
Naira segera meninggalkan Riksa dan juga Adam ketika dia sudah merasa mengatakan semua yang ingin dan harus dia katakan. Naira melangkah menuju ke tangga, dia sadar kalau ini adalah lantai dua, dan kamar tempatnya berganti pakaian dan makeup ada di lantai lima.
Dia lebih memilih untuk naik tangga darurat saja, di banding harus berada satu lift dengan Riksa ataupun Adam. Dia sangat kesal pada dua orang yang beberapa saat yang lalu ada di hadapannya itu.
Dia memang kesal pada Adam yang sejak awal dia temui memang terkesan sangat menyebalkan, dia sama seperti Samuel yang selalu saja menyalahkan Naira atas segala hal. Naira jadi ingat apa yang sempat dikatakan oleh ibu Stella padanya. Kata ibu Stella, Adam memang sedikit pendiam, tapi sebenarnya dia baik.
"Apanya yang pendiam dan baik, dia itu kloningnya si lidah tajam, sebelas dua belas. Gak beda jauh nyebelin nya!" omel Naira sebanyak dia melangkah.
Tapi dia juga kesal pada Riksa karena tidak mau membela dirinya. Riksa bahkan terkesan membiarkan Adam memukulnya, untung saja Naira menahan tangan Adam hingga hal itu tidak sampai terjadi. Tapi itu malah membuat Naira kesal pada Riksa.
"Memang nya apa sulitnya bilang kalau dia tidak bersalah, jelaskan apa yang sebenarnya. Dia juga bisa bela diri kan? kenapa Riksa tidak mau menepis tangan Adam yang bahkan hampir memukul wajahnya?" tanya Naira yang terus menggerutu sambil mengangkat tinggi gaunnya setinggi lutut agar langkahnya semakin mudah saat menaiki anak tangga yang kalau di hitung pasti jumlahnya puluhan.
"Huh huh..!" Naira berhenti sejenak lalu memilih untuk duduk saja di salah satu anak tangga.
Dia melihat di dinding ada tulisan lantai 4.
"Duduk dulu lah, capek! capek hati, capek pikiran, sekarang betis ku capek banget!" gumam nya mengeluh.
Naira melihat ke sekeliling, ada jendela kaca yang menunjukkan kalau hari masih siang karena masih sangat terang.
"Kayaknya masih siang, nanti ganti baju doang kan. Paling bentar, duduk disini dulu deh, refresh mata dan pikiran karena disini gak akan lihat si lidah tajam sama adeknya itu!" gumam Naira lagi.
Naira terdiam dan memikirkan apa yang akan terjadi pada kehidupan nya selanjutnya setelah pernikahan. Hidup dengan suami yang jelas-jelas menunjukkan dan mengatakan kalau sama sekali tidak menyukai nya, tidak memperdulikan dirinya. Naira berkali-kali menghela nafasnya. Dia bahkan ragu dia bisa bertahan atau tidak.
Naira ingat dimana ayah nya pernah berkata kalau lebih baik dicintai seseorang daripada mencintai jika menikah nanti. Alasan nya adalah kalau kita dicintai maka pasangan kita tidak akan menyakiti kita, dan kita juga bisa terus berusaha bersikap hal yang sama.
__ADS_1
Naira kembali menghela nafas lagi.
"Huh, ternyata ayah benar! tapi aku juga tidak berharap si lidah tajam itu menyukai ku. Aku hanya berharap kami bisa saling menghargai satu sama lain, paling tidak menjadi teman saja sudah cukup. Tapi itu mustahil!" keluh Naira sambil menekuk lututnya dan memeluknya dengan tangan kanannya.
Naira meletakkan tangan kirinya di atas kedua lututnya sebagai bantalan untuk kepalanya yang sudah mulai lelah.
***
Sementara itu di tempat lain, di dalam kamar yang berbeda dengan tempat dimana seharusnya dia berada. Samuel sedang duduk di tepi ranjang dengan perasaan yang sungguh sangat kesal.
Sejak tadi dia berusaha menghubungi Caren namun nomor kekasihnya itu malah tidak dapat di hubungi. Belasan pesan yang dia kirim pun tak menunjukkan tanda-tanda kalau telah dibaca oleh Caren.
"Ayolah Caren, aku hanya butuh bicara padamu sebentar saja!" keluh Samuel yang masih terus berusaha untuk menghubungi Caren.
Brukk
Samuel mengacak rambutnya sendiri frustasi, padahal rambutnya itu sudah di tata dengan baik oleh makeup artist dari salon Puspa.
"Sial, kenapa dengan ku? aku tidak mungkin memiliki perasaan pada gadis ceroboh itu kan? tidak mungkin. Sentuhan tadi itu... Sial!!" pekik Samuel sambil menarik selimut yang terpasang rapi di atas tempat tidur di dalam kamar hotel.
Samuel menarik selimut itu hingga berantakan jatuh ke lantai. Samuel berdiri dan melihat ke arah jendela kaca, dia melihat pemandangan di luar gedung hotel. Tangan kanannya mengepal dan di angkat lalu memukul dinding di sebelah jendela kaca itu.
"Sial, kenapa aku merasakan perasaan yang sama seperti saat aku menyentuh Caren pada wanita itu, agkhh!" teriak Samuel yang benar-benar kesal.
Karena yang sebenarnya terjadi adalah, ketika tangan Samuel dan tangan Naira saling menyentuh tadi, Samuel merasa seperti ada sengatan listrik dengan voltase sedang yang mampu membuat jantung berdegup lebih kencang dari yang semestinya.
__ADS_1
Semangat listrik yang membuat Samuel menelan salivanya dengan susah payah, dan yang membuatnya merasakan hawa di tubuhnya, temperatur suhu di tubuhnya mendadak meningkat dengan signifikan. Jadi semua yang telah dikatakan olehnya di dalam lift tadi pada Naira, semua hanyalah kebohongan semata.
Yang sebenarnya adalah, Samuel sengaja mengatakan hal yang menyakitkan pada Naira hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau dia tidak memilih perasaan apapun pada Naira. Samuel yakin kalau semua yang terjadi tadi hanya karena dia belum pernah sedekat itu dengan wanita lain selain Caren, dia yakin dia hanya terbawa suasana.
Samuel memejamkan matanya perlahan, dia berusaha untuk mengatur nafas nya dengan baik karena dia sudah mulai terbawa emosi.
Samuel masih terus meyakinkan dirinya kalau yang dia cintai hanyalah Caren, satu-satunya wanita yang dia cintai hanyalah Caren. Tapi ketika dia membutuhkan Caren untuk meyakinkan perasaan nya, kekasih nya itu bahkan tidak bisa di telepon. Dan hal itu membuat Samuel semakin kesal saja. Hingga dia sangat yakin siapapun yang datang di hadapan nya, dia akan dengan mudah meluapkan amarahnya pada orang tersebut.
Ceklek
Dan benar saja, pintu kamar hotel itu terbuka, dan menampilkan orang yang telah membukanya di ambang pintu.
Tadinya Samuel akan memekik kesal, tapi kemudian dia memalingkan wajahnya dan menghela nafas berat saat dia mengetahui bahwa yang membuka pintu adalah Adam. Adik kandungnya sendiri.
"Ada apa?" tanya Samuel malas.
Sebenarnya dia berharap yang masuk itu Riksa. Jadi dia bisa puas marah-marah tanpa harus memilih kata. Karena Riksa tahu semua tentang dirinya, tentang semua rahasianya yang bahkan keluarganya sendiri tidak tahu.
Adam mendekati Samuel.
"Apa kakak merencanakan pernikahan ini hanya untuk menutupi kalau kakak masih memilik hubungan dengan Caren?" tanya Adam langsung pada intinya saja.
Samuel terdiam, dia hanya melihat ke arah Adam yang saat ini melihatnya dengan tatapan penuh curiga.
***
__ADS_1
Bersambung...