
Sementara itu di dalam ruang periksa dokter Arini, Stella dan Naira duduk di kursi yang berada di depan meja kerja dokter Arini. Stella dan dokter Arini sudah bersahabat sejak mereka duduk di bangku sekolah, mereka pernah tinggal bersama di satu kosan. Mereka sama-sama wanita dari kalangan menengah ke bawah tapi sama-sama bisa mewujudkan impian mereka meski harus sangat bersusah payah dengan segala keterbatasan dan kesulitan mereka masing-masing.
Dokter Arini tersenyum pada Naira dan menyapanya.
"Jangan gugup sayang, ibu mertua mu ini adalah sahabat ku. Jika kamu menganggap ibu mertua mu ini sebagai ibumu maka begitu pula dengan ku. Kamu bisa menganggap aku sama seperti dia!" ucap dokter Arini yang sejak awal melihat Naira, dia sudah tahu bahwa menantu dari sahabat nya itu sangat gugup.
"Benar Naira, ibu juga sudah menceritakan semua pada Arini, kalau sebenarnya semua ini ibulah yang mengawalinya, ibu yang punya rencana konyol seperti ini...!"
Namun sebelum Stella berkata lebih banyak, Arini menyela ucapan yang ingin di sampaikan oleh sahabatnya itu.
"Jangan berkata seperti itu Stella, kamu melakukan semua ini demi ayah mertua mu. Sungguh beruntung seorang mertua uang mempunyai menantu seperti mu. Kamu hanya ingin beliau sehat dan bersemangat, memiliki tujuan untuk bertahan hidup, memiliki penyemangat untuk bisa sembuh!" ujar dokter Arini.
Naira sampai begitu terharu mendengar apa yang di bicarakan dua wanita kuat dan hebat di depannya itu. Naira sampai berkaca-kaca, dia tidak menyangka kalau dokter Arini begitu perduli dan begitu baik.
"Baiklah ,sekarang beritahu aku Naira. Apakah datang bulan mu lancar di setiap bulannya?" tanya dokter Arini memulai pemeriksaan.
Stella yang ada di sebelah Naira segera fokus pada apa yang akan di jawab eh menantunya itu, sampai dia sedikit menyerong kan posisi duduk nya agar bisa menghadap ke arah Naira. Stella juga melihat Naira dengan seksama.
Naira menganggukkan kepalanya perlahan.
"Iya dokter!" jawab Naira singkat.
Dokter Arini mengangguk paham.
"Sekitar tanggal berapa setiap bulannya?" tanya dokter Arini lagi.
Naira menoleh ke arah Stella sekilas lalu kembali melihat ke arah dokter Arini lagi.
"Em, biasanya di sekitar tanggal 10 atau tanggal 12 dokter!" jawab Naira lagi.
Dokter Arini kemudian mencatat sesuatu di sebuah laporan yang berada di atas meja di hadapannya.
"Biasanya berapa hari Naira?" tanya Dokter Arini lagi masih dengan melihat ke arah Naira.
Dokter Arini sangat beretika, jadi ketika dia menulis dia diam dan tidak mengatakan apapun atau bertanya apapun. Dan ketika dia sudah selesai menulis dan ingin bertanya dia pun segera melihat ke arah Naira, atau ke arah lawan bicara atau seseorang yang dia ajak bicara. Hal itu juga membuat Naira merasa nyaman.
"Sekitar 7 hari dokter!" jawab Naira singkat.
__ADS_1
"Paling lama dan paling cepatnya?" tanya dokter Arini lagi.
"Paling lama 8 hari dan paling cepat ya 7 hari dokter!" jawab Naira sambil sedikit mengingat-ingat.
Stella hanya diam dan menyaksikan ke dua orang di depannya berinteraksi tanya jawab. Dia tidak ingin mengganggu dokter Arini dan tidak ingin membuat Naira tidak konsen. Jadi dia memilih untuk diam saja dan menyimak.
"Baiklah, apa bulan kemarin kamu sudah datang bulan dan pada tanggal berapa?" tanya Dokter Arini lagi.
Naira menggelengkan kepalanya.
"Terakhir bulan yang kemarin nya lagi dokter tepat sepuluh hari sebelum menikah, itu adalah datang bulan terakhir ku, dokter!" ucap Naira yang berkata dengan sangat yakin.
Dokter Arini melebarkan matanya, terlihat dia berbinar.
"Benarkah, apakah kalian melakukan hal itu di malam pertama pernikahan?" tanya dokter Arini membuat Naira tersipu dan langsung menundukkan kepalanya.
Stella yang mengerti kalau menantunya itu merasa tidak nyaman segera berdehem dan berkata.
"Arini, apakah harus bertanya tentang pertanyaan itu?" tanya Stella dengan tatapan sedikit melirik ke arah sahabatnya itu, dokter Arini.
"Loh Naira dan Samuel sudah menikah, dan pertanyaan ku juga penting! kapan pertama kali kalian melakukan hubungan suami istri?" tanya dokter Arini.
Dengan malu-malu Naira menyangka kepalanya dan menjawab pertanyaan dokter Arini.
"Dua hari setelah pernikahan, di Singapura waktu itu Bu, dokter!" jawab Naira dengan pipi yang bersemu merah.
Stella tersenyum puas mendengar jawaban dari Naira. Itu artinya menantunya itu memang adalah wanita baik-baik yang baru melakukan hal itu dengan Samuel setelah mereka resmi menikah. Sedangkan raut wajah serupa juga di tunjukkan oleh dokter Arini.
"Baiklah Naira, aku akan memeriksa mu dulu ya!" ucap dokter Arini lalu berdiri dari duduknya.
Dia mengarahkan Naira agar Naira berbaring di tempat tidur yang biasa di pakai untuk memeriksa pasien. Dokter Arini memeriksa denyut nadi, tekanan darah dan detak jantung Naira. Setelah semua pemeriksaan itu dokter Arini bahkan mengusap perut Naira dengan lembut.
"Semoga ada kabar baik ya!" ucap nya sambil tersenyum.
Naira yang masih tidak mengerti pun hanya membalas senyuman dokter Arini itu dengan senyuman tipis.
"Sekarang kita coba untuk tes urine ya!" kata dokter Arini.
__ADS_1
Naira langsung beranjak dari tempat tidur dengan cepat, dan ketika dokter Arini melihat itu dia segera berbalik dan menegur Naira.
"Naira, jangan bangkit dari posisi tidur seperti itu. Bangunlah dengan perlahan!" seru dokter Arini yang langsung di balas dengan anggukan kepala oleh Naira.
"Ini, kamu isi dengan urine kamu sampai di batas ini. Lalu berikan padaku. Oke!" jelas Dokter Arini sambil memberikan sebuah testpack kehamilan pada Naira.
Naira yang memang tidak pernah melihat dan tidak tahu apa benda yang di berikan oleh dokter Arini pun hanya mengangguk paham dan segera menuju ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan dokter Arini.
Srekkk
Dokter Arini membuka tirai dan kembali duduk di depan Stella.
"Bagaimana, dia baik-baik saja kan. Program kehamilan ini bisa segera dilakukan kan?" tanya Stella pada dokter Arini dengan tidak sabaran.
Dokter Arini malah tersenyum melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Stella.
"Iya Stella dia baik-baik saja. Kita tunggu sebentar lagi ya. Kita tunggu hasil tes terakhir. Semoga kabar baik segera bisa kamu dan keluarga mu dengar!" ujar dokter Arini sambil tersenyum.
"Semoga saja, lalu apa tes pada Samuel juga akan seperti ini. Atau bagaimana?" tanya Stella pada dokter Arini.
"Stella, aku akan katakan sesuatu padamu. Kalau tes kali ini hasilnya baik maka Samuel pun tidak perlu melakukan tes lagi!" jawab dokter Arini yang membuat Stella menjadi bingung.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Stella.
Dan sebelum dokter Arini menjawab pertanyaan Stella, Naira sudah keluar dari dalam kamar mandi dan memberikan alat yang tadi di berikan oleh dokter Arini pada dokter itu.
"Itu kan alat tes kehamilan?" tanya Stella bingung.
Naira juga jadi bingung, dia baru tahu kalau itu adalah alat tes kehamilan.
Dokter Arini memeriksa alat itu dan dia tersenyum lebar.
"Kabar baik Stella, Naira. Kita tidak perlu melakukan program kehamilan. Karena kamu memang sudah hamil Naira!" ujar dokter Arini dengan senyum bahagia.
"Apa, Naira hamil?" pekik Stella yang menutup mulutnya dengan tangan sangking takjub mendengar apa yang di katakan oleh dokter Arini.
Deg
__ADS_1
***
Bersambung...