
Akhirnya setelah beberapa jam menjamu tamu dan berbincang dengan mereka, acara ini berakhir juga. Rasanya punggung ku sangat lelah. Biasanya aku juga sering membantu ibu, bahkan bekerja di toko buku ko Acong. Tapi rasanya sama sekali tidak selelah ini. Mungkin karena sudah beberapa minggu ini kerjaku hanya bersantai di rumah selama menjadi istri Samuel. Jadi saat mengikuti acara seperti ini saja baru beberapa jam rasanya aku sudah sangat lelah sekali.
Setelah makan malam bersama aku berpamitan pada kakek ibu dan juga Ayah untuk beristirahat di dalam kamar. Sementara Samuel sejak menerima telepon tadi dia sudah pergi dan sampai saat ini belum kembali. Riksa dan juga Puspa juga sudah pulang. Tapi aku sudah membuat janji dengan Puspa, aku mengatakan padanya kalau besok aku ingin menemuinya di butik, dan Puspa juga terlihat senang bahkan dia mengatakan akan menunggu ku datang.
Setelah mandi dan berganti pakaian aku mencoba untuk membuka beberapa kado yang di berikan oleh teman-teman Samuel, dia juga oleh beberapa kerabat Ibu termasuk tante Melinda. Aku meletakkan semua itu di atas karpet yang berada di bawah di samping tempat tidurku. Aku juga duduk di bawah dan mulai melihat-lihat yang mana dulu kadonya yang akan aku buka. Dan perhatianku tertuju pada dua buah kado yang memiliki bentuk yang sama, ukuran box yang sama, warna box dan juga hiasan pita yang serupa.
Dua kado itu adalah kado yang di berikan oleh Puspa dan juga Riksa. Aku membuka yang ada kartu ucapan bertuliskan nama Puspa. Aku langsung terbelalak begitu melihat apa yang ada di dalam box itu.
"Pakaian apa ini?" gumam ku sambil meminjam piring pakaian itu dihadapanku dengan kedua tanganku dan mataku yang membuat lebar.
Kurasa tidak akan ada bagian tubuh yang tertutupi jika aku mengenakan pakaian itu.
"Bukan kah sama saja tidak memakai baju!" gumam ku.
Aku sebenarnya merasa kalau apa yang dilakukan oleh Puspa itu sebenarnya ingin membantuku tampil lebih menarik di depan Samuel. Tapi baru melihatnya saja aku sudah menelan saliva ku dengan susah payah ya bagaimana kalau aku memakainya nanti. Aku tidak bisa membayangkan apa reaksi Samuel ketika melihatku berpakaian seperti itu.
"Haduh, ini sih sama saja membuat diriku sendiri dalam kesulitan, mas Sam tidak akan membiarkan aku turun dari tempat tidur kalau memakai baju seperti ini!" gumam ku pelan.
Aku bahkan bergidik ngeri dan mengedikkan bahu ku beberapa kali benar-benar membuat bulu kudukku merinding. Aku bahkan sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau Samuel melihatku berpakaian seperti ini. Bukannya tidak menghargai pemberian dari Puspa tapi lebih baik aku simpan saja barang seperti ini, mungkin akan berguna suatu saat nanti. Aku langsung meletakkannya kembali ke dalam box kemudian membuka box yang ada di sebelahnya yaitu hadiah dari Riksa.
__ADS_1
Dan ketika membuka box itu dan meraih apa yang ada di dalamnya mata aku lagi lagi dibuat terbelalak. Bagaimana tidak, sama persis hanya warnanya saja yang berbeda kalau dari Puspa tadi berwarna hitam transparan dan kalau yang dari Riksa ini warnanya merah transparan. Tapi aku tahu dari cerita mereka berdua kalau sebenarnya bukan ini kado yang diberikan Riksa untukku.
Bagus tadi Samuel tidak benar-benar membukanya karena kalau sampai itu terjadi aku tidak bisa membayangkan berapa gaji Riksa yang akan dipotong oleh suami ku itu. Aku kemudian meletakkan pakaian itu bersama dengan pakaian yang diberikan oleh Puspa tadi ke dalam box yang sama dan menyingkirkannya ke sebelah kanan.
Aku juga penasaran dengan hadiah dari Tante Melinda, sebuah paper bag berwarna biru metalik dengan pita berwarna silver di bagian. Aku membukanya dan benar saja, itu adalah sebuah perhiasan yang kalau aku lihat-lihat lagi hampir sama dengan yang di berikan oleh ibu Stella padaku.
Deg
Entah kenapa aku merasakan perasaan ku menjadi tidak enak, dadaku berdebar tak karuan. Aku segera menutup hadiah itu dan aku pikir sebaiknya aku mengembalikannya. Karena harga dari perhiasan ini tidak murah. Aku lalu menyimpan kembali kotak perhiasan itu ke dalam paper bag dan menyingkirkan yang lagi ke sebelah kanan. Aku lalu membuka kado yang lain dan kali ini aku membuka kado dari Dina sekretaris pribadi Samuel.
"Wah...!" aku tertegun ternyata kadonya adalah satu set alat makan bayi.
Aku tersenyum senang melihat kado sederhana itu tapi aku rasa itu benar-benar membuat ku merasa senang. Mungkin saja janin di dalam perut ku yang senang melihat kado pemberian Dina ini. Aku lalu mengusap perut ku dengan lembut.
Tapi kalau aku pikir-pikir sebenarnya benar juga kado yang lain adalah kado untuk ku. Dan kado dari Dina ini sepertinya memang untuk anakku makanya rasanya sepertinya dia sangat senang. Aku masih lanjutkan untuk membuka beberapa kado lagi sampai aku mendengar suara pintu kamarku terbuka.
"Sayang, Samuel belum pulang?" tanya ibu Stella yang langsung masuk dan duduk di sebelah ku.
Aku langsung menggelengkan kepala ku dengan cepat.
__ADS_1
"Belum Bu, tadi mas Sam bilang ada rapat penting. Makanya dia mengajak Riksa dan Dina pergi!" jawab ku.
"Begitu ya, bagaimana keadaan mu. Apa kamu sangat lelah. Maaf ya, Ibu tidak menyangka kalau nggak akan datang sebanyak itu. Padahal Ibu hanya memposting kabar baik ini di grup Pribadi tidak menyangka mereka yang ada di grup pribadi malam membocorkan ini kepada orang-orang dan mereka datang dengan sendirinya ke sini!" jelas ibu Stella.
Aku hanya tersenyum.
"Tidak apa-apa Bu, setelah membereskan semua ini aku juga kan langsung beristirahat!" ucap ku karena tidak ingin membuat ibu Stella cemas.
Ibu Stella langsung mengusap kepalaku dengan lembut.
"Iya sayang, kamu harus banyak istirahat. Ibu akan meminta bibi Merry membantu mu ya!" ucap ibu Stella.
"Sebentar Bu, ini adalah kado dari Tante Melinda. Aku merasa kalau ini terlalu berlebihan, apa boleh aku mengembalikan nya saja?" tanya ku sambil menyerahkan paper bag berwarna biru metalik itu pada ibu Stella.
Ibu Stella terlihat penasaran dan membuka paper bag yang sudah dia ambil.
"Ya ampun!" ibu Stella bahkan terkejut Sam seperti ekspresi pertama ku tadi begitu melihat kado dari Tante Melinda.
"Kamu benar sayang, ini berlebihan. Dan seharusnya kado untuk ibu hamil bukan barang seperti ini. Aku juga tidak mengerti maksud dari Melinda. Baiklah, besok ibu akan menemani mu mengembalikan kado ini pada Melinda! sekarang beristirahat lah. Ibu akan panggil bibi Merry untuk membereskan semua ini!" ucap ibu Stella lalu mengambil paper bag itu dan membawanya keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
***
Bersambung...