
Adi dan Riksa sedang menyiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi tuntutan dari Jodi. Berkali-kali mereka bolak-balik dari tempat kejadian perkara dan juga kantor polisi untuk mendapatkan secercah saja bukti yang bisa meringankan tuntutan untuk Adam.
Riksa sudah berkali-kali juga mempelajari dokumen tuntutan Jodi dan pengacaranya, mereka benar-benar tidak melewatkan setiap hal sekecil apapun untuk bisa memberatkan hukuman pada Adam.
"Astaga, Adi. Apa yang harus kita lakukan? ini benar-benar tidak ada celah lagi. Kita harus bagaimana?" tanya Riksa dengan wajah lelahnya pada Adi.
"Riksa, hanya satu cara itu saja. Kita harus memohon pada nona Vina!" sahut Adi dengan wajah benar-benar serius di hadapan Riksa.
Riksa mengusap kasar wajahnya. Dia berpikir kalau hal itu pasti sangat sulit sekali. Semua orang saat ini benar-benar dalam keadaan cemas. Tidak ada satupun orang dari keluarga Virendra bahkan menyentuh makanan atau minuman sejak mendengar kabar kecelakaan yang terjadi pada Adam. Apalagi setelah mendengar tuntutan yang sudah di ajukan ke kantor polisi.
Semua yang berada di rumah sakit pun masih dalam keadaan sedih dan kalut. Bahkan keluarga Naira yang juga sudah berada di rumah sakit pun tak kalah cemas seperti keluarga Virendra.
Anisa sejak datang tadi langsung memeluk Naira yang sesekali menangis melihat kondisi Adam dan juga ibu Stella.
"Sayang tenangkan dirimu. Kamu tahu kan kamu sedang hamil. Kita makan dulu ya, ibu dengar dari nak Samuel kamu belum makan sama sekali!" bujuk Anisa pada Naira.
Setelah beberapa kali di bujuk akhirnya Naira mau makan bersama dengan Anisa. Kakek Virendra memang sudah pulang bersama pak Ranu karena kondisi kesehatan nya juga belum pulih benar. Damar meyakinkan padanya kalau kedua cucunya akan baik-baik saja. Karena apa yang dikatakan oleh Damar itu juga kakek Virendra mau pulang dan beristirahat.
__ADS_1
Sementara itu Samuel yang baru kembali dari bagian administrasi tidak melihat istrinya di ruang rawat Adam. Dia pun bertanya pada ayahnya.
"Ayah, dimana Naira?" tanya Samuel.
"Dia ke kantin rumah sakit bersama dengan ibu Anisa dan pak Rama, oh ya Sam... ajak ibu mu juga makan. Dia belum makan dari siang tadi!" kata Damar.
Stella langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak mas, aku tidak lapar!" ucap Stella pelan.
"Sebaiknya ayah dan ibu makan dulu, ini sudah malam. Kita harus kuat Bu, kita pasti Nisa melewati semua ini!" tegas Samuel dengan wajah yakin.
Samuel yang melihat sang ibu sangat cemas padanya menghampiri Stella dan meraih tangan ibunya itu lalu mencium punggung tangan Stella.
"Ibu percaya padaku kan, aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan Adam dari hukuman penjara itu!" ucap Samuel dengan mata yang menatap dalam ke arah mata Stella.
Stella yang melihat banyak sekali harapan dari mata dan apa yang diucapkan Samuel pun mengangguk paham dan tersenyum pada Samuel. Dan pada akhirnya Stella setuju untuk makan malam bersama dengan Damar. Meninggalkan Samuel seorang diri menjaga Adam yang belum sadarkan diri.
__ADS_1
Samuel duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Stella. Dia melihat ke arah Adam yang matanya masih terpejam.
"Adam, banyak hal yang sebenarnya selalu aku ingin jelaskan padamu...!" Samuel menghela nafasnya dan menjeda kalimat yang ingin dia katakan pada adiknya itu.
"Kalau kamu merasa kasih sayang ibu dan ayah itu lebih besar untuk ku daripada untuk mu, kamu salah besar Adam. Kamu tidak tahu saat kamu lahir betapa bahagianya ibu dan ayah, juga aku. Ibu dan ayah sangat mencintai dan menyayangi mu, saat kamu berusia setahun dan kamu sakit, ayah bahkan meninggalkan rapat penting di London dan pulang ke kota ini di hari yang sama. Saat kamu menyebut kata ibu untuk pertama kalinya, ibu merekamnya dan menyebarkan itu di seluruh media sosial dan media elektronik, tahu kah kamu Adam. Ibu dan ayah sangat menyayangi mu!" ucap Samuel yang tanpa terasa sudah ada cairan bening yang keluar dari kedua sudut mata Samuel.
"Tidak hanya ayah dan ibu saja, aku pun sangat menyayangi mu. Tapi aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan nya, bagaimana menunjukkan nya padamu. Aku ingin bermain dengan mu, tapi perbedaan hobi kita membuat ku bingung, aku bahkan pernah belajar bermain skateboard diam-diam demi bisa bermain bersama mu. Kamu boleh tanyakan pad Riksa tentang hal itu. Tapi sayangnya saat aku sudah bisa bermain skateboard kamu malah terjebak pada pergaulan bebas itu dan membuat kita semakin jauh! saat kamu di rehabilitasi aku bukan tidak pernah datang ke sana. Tapi setiap aku datang, kamu sedang kambuh, dan tak lama dari itu aku harus kuliah!" Samuel menjeda kalimatnya lagi.
"Dan pernikahan ku dengan Naira, awalnya aku memang menikah kontrak dengannya. Tapi apa kamu tahu, wanita itu begitu baik dan sabar. Hingga tanpa sadar aku telah benar-benar jatuh hati padanya, dan tanpa dia sebentar saja aku bahkan merasa aku tidak bisa bernafas. Aku sangat mencintai Naira, Adam. Dia juga kakak ipar yang baik, dia selalu perduli padamu. Bukan hanya Naira saja, Riksa juga sangat perduli padamu. Asal kamu tahu Riksa bahkan pernah menolak pernyataan cinta dari Puspa sebanyak sembilan kali demi kamu Adam. Karena dia tahu kamu mencintai Puspa. Tapi satu hal yang bisa ku jelaskan adalah, cinta itu tidak bisa di paksakan Adam. Cinta itu datangnya dari dia hati, jika hanya salah satunya maka itu adalah kompromi. Cinta itu kebahagiaan, kalau kamu membuat orang yang kamu cintai tidak bahagia maka itu bukan cinta." jelas Samuel panjang lebar pada Adam yang bahkan belum membuka matanya sedikit pun.
"Aku tahu kamu bisa mendengar apa yang aku katakan, kamu adalah adik ku satu-satunya. Aku ingin kamu bahagia, aku ingin kamu di cintai dan hidup bahagia. Dan kebahagiaan mu bukan bersama Puspa, bukan dia Adam!" ucap Samuel yang membuat hari Adam mulai bergerak perlahan.
Samuel awalnya tidak menyadari hal itu, tapi karena jari Adam mulai bergerak semakin naik. Samuel akhirnya bisa melihat hal itu, Samuel langsung bangkit dari duduknya lalu segera bergegas keluar untuk memanggil perawat dan dokter yang ada di luar ruangan tersebut.
'Kamu bohong kak, kalau kamu ingin aku bahagia. Maka kamu akan mendukung ku dengan Puspa, bukan sebaliknya!' batin Adam yang berusaha keras membuka matanya.
***
__ADS_1
Bersambung...