
Aku kembali ke rumah ku, tapi saat dia tiba di depan rumah aku sangat terkejut karena di depan rumah ku sudah berkerumun banyak orang. Jujur saja aku jadi sangat cemas, karena tadi ketika akan mengantarkan undangan ke toko buku ayah dan ibu belum pulang dan aku meninggalkan Ibras sendirian di rumah. Meski sudah 17 tahun, tapi tetap saja Ibras itu sendirian, aku jadi sangat mengkhawatirkan keadaan adik ku itu. Aku takut terjadi sesuatu pada adik ku satu-satu nya.
Aku meletakkan sepedaku sembarang dan langsung berlari menerobos kerumunan.
"Permisi! ada apa ini?" tanya ku panik dan segera mencari Ibras.
Ternyata benar, Ibras sedang bertengkar dengan dua orang wanita di depan pintu. Karena Ibras ngotot tidak memberikan jalan agar dua wanita itu masuk ke dalam rumah.
"Eh Bu, ibu ini siapa kenapa marah-marah di rumah Bu Anisa?" tanya Bu Saodah salah satu tetanggaku.
Aku mendekati mereka, dan Ibras segera memanggil ku.
"Kakak!" panggil Ibras.
Aku langsung menghampiri Ibras.
"Kamu gak apa-apa?" tanya ku cemas sambil menggenggam tangan Ibras.
"Oh jadi kamu, perempuan perebut tunangan orang itu!" ucap salah satu wanita yang lebih muda seperti nya dia seumuran dengan Puspa yang jelas lebih tua dari ku.
Dia juga berjalan maju dan mendorong ku, Ibras tidak terima, dia menghadang dan marah pada wanita itu.
"Heh, kalian tuh siapa? dateng-dateng marah-marah. Gak jelas juga asalnya dari mana! sekarang malah dorong-dorong kakak saya lagi, mau saya panggil pak RT buat usir kalian dari sini!" seru Ibras tanpa rasa takut.
Aku terus menggenggam tangan Ibras, tidak mau kalau sampai adikku ini terbawa emosi.
"Eh jangan sembarang ngomong ya, kita semua disini tuh kenal sama Naira, dia anak baik dari bayi baru brojol dia tinggal disini, besar disini. Kita semua tahu gimana Pak Rama sama Bu Anisa mendidik anak-anak nya jangan sembarangan ngomong!" seru Bu Saodah.
Aku sampai terharu dan rasanya sangat ingin memeluk ibu Saodah. Meski mulutnya suka nyerocos tapi pada saat seperti ini dia mau membantu ku dan juga Ibras adik ku.
"Iya, jangan asal ngomong ya. Kamu tuh siapa? kalau mau bikin gara-gara salah tempat kamu!" teriak Ibu-ibu yang lainnya.
Aku sungguh terharu melihat kebaikan mereka semua. Dalam situasi seperti ini mereka bersama membantu aku dan Ibras.
Kedua wanita itu nampak saling pandang dan menunjuk-nunjuk ke arah wajah ku.
"Ingat ya, urusan kita belum selesai!" ucapnya dengan nada tinggi dan amarah yang terlihat dari wajahnya.
Mereka berdua lantas pergi dengan mobil yang sangat bagus, hampir sama dengan mobil yang di pakai oleh Samuel.
Setelah mobil mereka juga sudah pergi, ibu Saodah dan yang lain menghampiri kami.
"Ibras, Naira kalian beneran gak kenal sama mereka?" tanya Bu Saodah.
Aku dan Ibras kompak menggelengkan kepala kami. Karena kami memang tidak mengenal mereka.
"Ya sudah, kalian masuk saja. Kunci pintunya selama ayah dan ibu kalian belum pulang. Kalau ada apa-apa teriak saja ya, kami pasti bantu kalian!" ucap Bu RT yang baru hadir tapi mendengarkan cerita dari salah satu warga lain.
Aku mengangguk paham.
"Iya Bu RT, Bu Saodah dan ibu-ibu lainnya terimakasih banyak ya!" ucap ku terharu.
Mereka tersenyum dan mengangguk, mereka lalu pergi meninggalkan rumah kami. Aku menutup pintu, dan menguncinya. Aku senang ibu-ibu disini sangat kompak.
__ADS_1
Mereka mau membantu kami di saat kami kesulitan seperti tadi. Ibras yang duduk sambil memegangi kepalanya pun bertanya padaku.
"Kakak beneran gak tahu siapa dua perempuan tadi?" tanya nya.
Aku ikut duduk disampingnya.
"Beneran gak tahu, kakak gak kenal!" jawab ku terus terang.
"Kalau ga kenal, kenapa juga pas kakak Dateng tadi, perempuan itu bilang kakak perusak hubungan orang, hayo...!" ucap Ibras.
Dan apa yang di bilang itu memang ada benarnya. Kenapa dia bisa mengenali ku dan mengatakan aku merusak hubungan nya. Aku berusaha mencari tahu alasannya, dan setelah berfikir beberapa menit aku mulai ingat.
"Eh, bentar deh. Nih coba cari yang namanya Natasha Morgan di sosmed. Kamu punya kan?" tanya ku pada Ibras sambil menyerahkan ponsel ku padanya.
Ibras mengambil ponsel ku dan malah melihat nya dengan tatapan takjub.
"Wah kak, di beliin kak Samuel ya. Ini keren banget ponsel nya, ini sih di tambahin lima juta lagi bisa beli motor matic kak!" ucap nya kagum.
"Bukan, itu dari Riksa!" jawab ku jujur.
"Yang bener!" tanya Ibras dengan wajah yang terkejut.
"Wah, kayaknya kak Riksa juga sama kaya nya sama kak Samuel. Kakak beruntung banget, nanti kalau kakak udah bosen, boleh lah buat Ibras ni ponsel! biar gak telat Mulu ngirim tugas pake hape kentang!" ucap Ibras.
Dan aku memikirkan apa yang dia katakan tadi, bukan kah dia memang lebih membutuhkan ponsel canggih daripada aku. Sebaiknya aku tukar saja ponsel ini dengan punya nya. Riksa itu orangnya sangat baik, aku yakin dia tidak akan keberatan.
"Ya sudah, setelah kamu cari tahu seperti apa itu Natasha Morgan, kita tukeran hape. Kamu pakai saja ponsel itu. Tapi tukar juga kartu dan SIM card nya!" ucap ku.
"Cari dulu itu yang tadi!" perintah ku.
"Oke, siap!" jawab nya dan segera mengutak-atik ponsel ku, eh salah ponsel nya.
Beberapa menit Ibras mencari akhirnya dia menemukan sosmed atas nama Natasha Morgan, dan dia benar-benar terkejut.
"Kak, ini beneran perempuan yang tadi!" ucap nya serius.
Aku juga langsung melihat ke arah layar ponsel. Dan ternyata benar, dia lah Natasha Morgan. Wanita yang seingat ku pernah di bicarakan oleh Puspa dan Riksa di butik Puspa waktu itu.
Wanita yang kata Puspa, tidak bisa di anggap remeh. Wanita yang lebih menakutkan daripada Caren, kekasih Samuel.
"Kakak kenal namanya tapi tidak kenal orangnya?" tanya Ibras dan aku langsung mengangguk kan kepala ku.
"Iya, kakak memang pernah dengar namanya dari Riksa!" jelas ku.
"Siapa dia?" tanya Ibras.
"Wanita yang menyukai Samuel!" jawab ku.
Ibras begitu terkejut, sampai mulutnya terbuka lebar hanya karena dia bilang kata,
"Hah!"
"Ih, tutup tuh mulut bau naga tahu!" ucap ku berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Aku tidak ingin Ibras cemas, dan tidak ingin ayah dan ibu ikut cemas.
__ADS_1
Aku tidak ingin mereka cemas karena tahu, calon suami ku sangat di sukai wanita lain. Dan karena sangat menyukai nya, wanita itu bisa saja mencelakai ku kapan saja.
'Aku rasa aku memang harus minta asuransi pada si lidah tajam itu. Kalau nanti terjadi apa-apa padaku, setidaknya itu akan berguna untuk ayah, ibu dan juga Ibras!' pikir ku.
Pikiran ku itu bukan asal saja, aku mendengar percakapan Puspa dan Riksa yang mengatakan kalau wanita yang bernama Natasha itu memang sangat mengerikan. Dan setelah bertemu dengannya tadi, aku yakin. Kalau apa yang di katakan Puspa itu benar, Natasha sudah datang ke rumah dan mengancam ku. Aku harus mengatakan ini pada Riksa.
"Udah belom mindahin kartunya! kakak mau istirahat di kamar. Sini hape kentang kamu, udah di masukin kan nomernya Riksa?" tanya ku pada Ibras.
"Udah, kok nomernya Kak Samuel gak ada sih kak?" tanya Ibras.
"Namanya juga hape baru, belom sempet masukin nomer dia. Kalau nomer kamu sama ayah sih, udah hafal di luar kepala. Ya sudah, sudah malem kamu juga istirahat, besok kita di jemput jam 7 pagi tahu!" seru ku pada Ibras.
Ibras langsung berdiri menunjukkan sikap hormat seperti seorang siswa saat upacara bendera.
"Siap kak, makasih ya hapenya!" ucap nya lalu masuk ke dalam kamarnya.
Aku juga masuk ke dalam kamar ku. Aku tengkurap di atas tempat tidur dan mencoba menghubungi Riksa.
"Halo Nai!" ucap nya.
"Halo Riksa!"
"Ada apa? kamu belum istirahat? apa semua baik-baik saja?" tanya nya bertubi-tubi.
"Em, begini Riksa. Boleh kah kalau aku meminta asuransi jiwa?" tanya ku langsung pada intinya. Mungkin saja saat ini Riksa sedang sangat sibuk, jadi aku akan berbicara seperlunya saja.
"Asuransi?" tanya nya
Dan belum sempat aku menjawab, dia bertanya lagi dan suaranya terdengar panik.
"Nai, apa ada sesuatu yang terjadi. Apa ada hal buruk yang menimpamu atau keluargamu? Apa aku perlu kesana sekarang?" tanya Riksa dengan banyak pertanyaan.
Aku sampai bingung mau jawab yang mana dulu.
"Riksa, sekarang aku dalam keadaan baik. Begitu juga keluarga ku. Tapi aku tidak tahu nanti!" ucap ku sedih.
"Naira, katakan ada apa?" tanya nya mendesak.
"Riksa, katakan dulu. Kamu akan buatkan asuransi untuk ku kan, Samuel bilang dia akan memberikan aku sepuluh juta sebulan. Pakai itu saja!" ucap ku kemudian.
"Nai, tolong katakan apa yang sudah terjadi?" tanya Riksa lagi.
"Aku akan kesana sekarang kalau kamu tidak mau bilang!" seru Riksa lagi.
"Tidak perlu, semua sudah baik-baik saja. Tadi saat aku pulang setelah mengantar undangan untuk ko Acong, di rumah ke datangan dua orang wanita yang marah-marah dan memaki ku. Dia bilang aku merebut tunangan nya, dia sangat marah. Tapi untung ada para tetangga ku yang membantu ku dan Ibras. Tapi wanita itu mengancam ku, aku tidak takut padanya, tapi aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya kan. Jadi Riksa, bisakah aku memiliki asuransi?" tanya ku pada Riksa setelah menceritakan apa yang terjadi tadi.
"Iya Nai, pasti bisa. Besok sebelum pernikahan aku akan mengurus asuransi untuk mu dan juga keluarga mu. Tapi Nai, apa kamu tahu siapa wanita itu?" tanya Riksa.
"Natasha Morgan!" jawab ku.
***
Bersambung...
__ADS_1