
Sementara itu di tempat lain, wanita cantik dengan kaca mata hitam tengah berjalan dengan terburu-buru dengan sebuah paper bag di tangannya yang bertuliskan salah satu merk jam tangan paling terkenal di dunia.
Wanita cantik itu adalah Vina, dia sedang berjalan ke arah apartemen kekasihnya Jodi yang sudah menjalin kasih dengannya selama hampir dua tahun, sebelum Vina kembali ke ibukota. Vina sangat senang karena akan memberikan kejutan pada kekasihnya.
Semakin dekat dengan unit apartemen Jodi, senyuman wanita itu semakin mengembang. Apalagi ketika dia tiba di unit apartemen yang dia tuju. Vina tersenyum lalu menekan nomer sandi pada pintu apartemen Jodi.
"Dia tidak akan tahu sayang, jangan cemas!" sebuah suara yang Vina kenal membuat langkah nya terhenti.
"Aku akan mengambil alih perusahaan ayahnya dan aku akan jadi salah satu pengusaha yang sukses, bahkan kalau aku bisa menyatukan perusahaan ku dengan perusahaan ayahnya Vina, aku akan menjadi CEO nomer empat menggantikan mantan kekasih mu itu!" ucap Jodi dari dalam kamarnya.
Vina yang mendengar apa yang dikatakan oleh Jodi itu lantas terdiam.
'Mantan kekasih? CEO nomer empat kota ini!' batin Vina.
Vina menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan cepat. Dia menyangkal setiap hal yang ada di pikiran nya.
'Tidak mungkin kan, aku sudah menganggapnya saudara, aku selalu membantunya. Dia tidak akan menusukku dari belakang kan?' tanya Vina dalam hati.
Vina mencoba mengusir segala pemikiran nya, karena yang ada di pikiran nya hanya satu orang wanita yang ada di dalam bersama dengan kekasihnya itu.
Vina melangkah lagi perlahan, setelah tidak terdengar suara dari dalam.
"Aghk, pelan sedikit...!"
Vina menghentikan langkah kakinya lagi ketika dia mendengar suara orang yang sangat dia kenali.
"Caren!" lirih Vina.
Vina lalu mempercepat langkahnya dan membuka pintu kamar Jodi dengan sangat perlahan. Air matanya langsung keluar begitu saja dari matanya ketika melihat pemandangan memalukan yang ada di depan matanya.
Seorang pria dan seorang wanita tanpa mengenakan apapun di tubuh mereka, dengan wanita yang sedang berdiri di dekat dinding dan pria itu terus membuat wanita itu merintih dengan mulut terbuka seperti ikan yang terhempas keluar dari air.
"Jodi" lirih Vina yang memilih menutup kembali pintu kamar kekasihnya itu karena kedua orang yang sedang fokus pada apa yang mereka kerjakan itu tidak menyadari kehadiran Vina.
__ADS_1
Vina berjalan ke arah pintu luar dengan tangan kanan menutup mulutnya yang tak tahan mengeluarkan isakan tangis dan tangan kiri yang masih memegang paper bag berisi hadiah untuk Jodi.
Vina keluar dari apartemen Jodi dengan hati yang terasa luar biasa perih dan pilu. Di dinding dekat pintu apartemen Jodi, Vina bahkan terduduk dengan lemahnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Kenapa Caren, aku menganggap mu sahabat ku. Kenapa juga harus Caren, Jodi? kenapa? apa tidak ada wanita lain?" gumam Vina di tengah isak tangis nya.
Beberapa menit menumpahkan kekecewaan nya di depan apartemen Jodi, Vina segera berjalan ke arah lift setelah sebelumnya membuang paper bag berisi jam tangan mahal itu ke dalam kotak sampah yang ada di dekat lift.
Vina mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak tahu akan kemana. Tapi yang jelas dia ingin pergi sejauh-jauhnya dari dua orang yang sangat dia sayangi tapi tega mengkhianati nya dengan begitu kejam.
Sementara itu di kediaman Virendra. Semua orang terkejut ketika melihat kedatangan Puspa yang datang bersama dengan Riksa.
Kakek Virendra yang kebetulan sedang berada di ruang tamu langsung melihat ke arah tangan Riksa dan tangan Puspa yang sedang bertaut satu sama lain.
"Kalian..!" ucap kakek Virendra yang langsung tersenyum senang.
"Kemari lah!" seru kakek Virendra meminta agar Riksa dan Puspa mendekatinya.
Setelah dua orang itu berada di hadapannya, kakek Virendra langsung menepuk bahu keduanya dengan pelan.
Riksa pun menghembuskan nafas lega, dan langsung memeluk kakek Virendra.
"Terimakasih kakek, terimakasih!" ucap Riksa yang begitu bahagia karena kakek Virendra merestui hubungan nya dengan Puspa.
Puspa juga tersenyum senang saat kakek Virendra mengusap kepalanya dengan lembut.
"Puspa sejak dulu selalu bermain disini, dengan ketiga putra keluarga ini, selalu datang kemari bersama Arumi dan membuat rumah ini selalu ramai, aku selalu berharap dia bisa menjadi menantu keluarga ini!" ucapnya.
Lalu tak lama kemudian Stella, Samuel dan juga Naira yang sudah di panggil oleh asisten rumah tangga yang diperintahkan oleh kakek Virendra pun tiba di ruang tamu.
"Puspa, sayang kamu baik-baik saja kan?" tanya Stella yang langsung memeluk Puspa.
"Iya Tante, aku baik-baik saja!" jawab Puspa
__ADS_1
"Tante senang mendengarnya, tadi ibu mu datang mencari mu!" ucap Stella yang kemudian juga melihat gerak-gerik Riksa dan Puspa yang sedari tadi saling lirik beberapa kali.
"Ada apa ini?" tanya Stella yang mulai penasaran.
"Duduk dulu, Samuel, Naira duduk dulu!" perintah kakek Virendra.
Mereka semua pun akhirnya duduk di sofa, setelah itu kakek Virendra melihat ke arah Riksa dan berkata.
"Riksa, sekarang katakan pada semua yang ada disini, apa tujuan mu membawa Puspa kemari!" seru kakek Virendra.
Samuel dan Naira sudah saling pandang, sepertinya mereka juga sudah tahu apa yang akan di katakan oleh Riksa.
"Tante Stella, bos...!" ucap Riksa sambil melihat ke arah Stella dan Samuel secara bergantian.
"Aku membawa Puspa kemari karena aku ingin meminta restu pada kalian, aku ingin menikahi Puspa!" ucap Riksa dengan sangat mantap.
Deg
Stella merasa sangat terkejut, akhirnya apa yang dia takutkan terjadi juga. Dia pikir kalau Puspa bertunangan dengan Jonathan dia kan dapat mencegah perang dingin yang kemungkinan akan terjadi antara Riksa dan Adam. Tapi tetap saja kenyataan terkadang terjadi memang tidak sesuai dengan harapan.
Di saat dia melihat kakek Virendra begitu bahagia dan tersenyum senang mendengar perkataan Riksa, dan di saat Samuel dan Naira juga terlihat begitu bahagia sampai Naira memeluk erat lengan suaminya sambil tersenyum. Dirinya masih dalam keadaan bingung, Stella benar-benar dalam keadaan bingung. Kalau dia merestui Riksa, Adam akan terluka.
Stella benar-benar dilema terhadap masalah ini. Dan melihat Stella yang sedang diam dan tidak menjawab, bahkan menunjukkan ekspresi wajah bingung dan sedih, kakek Virendra bertanya padanya.
"Ada apa Stella, apa yang sedang kamu pikirkan. Kita tidak akan bisa menemukan lagi calon menantu sebaik Puspa?" tanya kakek Virendra.
"Iya ayah, tapi... pernikahan?"
"Siapa yang akan menikah?" tanya sebuah suara yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Adam!" lirih Stella yang semakin merasa cemas dan khawatir.
***
__ADS_1
Bersambung...