Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
66


__ADS_3

Sudah lewat tengah malam dan kami baru tiba di depan gerbang besar rumah Samuel. Aku bahkan tidak boleh memejamkan mataku oleh si lidah tajam ini.


Sepanjang perjalanan dia seperti mengawasi ku, tidak membiarkan aku menyandarkan kepalaku. Aku heran kenapa dia melakukan itu, kalau dia melarang ku istirahat agar aku menemaninya bicara, itu lumayan masuk akal. Tapi kami hanya diam dan tidak saling berhadapan satu sama lain.


Aneh sekali, dia bersandar dan menopang kepalanya dengan tangan, seperti orang yang tengah tidur. Tapi dia akan tahu kalau aku memejamkan mataku. Dan caranya saat membangunkan aku itu sungguh tidak manusiawi sekali menurut ku, kalau tidak menendang kaki ku hingga membuatku meringis kesakitan, maka dia akan memukul tangan ku dengan kuat bahkan menepuk kepala ku dengan tangan nya yang terkepal.


Sepertinya penindasan dari si lidah tajam ini sudah di mulai. Hasilnya adalah aku harus terus membuka mataku meskipun rasanya sangat berat.


Setelah mobil yang di kemudikan oleh pak Urip masuk ke dalam dan melewati pintu gerbang, aku melihat suasana rumah besar ini sudah sangat sepi. Aku berfikir bahwa ini adalah hal yang wajar, karena memang ini sudah larut malam, pak Ranu dan yang lain pasti sudah istirahat.


Mobil sudah berhenti di depan teras utama, Pak Urip dan bibi Merry turun terlebih dahulu, pak Urip membukakan pintu mobil untuk Samuel dan aku membuka pintu mobil sendiri karena aku ingin segera masuk ke dalam rumah dan tidur dimana pun itu.


Kami bertiga masuk ke dalam rumah, karena aku tidak tahu harus tidur dimana aku menarik lengan jas Samuel dan bicara pelan padanya.


"Tuan, kamar ku dimana?" tanya ku pada Samuel setengah berbisik karena bibi Merry sejak tadi terus mengikuti langkah kami.


Samuel tidak langsung menjawab, dia melihat ke arah belakang, ke arah bibi Merry. Dan tiba-tiba Pak Ranu kepala pelayan di rumah ini langsung keluar bersama dengan para pelayan lainnya dan berbaris rapi di ruangan ini.


'Wah apa memang harus selalu seperti ini?' tanya ku takjub yang melihat pelayan berpakaian rapi dan seperti sedang menunggu tugas yang akan di berikan oleh Samuel padanya.


"Selamat malam tuan dan nyonya, selamat datang kembali di rumah. Kami semua ingin mengucapkan selamat atas pernikahan tuan dan nyonya, semoga tuan dan nyonya selalu bahagia!" ucap pak Ranu dengan senyuman lebar, dia mewakili para pelayan yang lain mengucapkan selamat. Pak Ranu terlihat sangat bahagia untuk kami.


"Terimakasih!" cicit ku pelan karena merasa sangat terharu sambil tersenyum pada mereka satu persatu.


Tapi aku langsung menghilangkan senyuman di wajah ku ketika Samuel menatap tajam ke arahku.


"Siapa yang menyuruh mu menjawab?" tanya Samuel dengan nada yang begitu kasar.


Aku langsung diam dan menundukkan kepala ku. Tak berani melihat ke arahnya, bukannya aku takut. Aku hanya terlalu lelah saja untuk berdebat. Sekarang yang aku butuhkan adalah bantal dan selimut.


"Kalian boleh pergi, pak Ranu. Siapkan kamar untuk bibi Merry, beberapa hari selama ibu liburan bersama keluarga Naira, dia akan menginap disini!" seru Samuel pada pak Ranu.

__ADS_1


"Baik tuan!" jawab pak Ranu cepat namun sopan dan langsung mengajak bibi Merry menuju ke kamarnya untuk bisa segera istirahat.


"Ikut aku!" seru Samuel pada ku dan aku segera mengikuti nya.


Aku mengikuti langkah Samuel sedikit lamban karena gaun pengantin yang aku pakai ini sedikit membuat tidak leluasa mengambil langkah lebar.


"Cepat lah, kenapa berjalan saja seperti siput!" bentak nya kesal karena aku yang lamban.


"Iya, maaf tuan!" sahut ku pelan dan langsung mengangkat gaun ini lumayan tinggi agar aku bisa lebih mudah berjalan.


Beberapa saat kemudian aku berhenti melangkah dan menjatuhkan gaun yang aku jinjing. Aku terkejut karena kami saat ini berada di depan pintu kamar yang aku tahu ini adalah pintu kamar Samuel.


"Masuk!" ucapnya setelah membuka pintu.


Aku ragu untuk masuk ke dalam, tapi saat aku sedang berfikir dan menimbang-nimbang, sebuah suara kembali membuat ku tersentak.


"Jangan sampai aku mengulang dua kali!" bentak nya lagi. Membuat langkah ku secara otomatis maju dan masuk ke dalam kamarnya.


Aku menelan saliva ku dengan susah payah ketika Samuel berbalik dan menatap ku.


Deg


'Dia gak akan macam-macam, aku yakin. Dia yang bilang kan, kalau dia sama sekali gak tertarik sama aku!' batin ku menguatkan keyakinan ku kalau Samuel tidak akan melakukan apapun padaku.


"Mikirin apa kamu? buruan ganti baju. Aku mau istirahat!" serunya langsung melepaskan jas dan juga membuka kancing kemejanya.


Aku melihat ke sekitar kamar ini, hanya ada satu tempat tidur. Tidak ada sofa atau tempat duduk.


"Tuan dimana aku harus tidur?" tanya ku ragu.


"Ck... kurasa ibu sengaja memindahkan semua kursi dan sofa keluar kamar! tidur saja di ranjang bersama ku. Aku sedang tidak ingin banyak bicara, aku lelah!" ucapnya lalu melepaskan tali pinggang nya dan mengambil pakaian dari lemari.

__ADS_1


Setelah Samuel masuk ke dalam kamar mandi, aku juga mulai meraih tas ku yang tadi sudah di bawa masuk oleh salah seorang pelayan ke kamar ini saat di turunkan oleh pak Urip dari bagasi mobil. Aku mengambil baju piyama, tapi kemudian aku letakkan lagi.


"Ini terlalu tipis, tidak tidak.. yang lain saja!" gumam ku dan mengambil celana panjang dan juga Kaos yang lumayan tebal.


"Nah, ini saja!" gumam ku lagi lalu menutup tas ku.


Aku menunggu Samuel keluar dari dalam kamar mandi, sambil menunggu aku berusaha membuka resleting gaun yang aku pakai, tapi sayang nya karena terlalu tinggi dan panjang, tangan ku sedikit sulit untuk menjangkau nya.


"Ck... kenapa juga aku lupa, waktu pakainya tadi kan Puspa sama asistennya yang bantuin, aduh minta tolong siapa nih! masa bangunin pelayan cuma buat bantuin beginian doang!" gumam ku yang masih berusaha untuk meraih ujung resleting gaun pengantin ini.


Deg


Aku merasa tangan ku menyentuh sesuatu yang dingin dan lembut.


"Ck... apa yang kamu bisa? membuka pakaian sendiri pun tidak bisa!" ucap Samuel yang entah sejak kapan telah berdiri di belakang ku.


Aku diam, ketika dia membantu ku. Mau menolak juga aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa, ku yakin semua pelayan sudah tidur. Aku memejamkan mataku saat aku merasa tangannya menyentuh kulit punggung ku. Tapi sedetik kemudian mataku terbuka karena merasa ada hembusan udara yang terasa hangat di leher ku.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Samuel membuat ku terkejut.


"Jangan berharap lebih, tidur!" ucap nya kembali pada mode kasar lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Aku mengerjapkan mataku perlahan, aku mematung sejenak di tempat ku, aku tidak tahu apa yang tadi aku pikirkan.


Aku mengangkat bahuku sekilas lalu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Ketika aku keluar dari dalam ke mandi, seperti nya Samuel sudah sangat terlelap. Terdengar dengkuran halus saat aku mendekat ke arah tempat tidur.


Aku beranjak ke sisi sebelah kiri Samuel, aroma lilin ini benar-benar membuat kepala ku bertambah berat saja. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut berbaring di sebelah Samuel, dengan meletakkan dua guling sebagai pembatas. Aku menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh ku sebatas leher. Hari ini sungguh melelahkan.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2