Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
265


__ADS_3

Mendapatkan tatapan menusuk dari Adam membuat punggung Vina yang awalnya memang sudah berkeringat dingin semakin bertambah merinding. Tapi Vina tidak mau menyerah begitu saja, dia tidak akan membiarkan dirinya kalah pada Adam yang menurutnya lebih pengecut daripada dirinya. Vina berpikir seperti itu bukanlah tanpa alasan, menurutnya Adam memang tidak amnesia, kalau dia amnesia dan keluarganya mengatakan kalau Vina dan dirinya akan menikah pasti Adam tidak akan bersikap begitu dingin pada Vina ketika masuk ke dalam ruangan ini.


Jika Adam memang amnesia dia pasti akan bertanya pada Vina kenapa Vina mau menikah dengannya. Dia akan bertanya kenapa mereka bisa kecelakaan dan banyak hal lagi. Vina memang bukan pakar mikro ekspresi tapi dia suka sekali membaca novel novel bergenre thriller, dan sedikit banyak sikap Adam itu menunjukkan kalau Adam memang sangat tidak suka pada Vina dan tidak mau mengenalnya. Hal itu terbukti karena sejak tadi Adam sama sekali tidak mau melihat ke arah Vina.


"Lalu apa tujuan mu?" tanya Adam singkat dengan ekspresi dingin dan nada suara yang datar sekali seperti jalan tol, lempeng banget.


Vina lagi-lagi harus menghela nafas panjang, masalahnya adalah dia terbiasa hidup di kalangan orang-orang yang selalu bicara baik dan lembut padanya. Ketika berhadapan dengan sosok keras dan dingin seperti Adam membuat Vina harus menyiapkan ekstra kesabaran dan ekstra keberanian hanya untuk sekedar bicara saja.


"Aku tidak punya tujuan lain, apa yang terjadi padaku aku sungguh sudah iklhas akan hal itu. Kecelakaan dan kehilangan rahim mungkin memang sesuatu yang bahkan bisa membuat seseorang ingin mengakhiri hidupnya, tapi aku masih punya ayah dan ibu yang begitu sedih melihat ku putus asa. Dan aku tidak mau melakukan itu, memangnya kenapa kalau tidak bisa punya anak, masih banyak di dunia anak-anak yang juga tidak punya ibu, aku bisa jadi ibu untuk mereka... !" Vina menjeda kalimatnya karena sebenarnya dia juga sangat sedih saat mengatakan hal itu.


"Aku sangat berterimakasih pada kakak mu yang telah mengambil keputusan itu, tapi tuntutan itu kedua orang tuaku uang mengaturnya. Jujur saja aku tidak ingin menuntut kalian, tapi aku juga tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah kedua orang tua ku melakukan hal itu. Jadi intinya adalah, aku ingin kamu menyetujui pernikahan ini...!"


"Apa kamu sudah tidak waras!" bentak Adam menyela apa yang dikatakan oleh Adam.


"Aku tahu kamu mungkin lebih senang di penjara daripada menikah dengan ku, tapi pikirkan kedua orang tuamu, pikirkan juga kakek mu. Anggap saja ini adalah pernikahan kontrak, enam bulan dan setelah itu semua selesai!" tegas Vina yang sudah mulai emosi.


Jika saja dia tidak kesal pada Jodi dan ingin memberi pelajaran pada pria pengkhianat itu juga sahabat yang telah menikungnya dari belakang. Dia juga tidak akan mau menikah dengan pria kasar dan super cuek macam Adam. Dia benar-benar butuh dukungan dari keluarga Virendra agar bisa menghancurkan Jodi dan Caren. Ayah dan ibunya terlanjur percaya pada Jodi bahkan menyerahkan lebih dari dua puluh persen saham perusahaan Rahardja pada Jodi.


Vina butuh dukungan dari orang lain untuk mengumpulkan bukti dan di berikan pada kedua orang tuanya juga para pemegang saham yang lain.


"Pernikahan kontrak? kurasa kamu isi kepalamu memang sedang bermasalah!" seru Adam.


Vina benar-benar sudah kehabisan kesabaran nya, ternyata keberanian dan sedikit kesabaran memang tidak cukup untuk bicara pada seorang Adam Virendra.


"Baiklah, empat bulan. Tapi tidak bisa kurang dari itu. Aku butuh waktu untuk melakukan sesuatu!" tegas Vina.

__ADS_1


Mata Adam melirik semakin tajam ke arah Vina.


"Sudah kuduga, kamu memang punya tujuan lain. Dasar licik!" sindir Adam pedas pada Vina.


"Hei, coba kamu pikir. Sebenarnya apa ruginya melakukan itu? kamu bisa bebas dari tuntutan, nama baik keluarga mu aman, aku juga tidak akan menuntut apapun padamu. Kamu tidak perlu menjadi suami sungguhan bagiku, cukup beri aku nama belakang mu selama empat bulan. Heran, sudah di beri begitu banyak kemudahan masih bilang aku licik!" keluh Vina pada Adam.


Adam yang melihat ekspresi wajah Vina yang kesal dan melihat Vina mengomel entah kenapa hatinya merasa kalau apa yang dia lihat itu adalah hal yang lucu. Adam pun terkekeh kecil namun dia memalingkan wajahnya dari Vina hingga gadis itu tidak dapat melihat ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Adam.


Adam kemudian berpikir kalau apa yang dikatakan oleh Vina itu ada benarnya. Hanya empat bulan kan, setelah itu dia bisa kembali pada Puspa dengan cara yang lebih baik dan cara yang lebih halus lagi. Lagipula kalau dia menikah dengan Vina, tidak akan ada anggota keluarga nya yang akan mencurigainya kalau sedang merencanakan untuk menghancurkan hubungan Riksa dan juga Puspa.


"Ck... sudahlah. Terserah kamu saja! aku sudah selesai, kalau kamu mau pergi silahkan saja!" kesal Vina yang memalingkan wajahnya ke arah jendela.


"Baiklah, aku setuju. Tapi ingat setiap bulan kamu juga harus memberikan kompensasi padaku!" seru Adam.


'Apa-apaan pria ini. Bukankah seharusnya suami yang memberikan kompensasi bulanan pada istrinya, dan lagi aku ini kan korban. Kenapa dia malah semena-mena begitu?' tanya Vina dalam hati.


"Kamu bilang apa? kompensasi bulanan? hello... yang korban disini itu aku!" seru Vina sambil menunjuk wajahnya sendiri dengan telunjuk kanannya.


"Lalu?" tanya Adam cuek.


Vina lagi-lagi harus membelalakkan matanya kembali karena Adam malah bertanya seperti itu.


"Dimana-mana yang mendapatkan kompensasi bulanan itu ya korban, bukan tersangka!" jelas Vina.


"Memang yang memaksa menikah dengan ku siapa?" tanya Adam membuat Vina langsung diam dan menutup mulutnya dengan rapat.

__ADS_1


Vina hanya bisa mengusap wajahnya kasar.


'Ya Tuhan semoga saja keputusan ku ini benar!' batin Vina.


Vina sangat berharap keputusan nya itu adalah hal benar dan dapat membantunya mengungkap siapa Jodi sebenarnya.


"Baiklah berapa yang kamu mau?" tanya Vina pada Adam.


Adam yang mendapatkan pertanyaan itu malah menaikkan sebelah alisnya.


"Yakin ingin aku yang putuskan berapa kompensasi nya?" tanya Adam membuat Vina mengerutkan keningnya dan mengepalkan tangannya kesal.


Vina mendengus kesal dan melihat ke arah Adam.


"Iya, katakan saja!" jawab Vina yang tidak ingin di remehkan oleh Adam.


"Ck... baiklah. Beri aku seratus juta sebulan!" seru Adam singkat dan sudah memutar kursi rodanya bersiap keluar dari ruang rawat Vina.


Vina terkesiap.


"Seratus juta? kamu mau merampok ku?" tanya Vina tak percaya dengan permintaan Adam yang menurutnya sama saja ingin merampok Vina.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2