ema lagi.


Samuel diam sejenak, sebenarnya dia tidak suka makan bersama dengan orang lain di ruangannya. Tapi karena tadi Ema sudah bekerja dengan baik, dia merasa tidak ada salahnya memberi sedikit apreasiasi pada Ema.


"Baiklah, silahkan duduk!" ucap Samuel.


Samuel dan Ema duduk bersama untuk makan siang, sementara itu di lobi Naira juga sudah tiba bersama dengan bibi Merry membawakan makan siang untuk Samuel. Naira sangat bersemangat dia bahkan melangkah dengan cepat menuju ke lift khusus.


"Sam, itu ada makanan di pipi mu!" ucap Ema.


Samuel lalu mengusap wajahnya dengan tissue.


"Bukan di sana Sam, di situ!" ucap Ema yang lalu berdiri dan berjalan mendekati Samuel.


Saat dia mendekati Samuel, Ema tidak sengaja terselandung dan terjatuh di atas Samuel.


Ceklek


"Mas...!" Naira langsung memanggil nama suaminya ketika membuka pintu ruang kerja suaminya.


Mata Naira langsung melebar ketika melihat posisi tidak enak di pandang suaminya dengan Ema.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2