Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
82


__ADS_3

Tok tok tok


Tok tok tok


Suara ketukan pintu yang terus berulang membuat ku terbangun dari mimpi buruk ku. Bahkan di dalam mimpi pun kejadian semalam terus menghantui ku. Rasanya semua tulang ku remuk, benar-benar sulit sekali saat berusaha untuk bangun. Aku berusaha menoleh ke samping, dimana Samuel masih tertidur sangat nyenyak meskipun suara ketukan pintu itu terus berulang dan berulang lagi.


'Ck... susah banget mau bergerak!' batin ku kesal karena untuk menurunkan satu kaki ku dari ranjang saja rasanya sangat berat.


"Aghk!" pekik ku ketika berusaha untuk berdiri tapi malah terjatuh.


Air mata ku kembali berlinang, melihat pakaian ku yang robek dan berserakan di lantai. Entah apa yang harus aku lakukan sekarang. Kurang dari satu tahun lagi, kami bahkan akan berpisah tapi kenapa semua ini harus terjadi padaku.


Aku bersimpuh memeluk selimut yang menutupi tubuhku, air mataku rasanya mengalir makin deras. Bukankah dia mengatakan tidak Sudi menyentuh ku meskipun di dunia ini sudah tidak ada perempuan lain lagi, tapi dia bahkan menggunakan hak nya sebagai seorang suami. Lalu bagaimana dengan ku, aku bahkan tidak mempunyai hak apapun.


"Hiks... hiks...!" aku tidak bisa menahan isakan tangis ku. Hatiku sangat sedih.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu kembali muncul, aku menyeka air mataku dan mencoba untuk bangkit berdiri. Dengan berpegang pada tepi kasur, aku berusaha bangun dan berjalan perlahan menuju ke dalam kamar mandi setelah lebih dulu meraih pakaian dari dalam koper ku.


Beberapa saat kemudian, aku keluar dari dalam kamar mandi dan merapikan rambut ku. Saat aku menoleh ke arah tempat tidur, Samuel masih tidur dengan pulas masih dengan posisi yang sama seperti ketika aku masuk ke dalam kamar mandi tadi.


Aku mengikat rambut ku dengan sembarangan lalu berjalan perlahan ke arah pintu kamar dan berusaha untuk membuka pintu yang sejak tadi di ketuk oleh seseorang.


Tak terpikir lagi mau mengintip dari lubang kaca kecil yang ada di pintu, karena orang yang diluar itu terus mengetuk.


Ceklek


Seorang wanita cantik yang seperti nya aku pernah melihatnya, tapi aku lupa dimana. Dia terkejut ketika melihat ku. Tapi sepersekian detik kemudian dia menunjukkan ekspresi kesal dan bertanya.

__ADS_1


"Ini kamar Sam kan?" tanya nya padaku.


Tapi belum juga aku menjawab, perempuan itu mendorongku ke arah samping, dia berjalan melewati ku begitu saja. Dia berhenti ketika melihat Samuel yang setengah telan*jang di atas tempat tidur. Itu benar, Samuel hanya menyelimuti bagian bawahnya saja, bahkan hanya sebatas lututnya saja.


Perempuan itu membelalakkan matanya, dia melihat ke arah Samuel lalu ke arah ku. Saat dia menatap kesal ke arah ku, aku baru ingat kalau perempuan itu adalah Caren, pacarnya Samuel.


Tapi bukannya menghampiri Samuel, perempuan itu malah mendekati ku dan menarik tangan ku dengan kasar.


"Aduh, ada apa? lepaskan!" ucap ku karena Caren menarik tangan ku dengan kuat dan mendorongku hingga menabrak sofa.


"Agkh!" pekik ku karena punggung ku menabrak sandaran sofa yang keras dan rasanya sungguh sangat sakit.


Aku meringis kesakitan sambil memegang pinggang dan punggung ku yang benar-benar seperti mau patah.


"Dasar perempuan ja*lang! apa yang sudah kami lakukan pada Samuel? berani-beraninya kamu menggoda pria ku!" bentaknya padaku.


Brukk


Aku terjatuh ke lantai, rasa sakit akibat perlakuan Samuel padaku semalam saja belum hilang, dan sekarang pacarnya datang dan memberikan rasa sakit yang lainnya lagi. Aku menangis, bukan karena aku takut. Aku menangis karena aku merasa kalau di kehidupan yang lalu atau di masa lalu, aku pasti sudah melakukan perbuatan yang begitu buruk. Meskipun itu tidak ada di dalam ingatan ku, jika tidak mana mungkin aku akan mengalami kejadian seperti ini.


Aku rasa kalau pepatah yang mengatakan sudah jatuh tertimpa tangga pula itu benar adanya. Aku saat ini sedang merasakan nya, hidupku sudah pasti akan berantakan setelah ini.


Caren terus mengucapkan kata-kata kasar, segala caci maki dan hinaan keluar dengan lancar dari mulutnya. Aku mengira Samuel pasti pingsan kalau tidak bangun juga setelah mendengar keributan ini.


Caren seperti nya belum puas hanya memaki ku, dia berjalan lagi dengan cepat ke arah ku dan menarik rambutku. Rasanya sangat sakit, seperti rambut ku akan tercabut dari kepala. Aku hanya bisa menangis, aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk melawan Caren.


"Lepaskan Naira!" teriak Samuel yang sudah dalam posisi duduk di ranjang nya.


Caren segera melepaskan tangannya dari rambut ku, aku kembali terjatuh ke lantai. Aku tidak perduli dengan mereka berdua. Aku sungguh muak. Aku merangkak berjalan menjauh dari Caren, dan bersembunyi di balik sofa.

__ADS_1


Terserah apapun anggapan mereka tentang ku aku sama sekali tidak perduli. Aku mendengar langkah kaki Samuel mendekati ku, aku menutup telinga ku, aku tidak ingin mendengarkan siapapun dan mendengarkan apapun.


"Naira, kamu tidak apa-apa?" tanya Samuel menyentuh lengan ku tapi aku langsung menepis nya.


"Sam, aku harus bicara padamu!" ucap Caren menarik lengan Samuel dan menjauhkannya dari ku.


Samuel menepis tangan perempuan itu dan memegang kedua lengan Caren dengan kuat, aku tahu itu karena Caren sedikit meringis menahan sakit saat Samuel melakukan itu padanya. Samuel menghentakkan lengan Caren itu.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada Naira?" bentak Samuel bertanya pada Caren.


"Sam, lihat yang dia lakukan padamu. Wanita ja*lang itu pasti telah menggoda dan menjebak mu kan?" tanya balik Caren.


"Diam!" bentak Samuel.


"Apa hak mu menyebut istriku wanita ja*lang? siapa yang pantas di sebut wanita ja*lang seharusnya kamu lah yang paling tahu!" tegas Samuel.


Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi aku lihat Caren langsung diam dan menunduk sedih saat Samuel bicara seperti itu padanya. Tak lama bahkan Caren telah menangis dengan terisak, dia bersimpuh di depan Samuel.


"Maafkan aku Sam, untuk sesaat aku merasa kalau kamu sudah melupakan ku dan tidak lagi memperhatikan aku, untuk sesaat aku terbuai pada kata-kata manis Kenzo, dan jatuh ke dalam jebakannya...!"


"Jebakan?" tanya Samuel menyela ucapan Caren.


Samuel mendengus kesal dan menjauh dari Caren dengan lilitan selimut di pinggangnya.


"Apakah yang kamu bilang jebakan itu seperti yang aku lihat kemarin, kamu bahkan memimpin pergulatan panas itu, apakah itu yang disebut jebakan?" tanya Samuel kesal pada Caren.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2