
Dua hari telah berlalu...
Bulan madu Samuel dan Naira benar-benar dipenuhi dengan kebahagiaan antara keduanya. Mereka jadi lebih dekat satu sama lain. Mereka banyak bercerita satu sama lain tentang kehidupan mereka sebelum mereka bertemu, dan tentang masa kecil mereka.
Samuel juga sudah tidak ragu untuk terus terang dan jujur pada Naira. Karena dia benar-benar sudah sangat mencintai istrinya itu sekarang. Samuel masih memeluk Naira dengan posisi Naira tidur di atas dada Samuel sambil memeluknya. Sebenarnya bukan Naira yang mau melakukan hal itu, tentu saja Samuel yang memintanya.
Samuel menceritakan tentang Adam adiknya yang dulu pernah salah jalan, dan terjerumus pada lingkup pertemanan yang salah. Hingga dirinya masuk ke pusat rehabilitasi selama kurang dari setengah tahun.
"Benarkah?" tanya Naira tak percaya.
Dia tidak menyangka kalau ada anggota keluarga Virendra yang bisa seperti itu.
"Bukankah ayah Damar sangat tegas, dan ibu Stella juga sangat baik. Bagiamana bisa Adam...?" Naira sebenarnya ragu untuk bertanya tapi dia sangat penasaran.
"Ibu dan ayah dulu sering sekali melakukan perjalanan bisnis keluar negeri. Semua ini juga salahku, seharusnya aku lebih perhatian pada Adam. Tapi aku malah tidak terlalu perduli padanya. Aku dulu itu sangat pendiam dan hanya mengurusi masalah pendidikan ku saja, aku tidak pernah berpikir kalau aku harus sesekali bermain dan berbincang dengan Adam. Aku kira Adam juga sama, hanya fokus pada belajar saja, tapi ternyata selain belajar dia butuh juga untuk bermain!" jelas Samuel yang mulai sesekali menghela nafas nya saat bercerita.
Terlihat sekali kalau dia menyesali masa-masa itu, dimana dia lebih perduli pada sekolah dan dirinya sendiri hingga mengabaikan Adam. Naira yang bisa merasakan hal itu, mengelus lembut lengan Samuel. Apa yang dilakukan oleh Naira itu bertujuan untuk membuat suaminya merasa lebih baik, dan menunjukkan kalau dirinya tidak menyalahkan Samuel atas semua yang telah terjadi.
"Dan ketika aku tidak mengawasi Adam, dia sering keluar dari rumah. Ternyata dia bergaul dengan anak-anak jalanan yang menggunakan obat-obatan terlarang!" terang Samuel sambil nada suaranya makin rendah.
Naira tahu kalau sebenarnya Samuel merasa sedih saat menceritakan itu semua.
"Kamu baru mengetahui nya ketika Adam menjual barang-barang pribadinya karena uang di tabungan nya sudah habis. Dan saat itu ternyata kami sudah terlambat, dia bahkan bisa melukai orang ketika dia dilarang keluar dan memakai obat-obatan!" cerita Samuel lagi.
Naira bisa membayangkan betapa sedihnya Samuel juga ayah dan ibunya saat itu.
"Ibu sangat sedih saat ayah memaksa Samuel menjalani rehabilitasi!" lanjut Samuel.
"Tapi dia benar-benar sudah sembuh kan sekarang?" tanya Naira yang jadi penasaran.
__ADS_1
Naira melihat sendiri bagaimana sikap cuek dan acuh tak acuh dari adik iparnya itu. Dia takut kalau bahkan sampai sekarang pun, Adam masih berhubungan dengan hal-hal semacam itu.
"Selama kurang lebih hampir enam bulan dia di rawat, dan dokter menyatakan dia sudah bersih. Setelah itu dia di bawa oleh paman ku, adik dari ibu ke sebuah desa dan dia belajar disana, itu istilahnya mondok! dia diajarkan ilmu agama dan pengendalian diri disana. Dan menurut paman dia benar-benar sudah bersih. Kami keluarga Virendra juga rutin check kesehatan, dan selama ini dia memang sudah bersih!" terang Samuel.
Naira menghela nafasnya lega mendengarkan penjelasan dari Samuel.
"Lalu bagaimana dengan Riksa, kapan dia menjadi bagian dari keluarga ini?" tanya Naira yang tiba-tiba teringat pada Riksa.
Dia tahu kalau Riksa sebenarnya tidak hanya asisten pribadi dari suaminya, tapi keluarganya juga memperlakukan Riksa layaknya memperlakukan Samuel dan juga Adam.
"Entah itu keberuntungan atau bukan bagi Riksa, tapi dia masuk ke dalam keluarga saat Adam di rehabilitasi. Itulah yang membuat Adam selalu tidak bisa akur dengan Riksa. Ibu bertemu dengan Riksa saat itu, dan Adam mengira kalau Riksa memang datang untuk mengambil tempat nya...!"
"Kenapa dia berpikir seperti itu?" tanya Naira menyela Samuel.
Naira tahu kalau orang sebaik Riksa tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Dia tidak akan mengambil posisi orang lain demi dirinya sendiri.
Naira langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Samuel. Dia lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Bukan begitu mas, tapi aku yakin kamu juga berpikir hal yang sama dengan ku. Kalau Riksa tidak mungkin punya pikiran semacam itu!" ucap Naira memberi suaminya itu penjelasan agar Samuel tidak salah paham.
Samuel mengangguk paham.
"Kamu benar, tapi sulit untuk mengatakan nya pada Adam. Dia juga jarang sekali bicara dengan ku. Sebenarnya aku juga ingin bicara padanya layaknya seorang kakak dan adik, ck... tapi selama ini dia tidak berada di kota yang sama dengan ku!" ucap Samuel terdengar sedikit mengeluh.
"Sekarang kan kita akan tinggal satu rumah dengannya. Kurasa, mas bisa lebih banyak mengobrol dengannya nanti!" seru Naira.
Samuel mengangguk dan mencium puncak kepala Naira.
"Kamu benar sayang, sudah belum istirahat nya?" tanya Samuel.
__ADS_1
Naira mengernyitkan keningnya, karena tangan Samuel sudah lebih dulu beraksi sebelum bibirnya bertanya.
Di tempat lain, di rumah besar di mana seorang wanita sedang membenahi rumah nya seorang diri karena dia belum menemukan seorang asisten rumah tangga.
Caren sedang membersihkan ruang besar itu sendirian, selama dua hari ini dia sudah melengkapi rumah itu dengan beberapa perlengkapan dan peralatan. Dia sudah membeli tempat tidur, dan perlengkapan untuk kamarnya. Dia juga sudah membeli sofa dan perlengkapan dapur.
Caren duduk di sebuah kursi di dapur.
"Huh, lelah sekali. Kapan biro penyalur asisten rumah tangga itu akan mengirim asisten rumah tangga kemari!" keluh Caren.
Dia lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku bajunya. Dia melihat saldo tabungan yang ada di rekening nya.
"Ck... hanya tinggal beberapa puluh juta lagi. Aku harus secepatnya mencari pekerjaan. Kenzo sudah membuat karir ku hancur!" ucap Caren sambil menopang keningnya dengan tangan nya di atas meja.
Selama berada di ibukota ini dia telah berusaha menghubungi klien dan teman-temannya yang bisa membantunya bangkit lagi dan bisa mempekerjakan nya. Tapi semua menolak, dan dirinya tahu kalau Kenzo pasti dalang di balik semua ini.
Dia juga sudah berusaha melamar pekerjaan di beberapa perusahaan yang lebih kecil tapi semua juga menolaknya.
"Aku harus apa sekarang? aku harus mencari pekerjaan! Kenapa semua jadi begini?" sesal Caren.
Tapi setelah berpikir sebentar, Caren mengangkat kembali wajahnya.
"Atau aku harus merebut Samuel kembali, aku yakin dia pasti masih menyimpan perasaan nya meskipun sedikit padaku!" gumam Caren dengan tatapan mata tajam.
Author POV end
***
Bersambung...
__ADS_1