Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
149


__ADS_3

Aku masih diam menatap mata Samuel, aku masih mencoba meyakinkan diriku kalau apa yang aku dengar ini bukan halusinasi atau khayalan ku semata.


"Naira putri, aku mencintaimu. Aku baru menyadari itu saat aku merasa takut ketika ada orang lain yang menyukai mu, aku tidak mau kamu jauh-jauh dariku. Aku takut tidak melihat mu, apa kamu tidak menyadari itu. Kenapa aku memintamu bekerja di perusahaan, kenapa saat kamu marah dan ingin menginap di rumah ayah mu, aku mengikuti mu tinggal disana? karena aku baru sadar, kalau aku begitu tergantung padamu! aku tidak bisa hidup tanpa mu Naira!" ucap Samuel panjang lebar lalu memeluk ku dengan sangat erat.


Aku masih diam tak bersuara, masih mencerna semua kata-kata yang dia ucapkan barusan.


'Sejak kapan itu?' tanya ku dalam hati.


Lalu aku berfikir lagi.


'Kalau sudah sejak itu kenapa dia menemui Caren dan memeluknya diam-diam malam itu?' batin ku masih sangat penasaran.


Cukup lama dia memeluk ku, lalu dia melepaskan aku dan memberi jarak sedikit untuk bisa melihat ku lagi.


"Apa kamu juga memiliki perasaan yang sama dengan ku?" tanya Samuel padaku.


Aku masih menatap bingung ke arahnya. Dia ini sedang tidak salah bicara kan. Tadi siang dia masih marah-marah padaku dan sekarang mengatakan kalau dia mencintai ku. Aku tahu sikapnya selalu berubah-ubah tapi apakah ini benar-benar kenyataan.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu menjawabnya sekarang. Mari kita pulang!" ucapnya mengajak ku keluar dari ruangan ini.


Aku masih diam dan hanya mengikuti nya saja. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, aku benar-benar tidak tahu harus senang atau bagaimana. Mulutnya bisa saja bilang cinta, tapi tetap saja kami punya perjanjian kontrak. Dan itu rasanya seperti masih ada yang aneh dan mengganjal saja.


Saat kami berjalan keluar, kedua pasangan yang tadi membuat keributan juga sudah keluar dari ruangan lain. Aku lihat Caren menghapus air matanya dan wajahnya terlihat begitu pucat. Aku jadi penasaran apa reaksi Samuel melihat wanita itu dalam keadaan seperti itu.


Samuel menggenggam erat tangan ku dan kami pun lanjut berjalan melewati pasangan itu. Mereka masih diam di depan pintu, dan Samuel melewati mereka begitu saja tanpa melirik sedikit pun ke arah mereka berdua.


Ada sedikit perasaan senang, saat Samuel tidak perduli pada wanita itu. Aku lalu menoleh sekilas ke belakang dan melihat kedua orang itu sedang menatap tajam ke arah aku dan Samuel yang berjalan pergi meninggalkan mereka.


Aku kembali melihat ke arah Samuel yang juga sedang melihat ku sesekali lalu pandangan nya fokus ke arah depan.

__ADS_1


Bahkan saat di dalam mobil pun dia tidak melepaskan tangan ku dan terus menggenggam nya membuat tangan ku kebas. Ingin menepisnya, aku takut dia salah paham dan tersinggung.


Beberapa lama kemudian, kami sudah tiba di hotel. Dan ini sudah sangat larut, sehingga suasana di hotel ini pun sudah sangat sepi. Kami kembali ke kamar dan saat masuk ke dalam kamar, dia baru melepaskan tangan ku.


"Mandi lah, dan beristirahat lah!" ucap nya lembut.


Aku langsung berjalan ke arah kamar mandi, setelah mandi aku keluar dari dalam kamar mandi dengan jubah mandi, aku keluar dan berniat untuk mengambil pakaian ku. Tapi aku begitu terkesiap ketika Samuel sudah ada di depan pintu kamar mandi dan membawa pakaian ku di tangannya.


"Ini pakaian mu!" ucapnya sambil menyodorkan piyama untuk ku.


Aku sampai tak bisa berkata-kata, dia bahkan menyiapkan pakaian untukku. Mungkin karena pukulan Kenzo terlalu kencang di kepalanya membuatnya jadi seperti ini, maksud ku mungkin otaknya sedikit bermasalah. Seorang Samuel Virendra menyiapkan pakaian untukku, aku benar-benar speechless dibuatnya.


"Terima kasih!" ucap ku lalu meraih pakaian dari tangannya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai berganti pakaian aku keluar, dan Samuel juga masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Sudah selesai?" tanya nya dengan suara yang terdengar lembut.


"Sudah!" jawab ku singkat sambil berjalan ke arah meja rias.


Samuel lalu masuk ke dalam kamar mandi, kulihat dia sudah bawa piyama nya tadi. Aku duduk lalu mengeringkan rambut ku, sambil menyisir rambut aku melihat ke arah cermin. Aku masih tak percaya kalau Samuel benar-benar menyukai ku, bukan... bukan... tadi dia bilang dia mencintai ku. Cinta? yang benar saja.


Aku sudah selesai dengan rambut ku, lalu aku naik ke atas tempat tidur dan memposisikan diri miring ke arah dimana Samuel akan tidur, karena aku masih ingat kalau Samuel tidak suka tidur di punggungi.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, aku hanya mendengar nya saja tapi aku merasa jantungku berdetak sangat kencang. Aku memeluk selimut dan berusaha untuk memejamkan mata.


Tapi setiap langkah Samuel yang semakin mendekati tempat tidur membuat jantung ku juga berdegup semakin kencang saja. Sampai dia baik ke atas tempat tidur, aku masih berpura-pura tidur. Tiba-tiba aku merasakan kalau keningku di kecup olehnya, itu membuat ku membuka mata karena terkejut.

__ADS_1


"Selamat malam istriku, mimpi indah. Tidurlah!" ucapnya sambil tersenyum.


'Oh Tuhan, kalau ini mimpi maka jangan bangunkan aku cepat-cepat!' batin ku. Lalu memejamkan mata ku, aku rasa aku akan tidur nyenyak malam ini.


***


Keesokan harinya...


Aku membuka mataku perlahan, aku melihat ke arah depan dan Samuel sudah tidak ada di depan ku. Aku langsung bangkit dan duduk, aku melihat ke sekeliling kamar. Dan Samuel tidak ada di mana pun di kamar ini.


Aku menghela nafas panjang. Tadi malam dia juga hanya memelukku sambil tidur tidak ada hal lain yang dia lakukan. Bukan berharap dia melakukan sesuatu tapi rasanya sangat aneh saja. Dia jadi lebih lembut dan begitu perhatian, apa dia memang benar-benar mencintai ku?


Tapi ketika aku masih memikirkan semua itu, aku mendengar suara pintu kamar hotel terbuka. Aku turun dari tempat tidur dan berjalan ke ruangan samping kamar, yang juga adalah ruang tamu di kamar kami.


Mataku melebar dan langkah ku terhenti.


"Selamat pagi sayang!" sapa Samuel dengan sebuah troli yang berisi banyak makanan juga minuman.


"Mas...!"


"Mandi lah, aku akan siapkan sarapan spesial untuk mu!" ucapnya dengan wajah yang sama seperti tadi malam, tersenyum dan terlihat tulus.


Karena aku masih dalam keadaan syok melihat semua perubahan sikap Samuel ini, aku masih mematung di tempat ku. Dan dia pun menghampiri ku dan menuntunku masuk ke dalam kamar mandi.


"Mandilah, akan aku siapkan pakaian mu!" ucapnya.


'Lagi?' tanya ku dalam hati.


Dia menyiapkan pakaian untukku lagi, bahkan dia menyiapkan sarapan. Bukankah seharusnya itu tugas ku.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2