
Adam tahu mereka berdua yang dimaksud oleh Vina itu adalah Jodi dan Caren. Adam sejak awal memang tidak menyukai Caren, karena dia tidak bersikap baik pada ibunya. Dan Adam lebih kesal lagi karena Samuel dulu sampai melawan ibunya dan menentang ibunya karena cinta buta nya pada Caren. Tapi Adam sekarang sudah lega, karena mata Samuel benar-benar sudah terbuka dan tidak lagi perduli pada wanita bernama Caren itu.
Dan dari apa yang Adam dengar barusan dari Vina, kalau dia melihat Jodi dan Caren berhubungan di depannya. Itu pasti juga sangat menyakitkan bagi Vina. Kebencian Adam pada wanita bernama Caren itu makin dalam saja rasanya.
"Padahal hari itu adalah hari dimana seharusnya Jodi melamar ku...!" ucap Vina. Namun belum selesai Vina bicara, Vina kaget karena Adam mendorong Vina menjauh darinya.
"Ck...seharusnya kamu bersyukur matamu di buka sebelum semuanya terlambat. Vina kalau sampai kamu sudah menikah dengannya dan dia mengkhianati mu, mau apa kamu?" tanya Adam dengan nada yang semakin meninggi.
Vina hanya menyeka air matanya, dia juga sangat bersyukur karena bisa melihat wajah asli Jodi dan Caren sebelum dia menikah dengan Jodi. Tapi sekarang semua juga sudah terlambat, karena Jodi dan Caren juga akan tetap berusaha mengambil alih perusahaan karena mereka juga sudah punya dukungan dari pemegang saham lain. Kalau hanya menceritakan perselingkuhan mereka maka itu tidak akan merubah apapun. Karena mereka sama-sama lajang.
"Aku tahu, tapi mereka bahkan punya rencana lain. Saat mereka melakukan hubungan itu aku sempat dengar mereka bicara kalau mereka berdua akan mengambil alih kepemimpinan perusahaan saat rapat umum nanti, semua ini salahku. Aku yang merengek pada ayah agar memberikan jabatan wakil pimpinan pada Jodi dan merengek pada ayah untuk memintanya memberikan pekerjaan bahkan saham pada Caren. Sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Vina yang kembali menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sekarang Adam mengerti kenapa Vina butuh dukungan darinya dan keluarga Virendra. Karena Damar pernah punya rencana untuk merger dengan perusahaan Rahardja dan membeli beberapa persen saham disana. Vina pasti menginginkan hal itu untuk membantunya melawan Jodi dan juga orang-orang yang berpihak padanya. Meskipun Adam tidak mengerti kenapa dia ingin membantu Vina, tapi dia sudah berniat untuk membantu wanita yang sekarang berstatus sebagai istrinya itu.
Adam lalu menepuk bahu Vina lagi.
"Sudah, sudah... aku akan membantu mu. Kita akan cari bukti kalau Jodi itu bukan orang yang jujur seperti yang mereka kira!" seru Adam membuat Vina menghentikan tangisnya.
Vina mengangkat kepalanya dan mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Benarkah?" tanya Vina dengan cepat, dia sangat terkejut Adam bilang mau membantunya.
"Iya, tapi apa kamu tidak punya sapu tangan atau tissue untuk menyeka tangis mu itu, tangan mu kan kotor!" ucap Adam yang melihat Vina menyela air matanya dengan tangannya yang tadi memegang pintu masuk roof top.
"Tidak ada, aku tidak pernah bawa sapu tangan atau tissue. Karena sebenarnya aku sama sekali tidak berencana menangis hari ini. Tapi ketika melihat ayah tadi...!" ucap Vina dengan pandangan mata lurus ke depan.
Tapi belum selesai lagi Vina dengan kalimatnya, tiba-tiba.
"Ini!" sela Adam yang sudah mengulurkan sapu tangan miliknya di depan wajah Vina.
Vina tertegun melihat sapu tangan Adam berada di depan wajahnya. Dia tidak percaya kalau pria yang dia sangka kulkas dua pintu juga bisa sebaik dan selembut ini.
__ADS_1
"Cepat ambil, pegal tanganku!" pekik Adam dengan nada kesal.
Dengan cepat Vina meraih sapu tangan di depannya itu sambil membatin.
'Hais, ku tarik kata-kata ku tadi kalau dia perduli dan lembut. Adam ini memang kulkas dua pintu!' batin Vina sambil membersihkan wajahnya dari sisa-sisa air mata.
"Nanti kita bahas rencananya di rumah, kamu harus kumpulkan siapa saja orang-orang Jodi dan siapa saja orang-orang ayah mu di perusahaan ini. Berapa lama rapat umum akan di adakan?" tanya Adam.
Vina masih bengong karena begitu terkejut dengan semua yang di katakan oleh Adam barusan.
'Dia bicara seperti dia mengerti struktural perusahaan saja!' batin Vina.
"Hei, malah bengong. Kamu dengar tidak apa yang aku katakan?" tanya Adam heran.
Vina menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya, aku dengar. Rapat umum itu akan di selenggarakan dua minggu lagi!" jawab Vina cepat.
Vina cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Adam. Dia pikir suaminya itu pemalas dan tidak tahu apa-apa. Tapi sepertinya dia salah. Vina juga langsung ikut berdiri dan mengikuti langkah Adam masuk ke dalam pintu menuju ke ruangan mereka.
Saat kembali ke ruangan mereka, Jodi dan Caren masih ada di sana.
"Kenapa kalian masih disini? sudah selesai makan kan?" tanya Vina ketus.
Adam langsung menarik lengan Vina dan berbisik padanya.
"Jangan bersikap seperti itu!" seru Adam yang mulai melihat kernyitan di dahi Jodi dan Caren.
"Maksudnya?" tanya Vina sambil berbisik pada Adam.
"Mereka akan curiga kalau kamu bersikap keras pada mereka!" jelas Adam dengan suara yang bisa di dengar oleh Vina.
__ADS_1
Vina menatap Adam sejenak, setelah dia pikir-pikir apa yang di katakan Adam itu ada benarnya juga. Sikap Vina yang awalnya perduli jika mendadak dia bersikap acuh mereka pasti curiga.
"Ekhem, kenapa kalian masih di sini. Aku mau kembali bekerja, jika sudah tidak ada keperluan lagi maka aku dan suami ku ingin melanjutkan pekerjaan kami!" seru Vina berusaha menahan emosinya dan berkata biasa saja.
Jodi lantas mendekati Vina.
"Bisakah kita bicara berdua Vina?" tanya Jodi dengan pandangan mata memelas.
Vina langsung merangkul Adam.
"Maaf, tapi aku adalah wanita yang sudah bersuami. Kalau mau bicara, harus di depan suami ku juga!" ucap Vina dengan santai sambil menyandarkan kepalanya di lengan Adam.
'Huh, wanita ini di kasih hati malah minta jantung!' batin Adam geram dengan kelakuan Vina.
Setelah melihat kemesraan Vina dan Adam, Jodi mengepalkan tangannya dengan kuat. Tanpa basa-basi lagi dia keluar begitu saja dari ruangan Vina. Caren yang bingung dengan sikap Jodi itu pun langsung menyusul Jodi keluar tanpa basa-basi juga pada Adam dan Vina.
"Kelihatannya dia cemburu!" sindir Adam.
"Mana mungkin, dia sama sekali tidak pernah mencintai ku!" kesal Vina.
"Tidak cinta, ya tidak cinta. Tidak perlu bersikap berlebihan begini!" seru Adam sambil melepaskan rangkulan Vina dari lengannya dan mendorong kepala Vina menjauh darinya.
"Ih pelit sekali, manja sama suami sendiri saja tidak boleh!" gerutu Vina dengan wajah cemberut sambil berjalan ke arah meja kerjanya.
Adam terdiam sejenak.
'Manja sama suami sendiri!' gumam Adam dalam hati sambil melihat Vina yang kesal.
***
Bersambung...
__ADS_1