Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
41


__ADS_3

Aku memberikan ponsel ku pada Samuel. Dia terlihat kesal, dia bahkan sudah berteriak sebelum ponsel nya benar-benar berada di depan telinganya.


"Hei, kenapa malah menghubungi Naira?" tanya Samuel pada Riksa di telepon dengan suara yang tinggi.


'Ih, emang harus ya teriak-teriak gitu, huh beneran bisa mati muda gak sih kalo setahun hidup sama orang yang hobinya teriak-teriak terus marah-marah begini?' tanya ku dalam hati.


Aku hanya berfikir, bicara pelan atau paling tidak kan biasa saja bisa. Kenapa harus berteriak-teriak seperti itu.


Aku tidak bisa mendengar jawaban dari Riksa, dan aku tidak tahu apa yang ingin dia katakan, aku yakin dia ingin mengatakan sesuatu padaku. Karena itu dia menghubungi ku. Tapi aku juga tidak berani meminta ponsel dari si lidah tajam itu.


"Bicara yang benar, sejak kapan jadi gagap begitu?" bentak nya lagi pada Riksa di ujung telepon.


"Baiklah, titipkan saja pada pak Urip. Kamu tidak perlu terus-menerus menemui Naira. Pekerjaan mu yang lebih penting kan masih banyak! sudah lah lanjutkan pekerjaan mu!" seru nya pada Riksa dan memutuskan panggilan telepon nya.


Samuel menatap ke arah ku sekilas dan kembali melihat ponsel yang ada di tangannya.


"Riksa yang membelikan mu ini?" tanya nya.


Aku mengangguk dengan cepat.


"Iya tuan!" jawab ku singkat.


"Kapan kalian membelinya?" tanya nya lagi.


"Kemarin!" jawab ku.


Dia melemparkan ponsel itu padaku.


Grep


'Huh, hampir saja!' batin ku sambil mengelus dadaku.


Untung saja aku berhasil menangkap ponsel yang di lemparkan Samuel padaku. Kalau tidak pasti akan jatuh dan rusak. Orang kaya memang aneh, mereka suka sekali melempar barang, apa mereka tidak menyayanginya. Ponsel ini harganya saja senilai lima bulan gaji ku plus lemburan di toko buku ko Acong, aku akan menangis kalau benda ini sampai jatuh dan rusak.


Samuel kembali duduk dan melihat ku dengan tatapan aneh.

__ADS_1


"Matre juga ya kamu!" ucap nya menuduh ku.


Aku terkesiap, terus terang saja aku tersinggung dengan apa yang Samuel katakan barusan.


"Aku kira kamu berbeda dengan wanita kebanyakan seperti yang ibu ku bilang, tapi ternyata kamu sama saja. Komersil!" lanjut nya lagi menghina ku.


Aku hanya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.


'Sabar Nai, sabar. Percuma juga di jawab. Sudah biarkan saja dia mau mikir apa juga!' batin ku menenangkan diriku sendiri.


Ternyata aku tidak salah kan memberikannya julukan si lidah tajam, awal bertemu dia menghinaku masalah pendidikan ku, lalu mengatai aku orang kelas bawah, seleraku payah, dan sekarang dia bilang aku matre dan komersil, lengkap sudah penghinaan nya padaku.


"Bagaimana cara mu merayu Riksa hingga dia membelikan mu ponsel ini?" tanya nya lagi.


'Apa katanya? merayu? yang benar saja! aku bahkan tidak memintanya!' keluh ku dalam hati.


Aku rasa kalau aku tidak menjelaskan, maka si lidah tajam ini tidak akan berhenti memojokkan aku.


"Maaf tuan, tapi saya tidak merayu Riksa untuk mendapatkan ponsel itu, dia yang membelikan nya untuk saya sebagai hadiah pernikahan, seperti yang di berikan oleh Puspa, dia juga memberikan saya banyak pakaian dan sepatu sebagai hadiah pernikahan!" jelas ku pada si lidah tajam.


Samuel Virendra POV


Setahu ku Puspa itu adalah wanita yang sangat selektif dalam memilih teman. Dan kalau sampai apa yang di katakan oleh Naira benar, dia memberikan barang-barang itu pada Naira, artinya dia sudah menganggap Naira sebagai temannya.


Lalu Riksa, bagaimana bisa dia yang tidak pernah perduli dengan makhluk yang bernama wanita, bisa begitu perduli pada Naira. Bahkan membelikan nya ponsel yang cukup mahal. Apa yang menarik dari wanita yang menurut ku sangat biasa ini. Sampai kedua sahabat ku begitu menyukai nya.


"Aku tidak percaya!" seru ku pada Naira membuatnya mengangkat alisnya tinggi


"Kenapa tuan tidak percaya, aku benar-benar tidak memintanya pada mereka berdua. Mereka yang memberikan nya padaku. Aku tidak bohong!" ucapnya meyakinkan aku. Tapi entah kenapa rasanya begitu sulit mempercayai ucapannya.


Aku rasa selain membuktikan ucapannya benar, aku harus meminta bukti padanya untuk meyakinkan kalau kedua sahabat ku itu mang begitu perduli padanya.


"Tunjukkan mana hadiah dari Puspa!" ucap ku padanya dan dia langsung masuk ke dalam kamarnya.


Tak lama kemudian, dia keluar dengan membawa beberapa paper bag, yang aku tahu itu memang paper bag khusus butik nya Puspa.

__ADS_1


Dia meletakkan beberapa paper bag itu dia atas meja.


"Ini tuan, ini semua dari Puspa, dan aku juga belum mengeluarkan nya dari bungkus nya ini!" ucap nya lalu menjauh dari meja.


Aku berdiri dan memeriksa, ternyata benar. Bahkan Puspa memberikan rancangan dengan kode Gold untuk nya, yang artinya harganya di atas sepuluh juta satu gaun nya.


'Bagaimana mungkin baru bertemu dengan Naira sekali, Puspa bisa sebaik ini. Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini pada orang lain!' batin ku.


Sahabat ku yang satu itu, adalah wanita yang bisa di bilang tidak perduli pada orang lain, atau lebih tepatnya dia itu sangat cuek.


"Bagaimana tuan, apa tuan sudah percaya?" tanya Naira membuat ku spontan menoleh ke arahnya.


"Simpan kembali ini!" seru ku dan dia langsung membawa barang-barang yang tadinya ada di atas meja itu kembali ke dalam kamarnya.


Aku duduk kembali di tempat ku, melihat arloji yang ada di pergelangan tangan ku. Dan ini sudah lebih dari satu jam, kenapa pak Urip belum datang juga.


Naira keluar lagi dari dalam kamar dan duduk di sofa yang paling jauh dariku. Aku jadi merasa heran, di mobil saat itu dia duduk sangat jauh, di bandara waktu itu juga dia malah lebih senang mengobrol dan berada di dekat Riksa. Sekarang pun dia duduk di tempat yang sangat jauh.


"Maaf tuan, kalau boleh saya tahu. Apa yang Riksa katakan tadi ya?" tanya nya gugup. Aku tahu itu karena nada suaranya sedikit bergetar.


Sepertinya dia ragu untuk mengatakan itu, kalau dia ragu, seharusnya dia tidak bertanya bukan.


Aku mengangkat sebelah alis ku.


"Kenapa?" tanya ku padanya. Jujur saja aku tidak suka pada pertanyaan nya.


"Riksa kan menelpon, mungkin saja ada hal penting yang ingin dia sampaikan!" lanjutnya dengan nada suara yang masih sama sedikit gugup.


"Bukan hal yang penting!" jawab ku tapi sepertinya dia tidak puas dengan jawaban ku.


Samuel Virendra POV end


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2