
Di kediaman Virendra, Naira sedang menyiram tanaman di taman belakang rumah. Tiba-tiba saja seorang asisten rumah tangga mendekatinya dan membawakan makanan dan juga minuman untuk Naira.
"Nyonya muda, ini saya bawakan minuman untuk nyonya muda!" ucap asisten rumah tangga tersebut.
Naira menoleh ke arah asisten rumah tangga itu, dia kurang familiar dengan wajah pelayan tersebut. Naira pun meletakkan selang yang dia pakai untuk menyiram bunga lalu duduk di kursi taman sambil membersihkan tangannya dengan hand sanitizer dan tissue basah.
"Kamu pelayan baru ya?" tanya Naira to the points.
"Iya Nyonya muda, saya masih sepupu jauhnya Lala. Dia akan menikah dan calon suaminya tidak memperbolehkan dia bekerja lagi, jadi kata bibi saya bisa menggantikan nya. Kebetulan saya baru datang dari kampung dan butuh pekerjaan!" jelas pelayan itu panjang lebar.
"Siapa namamu?" tanya Naira.
"Saya Ndari nyonya muda, nama lengkap saya Sundari. Kata ibu saya panggilan saya Ndari kalau Sun kedengarannya aneh nyonya muda!" ucap Sundari sambil terkekeh sendiri.
Naira pun ikut terkekeh. Baru kali ini ada pelayan yang begitu ramah dan cerewet padanya. Bisanya yang lain tidak akan bicara kalau tidak di tanya. Tapi Naira cukup senang karena menurutnya malah bisa di jadikan teman ngobrol saat dia sedang bosan dan tidak melakukan apa-apa.
"Berapa usia kamu Ndari?" tanya Naira lagi yang semakin senang mengobrol dengan Sundari.
"Umur saya 20 tahun nyonya muda, tapi kata pelayan yang lain sudah seperti 25 tahun. Maklum nyonya muda, orang kampung beda sama orang kota ya, bedaknya aja cuma bedak tabur yang harganya 2500 rupiah itu nyonya muda!" kelakar Sundari.
Naira benar-benar terhibur dengan adanya Sundari di dekatnya. Candaan Sundari yang terkesan merendahkan dirinya sendiri membuat Naira simpati pada Sundari. Menurut Naira Sundari sangat sederhana juga apa adanya.
"Sudah mau Magrib nyonya muda, apa tidak sebaiknya nyonya muda masuk ke dalam rumah. Kalau kata orang tua jaman dulu, tidak baik wanita hamil berada di luar rumah saat Magrib!" ucap Sundari pada Naira.
__ADS_1
"Wah Ndari, kamu seperti ibu ku saja. Tapi apa yang kamu katakan memang benar sih. Ayo kita masuk ke dalam!" ucap Naira yang langsung berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Sementara itu di perusahaan Virendra. Samuel juga sedang di sibukkan dengan banyak sekali pekerjaan. Dika memang terampil, tapi dia sama sekali belum bisa seperti Riksa dalam menangani masalah perusahaan dan mengambil keputusan penting bagi perusahaan. Jadi Samuel tentu saja sangat di repotkan sebenarnya dengan pekerjaan yang harusnya di tangani oleh Riksa.
Mau bagaimana lagi, Puspa minta cuti selama satu minggu untuk Riksa dan tidak ada tawar menawar lagi. Samuel terpaksa memberikan ijin cuti, karena Puspa terus mengomel padanya.
"Dina, kita tidak bisa bekerja seperti ini terus. Kita akan semakin lama menyelesaikan semuanya, besok pagi aku mau sudah ada yang menggantikan Riksa, minta pada kantor pusat untuk mengirimkan satu orang dengan kualifikasi seperti Riksa!" perintah Samuel pada Dina.
"Baik bos, apa tidak sebaiknya bos yang minta pada tuan Damar?" tanya Dina yang merasa kalau mencari pengganti Riksa dalam waktu yang begitu mepet akan sangat sulit untuk dia lakukan.
"Ck.... kamu ini di perintah malah balik nyuruh, sudah bosan dengan pekerjaan mu?" tanya Samuel.
"Tidak bos, tidak... aku akan carikan pengganti sementara Riksa. Besok pagi orangnya sudah akan ada di kantor ini bos!" ucap Dina dengan senyuman yang terkesan di paksakan.
"Baik bos!" sahut Dina yang langsung mencari dokumen yang di minta oleh Samuel.
Sementara itu di sebuah restoran bintang lima, di sebuah ruang VIP. Dua orang pria tampan sedang bertemu dan terlihat bicara dengan sangat serius.
"Apa kamu yakin rencana kita bisa berhasil?" tanya pria tampan yang lebih muda dari yang satu lagi.
"Tentu saja, apa yang bisa menghancurkan sebuah hubungan selain kesalahpahaman?" tanya balik pria berwajah oriental itu yang wajahnya seputih salju itu.
"Baguslah, tapi aku harap kamu juga bisa memegang ucapan mu. Naira harus kamu lepaskan!" ucap pemuda itu.
__ADS_1
Pria yang satu lagi terkekeh pelan.
"Teddy Rizaldi jangan terlalu naif, kita sama-sama menyukai Naira bukan. Jadi setelah memisahkan Naira dari Samuel harusnya kita bisa bersaing secara adil untuk mendapatkannya. Jangan coba mengambil keuntungan apapun dari kerja sama ini, karena aku hanya menawarkan padamu kerjasama memisahkan Samuel dari Naira, bukan memisahkan Samuel dari Naira agar kamu bisa memiliki Naira!" tegas Kenzo Hasigawa.
Benar sekali, kedua pria tampan itu adalah Kenzo Hasigawa dan Teddy Rizaldi. Bukan urusan tentang bisnis atau kerjasama perusahaan yang sedang mereka bahas. Yang sedang mereka bicarakan adalah rencana yang bahkan sudah mulai mereka jalankan sejak tiga hari lalu untuk memisahkan Samuel dan Naira.
Teddy terdiam dan mengepalkan tangannya. Awalnya dia sangat tidak setuju untuk bekerjasama dengan Kenzo, tapi setelah ayahnya memarahinya bahkan mengurangi jumlah saham di perusahaan nya karena apa yang Samuel laporkan pada ayahnya itu. Teddy menjadi semakin tidak menyukai Samuel dan ingin menghancurkan nya. Dan cara yang paling tepat tentu adalah mengambil sesuatu yang sangat dicintai dan berharga bagi Samuel yaitu Naira.
Sebenarnya bukan itu saja alasan Teddy setuju memisahkan Samuel dan Naira. Teddy juga masih sangat mencintai Naira. Bahkan dia juga sudah menolak secara tegas dokter Ayu, bahkan Teddy sudah bicara pada kedua orang tua dokter Ayu. Dan itu menambah kemarahan tuan Rizaldi hingga mengambil beberapa persen saham milik Teddy. Tapi sayangnya harapan tuan Rizaldi membuat Teddy jera berbanding terbalik dengan kenyataan nya . Teddy bukannya jera dan menyadari kesalahan yang telah dia lakukan, tapi malah semakin membenci Samuel dan ingin menghancurkannya.
Di saat itulah dia bertemu dengan Kenzo yang memang sudah mengincar Teddy Rizaldi. Karena mabuk Teddy menceritakan semua yang terjadi padanya dan semua yang dia inginkan pada Kenzo. Karena Kenzo pria yang cerdas, tentu saja dia tidak akan melewatkan kesempatan yang begitu bagus ini. Toh, nanti kalau Samuel sudah berpisah dari Naira. Akan sangat mudah bagi Kenzo untuk menyingkirkan Teddy Rizaldi. Pemuda yang jelas cara berpikir dan pengalaman nya jauh berada di bawah seorang Kenzo Hasigawa.
Tak lama ponsel Teddy berdering, dia bicara dengan seseorang cukup lama. Setelah itu dia kembali menyimpan ponselnya lalu menghadap ke arah Kenzo.
"Benar-benar seperti dugaan mu. Samuel mencari pengganti sementara Riksa!" ucap Teddy menjelaskan pembicaraan nya di telepon tadi.
Kenzo tersenyum miring.
"Bagus, semua akan semakin mudah!" ucap Kenzo penuh percaya diri.
***
Bersambung...
__ADS_1