
Sementara Naira malah jadi parno sendiri akibat cerita dari Sundari yang dia dengar tadi. Naira berkali-kali melihat ke arah layar ponselnya berharap suaminya menghubungi dirinya atau sekedar mengirim pesan memberitahukan kalau dia sedang apa dan akan pulang jam berapa.
Kalau sebelumnya Naira tidak pernah mengadakan hal itu, tapi entah kenapa setelah mendengar apa yang di katakan oleh Sundari tadi perasaan nya jadi tidak enak. Apalagi suami nya itu sangat tampan dan kaya raya. Selama ini bahkan setelah banyak yang tahu kalau Samuel sudah menikah pun masih banyak sekali wanita yang berusaha mendekatinya dengan berbagai macam cara.
Meskipun Samuel itu pria yang setia, tapi kalau para wanita itu terus menggodanya bisa saja suatu saat Samuel akan tergoda. Itulah yang ada di dalam pikiran Naira.
Naira bahkan langsung turun dari atas tempat tidur dan melihat ke arah cermin. Dia berkaca dan memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Naira bahkan menyentuh ke dua pipinya.
"Ini pipi apa bakpao?" gumam nya sendiri.
"Sejak kapan tubuhku membengkak seperti ini?" tanyanya uang baru menyadari kalau tubuhnya semakin berisi setelah empat bulan kehamilan nya.
Naira kembali terduduk di tepi kasur.
"Apa mungkin yang terjadi pada majikan lama Ndari itu...!" Naira tidak melanjutkan perkataannya karena dia ingat ayahnya selalu mengatakan kalau setiap perkataan yang kita ucapkan adalah sebuah doa. Dan dia tidak mau mendoakan hal buruk pada rumah tangganya.
Naira langsung menggelengkan kepalanya perlahan.
"Tidak, tidak, itu tidak mungkin... mas Samuel adalah pria yang begitu baik dan setia. Aku tidak boleh meragukannya." ucap Naira sambil meraba perutnya dengan lembut.
"Sayang, ingatkan ibu untuk selalu percaya pada ayah mu ya, ayahmu itu adalah pria terbaik di dunia, dia adalah suami dan calon ayah terbaik di seluruh dunia!" ucap Naira lalu kembali pada posisinya berbaring karena ini memang sudah sangat larut.
Sementara itu di kamar lain di kediaman Virendra. Dia orang sedang sibuk bekerja.
__ADS_1
"Hanya ini yang kamu temukan, kamu ini bagaimana? katanya anaknya yang punya perusahaan, tapi bahkan kamu tidak punya akses lebih dan leluasa saat meminta dokumen dokumen penting perusahaan!" keluh Adam yang merasa kalau data yang dia dapatkan tentang perusahaan Rahardja kurang.
"Aku setidaknya sudah berusaha, tidak seperti seseorang yang kerjanya hanya bisa main perintah saja!" balas Vina.
"Kamu sadar tidak, dalam satu tahun pengaruh Jodi di perusahaan ayahmu begitu besar, dia bahkan sudah memasukkan banyak orang yang aku yakin mereka pasti adalah anak buahnya. Bodoh sekali sih orang yang meminta Kevin Rahardja mengangkat Jodi menjadi wakil CEO!" seru Adam mengutarakan apa yang dia pikirkan setelah membaca semua data yang ada.
Vina memasang raut wajah cemberut dan penyesalan yang amat dalam. Dia menghela nafas berat sebelum berkata.
"Aku lah orang bodoh itu!" ucap Vina dengan nada suara yang lemah jelas sekali dia menyesali apa yang dia lakukan itu.
Vina sudah membuat dirinya, keluarganya bahkan perusahaan nya dalam masalah besar. Karena terlalu mencintai Jodi dulu dia begitu menurut dan mengikuti apapun yang di katakan dan di inginkan oleh Jodi.
"Aku memang sudah tahu kalau kamu itu sangat bodoh saat pertama melihat mu...!"
"Terserah, sekarang aku mau tanya, apa maksudmu aku harus pura-pura baik dan tidak tahu apapun tentang hubungan Caren dan Jodi?" tanya Vina pada Jodi.
"Tuh kan, kamu memang bodoh. Tentu saja kamu harus bersikap biasa pada mereka, bilang saja kamu meminta aku menikahi mu untuk memberi hukuman atas apa yang aku lakukan ..!" Adam menjeda ucapannya dan tertunduk sejenak.
Vina hanya diam, dia sebenarnya sangat tidak suka kalau membahas masalah kecelakaan itu lagi. Dia hanya bersandiwara di depan ayah dan ibunya kalau dia sangat tegar. Padahal dia juga sangat sedih dan rapuh ketika mengetahui dirinya tak lagi bisa menjadi seorang ibu. Dia merasa tidak akan bisa meneruskan lagi nama Rahardja, itu pasti menyakiti ayahnya. Dan apapun yang menyakiti ayah dan ibunya, itu akan lebih menyakiti Vina.
Tapi demi ayah dan ibunya juga, dia bersandiwara seolah hal itu bukan hal besar yang harus terus di sedihkan. Padahal dirinya adalah orang yang paling sedih dan kecewa akan hal itu.
Adam kembali melihat ke arah Vina yang hanya berdiri di dekat jendela sambil menatap nanar ke arah luar jendela. Adam berdiri dan berjalan perlahan mendekati Vina.
__ADS_1
"Aku minta maaf...!" ucap Adam membuat Vina langsung menoleh ke arahnya.
"Vina, seharusnya aku mengatakan semua ini sejak awal. Aku minta maaf karena apa yang kulakukan, kecelakaan itu terjadi dan kamu harus kehilangan... maksudku karena ulahku, kamu tidak bisa lagi menjadi ibu. Aku sungguh minta maaf...!"
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Aku sudah bilang kan kalau itu bukan masalah...!"
"Aku tahu kamu tidak sekuat itu Vina, bagaimana pun juga suatu saat jika kamu membutuhkan bantuan ku lagi maka... aku pasti akan berusaha membantumu!" ucap Adam menyela apa yang ingin Vina katakan.
Vina menatap Adam yang juga sedang menatapnya. Mereka saling pandang untuk beberapa saat, berusaha mencari tahu apa yang mereka pikirkan masing-masing. Tapi Vina kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kamu jangan banyak bicara, jangan menjanjikan benturan lain, saat bantuan mu yang ini saja belum ada hasilnya!" ucap Vina membuat Adam yang tadinya sudah mulai simpati pada Vina kembali mendengus kesal.
"Dasar wanita, kenapa kalian itu hanya bisa protes. Dengarkan aku, besok kamu ajak Jodi makan siang bersama, aku rasa kita bisa mulai rencana kita dengan membuat dua orang yang sedang bekerja sama itu berselisih!" ucap Adam.
Vina uang merasa tidak bisa melakukan hal itu berusaha memprotes rencana Adam.
"Kenapa tidak pakai wanita lain saja, jebak Jodi dan wanita itu maka Caren akan cemburu kan?" tanya Vina.
"Apa sih yang ada di kepalamu, memakai wanita lain maka rencana kita akan bocor, iya kalau orang itu bisa di percaya kalau tidak?" tanya Adam dengan nada suara yang agak meninggi.
"Lagi pula selain kamu bisa membuat Caren dan Jodi jadi bertengkar dengan kembali romantis padanya, kamu juga bisa kan mendapatkan sedikit informasi penting dari Jodi. Pintar lah sedikit!" celetuk Adam membuat Vina memanyunkan bibirnya.
Memikirkan harus mendekati Jodi lagi membuatnya sangat kesal. Apalagi terlibat dengan Caren lagi. Tapi dia harus melakukan semua itu agar perusahaan ayahnya tidak jatuh ke tangan Jodi.
__ADS_1
***
Bersambung...