
Aku berusaha untuk percaya pada Samuel, karena tadi sewaktu Adam mengungkit hal itu jelas kalau Samuel sangat marah dan emosi.
"Lalu darimana dia tahu, Riksa tidak mungkin...!"
"Kenapa aku merasa kamu malah lebih percaya pada Riksa daripada padaku?" tanya nya menyela ucapan ku.
Aku melebarkan mataku, kenapa dia seperti nya sensitif sekali ya beberapa hari ini.
"Mas, maksud ku bukan itu. Tapi Riksa dan Adam itu tidak dekat, jadi dia tidak mungkin mengatakan tentang semua hal itu pada Adam!" ujar ku menjelaskan apa yang aku pikirkan.
Tapi Samuel masih tetap memasang wajah masam.
"Aku rasa aku akan benar-benar memindahkan Riksa ke Papua!" ucap nya kesal.
Aku sampai mengernyitkan dahi ku, sejak kapan Samuel menjadi pundungan begini. Ini aneh. Sama sekali bukan dirinya.
"Mas, apa kamu menyadarinya? beberapa hari ini kamu terlihat aneh?" tanya ku pada Samuel.
Samuel lalu memperhatikan dirinya sendiri dari bagian depan sampai menoleh ke bagian belakang tubuhnya.
"Apa yang aneh?" tanya nya padaku.
"Kenapa kamu begitu cepat emosian, begitu sensitif? kamu tidak pernah merajuk sebelumnya, atau jangan-jangan ini memang sifat asli kamu?" tanya ku padanya.
Dia malah melotot padaku.
"Jadi maksud mu aku ini, sifat ku ini tidak baik. Hah, aku tahu kamu sedang membandingkan aku dengan Riksa kan? aku tidak menyukai ini Nai, ck...!" ucapnya lalu pergi keluar dari dalam kamar.
Aku sampai tertegun di buatnya.
'Ih, kok mas Samuel ngambekan ya sekarang?' tanya ku dalam hati.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Kamar mandinya luas sekali bahkan tempat berganti pakaian nya lebih luas daripada di rumah lama.
Aku lalu menggeser pintu lemari yang ada di depan ku, banyak sekali pakaian Samuel disana, aku melihat salah satu pakaian yang berwarna putih, karena baunya sangat harum aku meraih lengan kemeja yang tergantung dan melihatnya dari dekat.
"Huek... ekh!" aku langsung berlari ke arah wastafel ketika merasakan perut ku semakin mual.
Tapi anehnya aku tidak memuntahkan apapun, kepalaku juga tidak pusing.
"Heh, kenapa ini. Apa aku salah makan ya tadi?" gumam ku sambil mengingat apa yang aku makan sampai perut ku rasanya mual sekali.
Seingat ku aku tidak makan apapun, selain makanan hotel yang biasanya. Aku juga membeli pie susu tapi aku belum memakannya. Aku lalu mengalihkan pandangan ku ke arah lemari yang tadi aku buka.
__ADS_1
"Apa parfum yang ada disana ya yang membuat ku mual?" gumam ku lagi.
Tapi aku segera menggelengkan kepalaku dengan cepat mengusir semua pikiran yang tidak-tidak. Setelah itu aku memutuskan untuk segera mandi.
Beberapa saat kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi, aku merias sedikit wajah ku dan memutuskan untuk membawa beberapa oleh-oleh keluar dari dalam kamar untuk di berikan pada para asisten rumah tangga, juga pak Ranu dan bibi Merry.
Membawa beberapa paper bag, aku berjalan pelan ke arah dapur dan melihat Samuel yang berdiri sendirian di tepi kolam renang. Tapi karena apa yang ku bawa ini lumayan banyak dan berat, aku memilih berjalan ke arah dapur dulu.
"Bibi Merry!" panggil ku pada bibi Merry yang sedang memasak.
"Iya nyonya muda!" jawab nya dan menghampiri ku.
"Ini Bi, ada sedikit oleh-oleh untuk bibi dan yang lain. Tolong di bagikan ya Bi!" pintaku pada bibi Merry yang langsung mengangguk dan tersenyum.
"Baik nyonya muda, terimakasih ya!" ucap bibi Merry dan aku balas dengan senyuman dan anggukan kepala juga.
Setelah itu aku bergegas menyusul Samuel yang sedang berdiri di dekat kolam renang sendirian.
"Mas!" ucap ku pelan menyapa Samuel agar dia tidak terkejut.
Samuel kelihatannya sedang memikirkan sesuatu. Dia terlihat menundukkan kepalanya dan hanya berdiri melihat air kolam yang ada di bawahnya.
"Mas, sedang apa?" tanya ku mendekatinya.
"Eh!" aku yang terkejut langsung mengikutinya.
Kami berjalan ke arah kamar kami, eh bukan. Karena kami melewati kamar kami. Di sebelah kamar kami lebih tepatnya di ada sebuah pintu yang ukurannya tidak sebesar kamar kami. Samuel membukanya dan mengajak ku masuk ke dalamnya.
Ternyata ruangan itu adalah ruang kerja Samuel, lebih besar dari ruang kerja di rumah lama. Dan rak bukunya juga lebih banyak.
Samuel melepaskan tangan ku dan berjalan menuju ke arah lemari besar di belakang meja kerjanya.
Aku memilih diam di tempat ku sambil memperhatikan sekeliling ruangan ini.
"Sayang, kemari lah!" perintahnya padaku.
Aku langsung berjalan mendekatinya yang tengah membuka sebuah brankas yang terdapat di dalam lemari. Dia mengambil satu buah map dan mengeluarkan isinya.
"Ini adalah perjanjian kontrak kita, sebuah surat yang membuat mu menjadi istri kontrak ku!" ucap Samuel sambil menunjukkan surat perjanjian yang saat itu aku tanda tangani.
Srekkk Brekkk
Aku terkejut, Samuel merobek tiga lembar kertas yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Mulai sekarang tidak ada kontrak, Naira kamu adalah istriku seutuhnya, tidak ada lagi istri kontrak!" ucap Samuel setelah merobek lembaran kertas itu jadi berkeping-keping.
Tes tes tes
Tanpa terasa air mataku menetes membasahi pipiku. Aku tidak tahu, tapi rasanya sangat terharu dengan apa yang baru saja Samuel lakukan di hadapan ku.
Dia merobek surat perjanjian itu, dia merubah status ku dalam sekejap menjadi benar-benar nyonya Samuel tanpa embel-embel perjanjian itu.
Samuel menyeka air mataku.
"Kita akan bersama sampai tua Naira, bukan hanya satu tahun. Tapi selamanya!" ucap Samuel dengan lembut.
Suaranya yang lembut benar-benar membuat hatiku bergetar, rasanya sangat terharu. Sampai rasanya aku tidak sanggup mengatakan apapun lagi selain air mata yang terus menetes membasahi pipi ku.
"Mas, serius?" tanya ku dengan suara yang bergetar.
Samuel tersenyum dan mengangguk yakin. Dia meraih ku mendekat ke arahnya dan memelukku dengan erat.
Aku sungguh terharu, rasanya aku juga ingin memeluknya dengan erat. Tapi saat aku mencium aroma tubuhnya.
"Huek... empt!" aku langsung mendorong Samuel dan menjauh darinya.
Aku menutup mulut ku dengan tangan ku.
"Kenapa sayang?" tanya Samuel yang terlihat panik dan terus mendekati aku karena terlihat sangat cemas.
"Sayang!"
"Mas, maaf. Tapi jangan dekat-dekat! aku mual!" ucap ku terus terang pada Samuel.
Aku benar-benar tidak enak hati padanya, tapi aku benar-benar tidak tahan dengan aroma tubuhnya. Sebenarnya aroma tubuhnya wangi seperti biasanya, tapi entah kenapa aku sangat tidak suka, dan seperti saat aku menyentuh kemejanya di lemari tadi, mendadak perut ku mual saat mencium aroma khas nya itu.
"Mual?" tanya nya bingung.
"Mas, sebaiknya mas mandi dulu deh!" ucap ku.
Samuel mengusap rambutnya kasar.
"Sayang, kamu sungguh merusak suasana! ck..!" gumam nya kesal lalu keluar dari dalam ruang kerjanya.
***
Bersambung...
__ADS_1