
Sementara itu di kediaman Virendra, semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Kakek Virendra yang tidak melihat kehadiran Samuel pun bertanya pada Naira, kemana suaminya sampai tidak ikut sarapan pagi bersama.
"Maaf kakek, tapi mas Sam sedang ada pekerjaan penting. Jadi tidak bisa ikut sarapan!" jawab Naira sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Stella yang melirik ke arah Naira pun tersenyum mendengar jawaban dari Naira. Menurut Stella jawaban dari menantu nya itu sudah tepat. Jika Naira mengatakan kalau sejak semalam Samuel bahkan belum pulang pasti kakek Virendra akan khawatir dan meminta agar Naira menghubungi Samuel.
Stella lalu duduk di sebelah Naira, tempat dimana biasanya Samuel duduk.
"Ayah tenang saja, Samuel pasti sudah sarapan di kantor, kan ada Riksa juga bersamanya!" tambah Stella mencoba menenangkan sang ayah mertua.
Mendengar jawaban dari Naira dan juga tambahan jawaban dari Stella membuat kakek Virendra mengangguk paham, sebab dirinya juga lebih merasa tenang karena Riksa selalu mengerjakan pekerjaan nya dengan baik termasuk memastikan Samuel menjaga pola makannya dengan teratur saat di kantor dan saat mereka sedang sibuk.
"Baiklah kalau begitu, Oh ya Adam!" kata kakek Virendra yang membuat semua orang melihat ke arah Adam.
Sedangkan orang yang namanya di panggil oleh kakek Virendra itu melihat ke arah kakek Virendra.
"Kapan kamu akan bergabung di perusahaan bersama ayah dan kakak mu?" tanya kakek Virendra pada Adam.
Adam terlihat tidak senang mendapat pertanyaan itu dari kakeknya.
"Kakek, aku punya bisnis ku sendiri. Aku ingin fokus dulu pada usaha ekspedisi ku!" jawab Adam.
Naira melihat ke arah Adam dengan sedikit heran, masalahnya dia tidak tahu kalau ternyata Adam punya usaha sendiri juga. Dan usaha ekspedisi dia tidak tahu tentang hal itu, Samuel juga tidak pernah memberitahukan hal itu padanya.
"Tapi bergabung dengan perusahaan akan lebih mempererat hubungan keluarga kita, tidak hanya bertemu di rumah juga bisa saling menjaga di kantor. Itu hal yang bagus!" ucap kakek Virendra.
Setelah Naira mendengar apa yang dikatakan oleh kakek Virendra, pandangannya beralih pada kakek Virendra. Menurut Naira apa yang di katakan oleh kakek Virendra itu adalah benar, bahkan sangat benar. Bahkan menurut Naira semua anggota keluarga yang bekerja sama bisa saling melindungi dan mengingat kan satu sama lain.
"Kakek, dunia ini tidak seluas itu saja. Aku ingin menambah pengalaman dan ingin berdiri di kaki ku sendiri...!"
__ADS_1
Belum selesai Adam berkata, Stella segera menyela ucapan putra bungsunya itu. Karena merasa kalau reaksi yang di tunjukkan oleh ayah mertuanya itu sudah tidak lagi raut wajah yang tenang.
"Sudah lah Adam, kamu bisa pikirkan lagi ucapan kakek mu. Apa yang beliau katakan adalah demi kebaikan mu!" ucap Stella sambil melihat ke arah Adam dengan tatapan mata tegas.
Naira yang melihat cara ibu mertua nya itu menangani masalah ini sampai tertegun.
'Ibu begitu mengerti situasi dan mengerti karakter kakek dan juga Adam, ibu Stella memang luar biasa!' batin Naira memuji tindakan dan perkataan ibu mertuanya itu dalam hatinya.
"Benar Adam, kamu bisa pikirkan lagi apa yang kakek dan ibu mu tadi katakan. Ayah juga akan senang kalau kamu bergabung di perusahaan, tapi jika kamu ingin menimba pengalaman ayah pun tidak akan melarang, kamu masih muda. Setidaknya banyak pengalaman akan mengajarkan banyak hal padamu!" seru Damar setelah selesai dengan sarapannya.
Damar memang yang paling tenang dari semua yang ada di ruang makan ini. Selama dia makan dia tidak bicara hanya memperhatikan sesekali tapi begitu dia selesai makan, dia baru membuka suara.
"Ayah, aku berangkat kerja dulu. Aku harus ke kantor pusat hari ini. Stella, apa kamu ada rencana keluar?" tanya Damar.
Stella langsung mengangguk cepat.
"Iya mas, aku ada rencana dengan Naira pergi ke rumah Melinda untuk mengembalikan kado nya yang terlalu berlebihan!" jawab Stella.
"Kado berlebihan?" tanya kakek Virendra.
Stella langsung mengangguk.
"Iya ayah, Melinda memberikan kado untuk Naira perhiasan yang kalau aku taksir harganya bisa sampai hampir satu milyar, dan itu aku rasa tidak baik jika Naira menerima nya!" jelas Stella.
Damar dan kakek Virendra saling pandang. Mereka yang mengenal keluarga itu dengan baik merasa kalau ada yang aneh dengan maksud dari Melinda.
"Stella, kamu saja sendiri yang mengembalikan kado itu. Tidak usah ajak Naira!" ujar kakek Virendra.
Kali ini Adam pun menunjukkan sikap bingung.
__ADS_1
"Kakek, jika hanya ibu yang mengembalikannya mereka pasti mengira ibu yang tidak suka mereka memberi kado itu sedang kan Naira...!"
"Bukan seperti itu Adam, kamu tidak mengenal keluarga Morgan. Teddy Morgan memang orang baik, tapi aku sedikit ragu dengan istri dan anaknya. Itulah kenapa saat ayah mu bahkan tidak bisa menolak perjodohan antara kakak mu dengan anak Teddy Morgan itu. Kakek masih memberikan syarat kalau Samuel bisa menikah dalam waktu 4 bulan maka perjodohan itu akan batal dengan sendirinya!" jelas kakek Virendra.
Naira begitu terkejut, ternyata syarat itu datangnya dari kakek Virendra. Tapi dia juga setuju dengan apa pendapat kakek Virendra. Karena setiap kali bertemu dengan Melinda atau Natasha, Naira juga merasakan perasaan yang tidak nyaman, dan tidak enak dalam hatinya.
"Kalau menurut ayah seperti itu, maka aku akan pergi sendiri ke rumah Melinda untuk mengembalikan kado darinya!" sahut Stella.
Damar juga mengangguk paham.
"Biar aku yang mengantar mu!" seru Damar.
"Iya, dan kamu Naira!" ucap kakek Virendra lalu menoleh ke arah Naira.
"Kamu jangan mau berurusan dengan wanita bernama Melinda dan Natasha itu, aku akan mengatakan hal ini padamu. Wanita bernama Natasha itu sangat terobsesi pada suami mu Samuel, kamu jangan terpengaruh apapun yang wanita itu katakan dan lakukan ya nak!" seru kakek Virendra yang langsung mendapatkan anggukan paham dari Naira.
"Iya kakek!" jawab Naira lembut.
Setelah sarapan selesai, Damar dan Stella pergi dari kediaman Virendra. Mereka akan pergi ke kediaman Morgan, lalu kakek Virendra meminta Naira menemaninya bersama dengan bibi Merry ke taman bagian belakang kediaman Virendra dan mengobrol banyak hal dengan Naira.
Di perjalanan, Stella sempat terlihat cemas.
"Stella jangan khawatir, ada kita yang akan menjaga Naira dan calon cucu kita!" ucap Danar sambil memegang tangan Stella.
"Tapi mas, aku hampir saja mencelakai Naira dan calon cucu kita. Jika tadi ayah tidak memperingati aku, aku pasti sudah ke sana dengan Naira. Aku sampai lupa siapa mereka itu sampai aku malah mengajak Naira ke sana!" ungkap Stella menunjukan rasa bersalahnya.
"Sudahlah, yang penting sekarang kan. Kalian berdua tidak jatuh dalam jebakan licik Melinda itu! Lain kali lebih hati-hati lah, kita menghormati mereka karena Teddy dan juga perusahaan nya jika tidak, aku pun tidak ingin berhubungan dengan keluarga Morgan lagi !" seru Damar yang membuat Stella mengangguk setuju.
***
__ADS_1
Bersambung...