
Samuel telah tiba di rumahnya, dan orang yang pertama kali ingin Samuel temui tentu saja adalah istri tercinta nya, Naira.
Samuel langsung masuk ke dalam rumah, beberapa orang menyapanya dan dia melewati orang-orang itu begitu saja, karena orang yang paling ingin dia temui adalah Naira.
Samuel langsung menuju ke kamarnya.
"Naira!" panggil Samuel ketika membuka pintu kamarnya.
Naira yang kebetulan juga sedang berada di dalam kamarnya dan sedang membereskan pakaian nya langsung menoleh ke arah pintu kamar nya.
"Mas!" ucap Naira.
Samuel langsung berlari menghampiri Naira dan memeluknya. Senyum lebar langsung tergambar jelas di wajah wanita yang sedang mengandung dengan usia kehamilan empat bulan itu.
"Sayang, aku sangat merindukanmu!" ucap Samuel sambil memeluk erat istrinya.
"Aku senang mas sudah kembali, bagaimana? apakah semua baik-baik saja?" tanya Naira.
"Memangnya Riksa dan Puspa belum datang kemari?" tanya Samuel dan langsung di balas dengan gelengan kepala oleh Samuel.
"Memangnya mereka tidak apa-apa? kata mas Riksa pingsan kemarin?" tanya Naira mengingatkan suaminya yang sepertinya lupa kalau dia pernah bilang Riksa pingsan.
Samuel memegang kepalanya.
"Oh iya sayang aku lupa, Riksa babak belur. Kalau ibu melihatnya pasti ibu akan cemas. Oh ya dimana ibu?" tanya Samuel pada Naira.
"Tadi ibu bilang akan keluar sebentar setelah mengantarku pulang dari rumah sakit!" ucap Naira.
"Kemana ya?" tanya Samuel yang langsung di balas Naira dengan mengangkat bahunya sekilas.
"Ya sudah biarkan saja, dia pasti baik-baik saja kan!" seru Samuel yang langsung menggendong Naira menuju tempat tidur mereka.
__ADS_1
Sementara itu, di jalan Stella sebenarnya di temani dua orang pengawal nya dan ingin pergi ke suatu tempat yang mungkin tidak akan pernah di pikirkan oleh semua orang.
Beberapa menit di perjalanan, Stella sudah sampai di tempat tujuannya. Kediaman nenek Arumi. Stella langsung keluar dari dalam mobil begitu mobil berhenti di depan gerbang. Dia tidak menunggu pengawal yang merangkap sebagai supirnya untuk membukakan pintu mobil untuk nya.
Begitu sudah keluar dari mobil, Stella langsung bergegas ke arah penjaga gerbang yang tidak kunjung membukakan pintu gerbang rumah besar itu.
"Hei, kenapa kalian tidak membuka gerbang nya, kami ingin masuk!" seru Stella tanpa basa-basi dan tanpa bersopan santun dengan baik, wajahnya bahkan terlihat judes sekali.
Kedua satpam saling pandang.
"Maaf nyonya ini siapa? dan ingin bertemu dengan siapa?" tanya satpam yang berambut sedikit ikal yang sudah bekerja sangat lama di rumah nenek Arumi tapi memang belum pernah melihat Stella datang berkunjung ke rumah nenek Arumi.
"Aku Stella Virendra, aku mau bertemu dengan Mega. Buka gerbang nya!" seru Stella tanpa gentar. Stella benar-benar terlihat tegas dan tidak mau di kalahkan.
"Sebentar Nyonya" ucap salah seorang satpam lalu membuka pintu gerbang untuk Stella karena dia merasa tidak asing dengan nama belakang Virendra.
Stella kembali ke dalam mobil lagi, kembali masuk ke dalam mobilnya karena memang jarak dari pintu gerbang ke arah pintu utama kediaman nenek Arumi lumayan jauh, sekitar 100 meter lebih jadi kalau dia berjalan akan lumayan membuat kakinya pegal sementara dia sedang butuh tenaga untuk bicara dengan Mega yang menurutnya sangat keterlaluan menjadi seorang ibu.
Melihat para pengawalnya tak kunjung bergerak dan mengikutinya, Stella lalu menoleh.
"Hei kenapa malah diam saja. Cepat ikuti aku dan terus berada di belakang ku. Ingat untuk menunjukkan wajah seram kalian ya, yang paling seram dan galak. Mengerti!" seru Stella dengan mata yang sedikit melotot memberi contoh pada dua pengawalnya itu.
"Baik nyonya!" sahut kedua pengawal Stella.
Stella lalu mengetuk pintu besar itu. Seorang pengawal lalu berkata.
"Nyonya, itu ada bel!" ucapnya ragu-ragu takut kalau Stella marah. Tapi menurutnya memang lebih praktis menggunakan bel kan.
Stella yang memang tidak tahu kalau ada bel sangking bersemangat nya ingin bertemu dengan Mega hanya bisa berkata.
"Kalau sudah lihat kenapa tidak kamu saja yang bunyikan bel itu!" ucapnya.
__ADS_1
Setelah Stella berkata seperti itu, pengawal yang mengatakan ada bel tadi langsung membunyikan bel dengan cepat. Beberapa saat kemudian pintu terbuka, menunjukkan seorang wanita paruh baya dengan rambut di sanggul dan seragam asisten rumah tangga.
"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" tanya asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuk Stella.
"Aku mau bertemu dengan Mega, panggil dia!' ucap Stella yang langsung masuk begitu saja ke dalam rumah dan langsung duduk di ruang tamu bahkan sebelum asisten rumah tangga keluarga nenek Arumi itu mempersilahkan nya untuk masuk atau duduk.
Stella terlihat acuh dengan dua pengawal yang terus mengikuti nya, dan berdiri di belakangnya. Asisten rumah tangga itu juga langsung bergegas berjalan cepat ke dalam untuk memanggil Mega.
Beberapa saat kemudian, Mega keluar bersama dengan Putra.
"Nyonya Stella!" tegur Putra yang memasang wajah yang cukup senang dan bersahabat.
Berbanding terbalik dengan Mega yang sepertinya sudah tahu maksud kedatangan Stella menemuinya.
"Kalian duduklah!" seru Stella membuat Putra langsung duduk tapi Mega malah mengernyitkan keningnya.
"Ini rumahku, kenapa kamu malah memerintah ku?" tanya Mega yang terkesan tak terima dengan apa yang dilakukan Stella sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sejak kapan rumah ini jadi rumah mu? ini rumah nenek Arumi, setelah dia meninggal dia memberikan rumah ini pada Puspa, artinya ini adalah rumah Puspa, siapa kamu mengaku-ngaku ini rumah mu?" tanya Stella dengan santai.
"Nenek Arumi itu ibuku, tentu saja rumah ini juga rumah ku!" balas Mega yang mulai meninggikan nada suaranya.
"Heh, ibu yang tidak pernah kamu urus selama belasan tahun. Kamu bahkan tidak akan menghubungi nya kalau tidak dia yang menghubungi mu, atau kamu kekurangan yang kan di luar negeri. Aku dan ayah mertua ku yang sering bersama dengan nenek Arumi dan Puspa, kamu seharusnya sadar diri Mega!" ucap Stella membuat Mega mengepalkan tangannya karena kesal.
"Jangan bicara sembarangan, pergi saja kamu kalau mau bicara seperti...!"
Stella lalu berdiri.
"Aku tidak bicara sembarangan, itu kenyataan. Dimana ibunya Puspa ketika dia sakit dan di rawat di rumah sakit selama tiga hari, dimana anaknya nenek Arumi ketika dia menghembuskan nafas terakhirnya? bukan kamu yang ada di samping mereka Mega. Suamiku, aku dan ayah mertua ku, jadi akan ku katakan untuk pertama dan terakhir kalinya. Berhenti mengusik kehidupan Puspa, dia dan Riksa saling mencintai. Jika kamu berusaha mengusik mereka lagi, maka kamu akan berhadapan dengan ku!" gertak Stella dengan wajah yang dibuat begitu galak dan membuat siapapun yang melihatnya merinding.
***
__ADS_1
Bersambung...